
Pengurus osis sedang mengadakan apel pagi sebelum mereka membuka gerbang sekolah. Hari ini akan ada kegiatan pensi tahunan yang selalu di adakan osis.
"Bismillahirrahmanirrahim. Selamat pagi, semuanya!" ucap Bambang, menjadi ketua panitia acara pensi.
"Selamat pagi!"
"Oke, minta tolong kerjasama semuanya. Tim in, stage, backstage dan out di mohon kordinasikan dengan baik!"
"Dan di mohon, selalu membawa ponsel! Saya tekankan lagi, membawa ponsel! Jangan sampai, saat event di mulai ada alasan ponsel ketinggalan!"
"Saya mengingatkan kembali, untuk tim in di mohon untuk mengecek dengan benar tiket yang masuk. Tim out mengecek dengan kendaraan yang keluar masuk sekolah. Tim stage dan back stage karena kalian inti, di mohon mengecek dengan benar semua kelengkapan!"
"Jangan buka pagar gerbang dulu, sebelum semua di nyatakan siap 100persen. Paham semua!"
"Paham!"
"Oke, sebelum acara di mulai mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, berdoa mulai!" Mereka semua serentak mendukkan kepalanya.
"Aamiin. Semoga sukses acara semuanya, salam osis!"
Mereka pun bubar dengan pekerjaan mereka masing-masing. Juminten, Mala, Resti dan Mona bagian tim in. Mereka pun bersiap berdandan. Karena, tim in harus cantik saat menyambut siswa yang masuk selain mengecek tiket masuk.
"Gila, lu cakep amat Jum!" ucap Resti melihat Juminten berdandan ala kadarnya.
Aura kehamilan Juminten mulai terpancar. Padahal, Juminten hanya menggunakan make up simple berupa foundation, bedak tabur dan lipcream. Sudah membuatnya tampak sangat cantik.
Lalu, apakah Bambang sudah mengetahui perihal kehamilan istri? Jawabannya belum. Juminten masih menutup rapat kehamilannya.
"Kalau aku, cantik nggak?" pertama kalinya Mala melepas kacamatanya. Rambutnya yang di urai menambah kesan cantiknya.
"Ini, Mala?" Juminten memegang wajah sahabatnya.
"Iya, ini Mala!"
"Ah, masa! Coba aku cubit!" Juminten mencubi pipi Resti.
"Au! Sakit anj*r...! Yang lu cubit ya pipi lu sendiri, kenapa malah pipi gue!" omel Resti sambil mengelus pipinya.
"Elah, sorry umi! Sorry! Sengaja! " Mengelus-elus wajah temannya.
"Oi, adek kelas buruan! Nggak usah sok kecakepan! Muka standart aja caper!" teriak Mona dari luar kelas.
"Iya mumun, sabar! Kita juga belum sungkem dulu sama mbah penunggu sini!" Juminten berjalan ke pojokan kelas yang mereka pakai.
"Mbah, doain acara pensinya lancar, ya!" Juminten lalu berjalan menghampiri temannya kembali.
"Heh, jangan bikin gue merinding!" Mona memegang bulu kuduknya yang berdiri.
"Makanya, jangan suka julid sama adik kelas, khususnya Jumi! Gini-gini, Jumi salah satu cucu kesayangan mereka. Tau sendiri kan, kalo mereka marah bakal nyerang dengan cara apa?"
Juminten lalu berjalan mendekati Mona, "Bukan pakai kesurupan, tapi cukup bikin dia nggak tenang hidupnya. Udah, gitu aja! Simple, kan! Makanya, Don't judge by cover!"
Juminten and the genks pun meninggalkan Mona sendirian di dalam kelas. Dengan menutup pintu sangat kencang.
Brak!
"Han-Han-Hantu...!" Mona berteriak keras sambil membuka pintu, naasnya pintu tak bisa di buka.
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dor!
"Oi, yang di luar tolong gue! Gue ke kunci di kelas!"
Dor!
"Tolongin gue!"
"Tolong!"
"PLEASE, SIAPAPUN TOLONG GUE!"
Brak!
"Mumun, di cariin malah di sini! Bukannya tadi nyuruh keluar? Gimana sih?" gerutu Juminten.
"Gue ke kun-ci be-go!" Mona masih mengatur nafasnya, terlihat dadanya naik turun.
"Hah? Ngaco! Udah jelas-jelas Jumi buka pintu lancar-lancar aja. Udah, ayo buruan ke depan!"
Mona yang masih mode lemasnya berusaha menguatkan kakinya untuk berjalan, Juminten yang ada di belakangnya tertawa terbahak-bahak.
Rasain, lu! Makanya jadi kakak kelas jangan songong! Anda salah cari musuh!
Flashback
Brak!
Juminten yang sudah mengambil kunci pintu kelas yang mereka pakai, segera mengunci pintu tersebut. Sebelum kakak kelasnya yang cantik nan njeliteng keluar dari kelas.
"Han-Han-Hantu...!" pekikan keras Mona membuat Juminten tertawa cekikikan.
Kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya menonton tingkah jail Juminten. Dan korbannya sekarang kakak kelas centil mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
"Oi, yang di luar! Tolong gue! Gue ke kunci di kelas!" beberapa pengurus osis yang lewat akan membuka pintu, namun di aba-aba tangan Juminten agar pergi.
Dor!
"Tolongin gue!"
"Tolong!"
Resti dan Mala yang sudah risih dengan teriakan Mona mengode Juminten untuk membuka pintunya. Namun, Juminten menggelengkan kepalanya.
"PLEASE, SIAPAPUN TOLONG GUE!"
"Udah, buka aja Jum. Ayo, udah mulai aba-aba tuh sekretaris osis suruh ke depan gerbang, yuk!" ucap resti dengan suara pelan.
__ADS_1
Juminten pun membuka kuncinya dengan pelam. Lalu membuka pintunya dengan keras.
Brak!
"Mumun, di cariin malah di sini! Bukannya tadi nyuruh keluar? Gimana sih?" ucap Juminten dengan menahan tawa.
Flashback End
Mereka segera menuju ke depan pintu gerbang. Meja yang sudah tertata rapi, segera mereka tempati.
"Oke siap, ya! 1 2 3! Salam osis!" teriak Bambang di depan gerbang.
Lautan manusia sudah menyambut pintu gerbang. Tim out segera bekerja untuk mengamankan satu persatu siswa juga orang luar yang ikut meramaikan pensi.
Bambang yang masih mengawasi pintu masuk, kaget dengan Mala yang tiba-tiba melewati depannya dengan membawa snack untuk panitia. Tak bisa di pungkiri, melihat Mala melepas kaca mata dan berdandan sangat cantik membuatnya terpesona.
"Tumben mau dandan?"
"Iya, katanya suruh dandan. Tadi di dandanin Juminten sama Resti. Kenapa nggak pantes ya, Bang?"
"Pantes. Cantik, kok!" membuat Mala tersipu.
Sedangkan Juminten sibuk dengan bagiannya, mendata juga mengisi kertas kehadiran peserta yang ikut meramaikan pensi.
"Jum, udah punya pacar belum?" membuat Juminten menoleh ke arah suara. Lelaki berpewarakan tidak tinggi namun tampilannya sangat manis. Sepertinya,. dia kakak kelasnya.
"Sudah, kak." Juminten dengan nada kalemnya.
"Kapan putusnya?" membuat Juminten kaget.
"Kenalin, aku Dafa. Anak kelas dua belas ipa satu." lelaki tersebut mengajaknya berkenalan.
Bambang tiba-tiba menyambut tangannya, "Aku, Bambang! Cowoknya!" Juminten tersenyum melihat suaminya bagai seorang pahlawan yang membantunya dari godaan pria.
"Oh, sorry bro! Gue nggak tahu!"
"Nggak papa bro, sans aja!"
"Oke, duluan ya!"
Juminten yang melihat tampang badmood dari suaminya, hanya bisa mengelus tangannya. Lalu melanjutkan kembali tugasnya. Dan kegiatan mereka seperti itu, sukses membuat fans Bambang patah hati.
Mala meremat tangannya, lagi-lagi dia iri dengan kemesraan mereka yang selalu di umbar. Bahkan, Juminten sukses merebut semua perhatian yang biasanya Bambang curahkan untuknya.
Hmm.. Andai aku dulu nerima jadi pacarnya, Abang. Pasti, aku yang akan di perlakukan istimewa sama abang.
Acara band pendukung, juga penampilan lainnya sukses hingga waktunya istirahat siang.
Juminten membawa jatah makan siang untuk suaminya, berbarengan dengan Mala yang sudah mengambilkannya.
"Sorry, Jum! Ku kira tadi kamu sholat dulu, makanya Abang aku ambilin dulu!"
"Owalah, iya. Nggak apa-apa! Yuk sini, kita makan bareng! Tapi, no bahas masalah yang dulu ya! Kita bahas masalah yang akan datang aja. Karena, Jumi nggak kenal kalian pas SMP! " ultimatum awal Juminten sukses membuat mood makan Mala turun.
Membuatnya memilih menjauh dari pasangan tersebut. "Aku sholat dulu, ya! Bye!"
"Oke, bye!" Juminten pun melambaikan tangannya.
__ADS_1