
Sinta di buat terkejut, merasakan punggungnya sudah merasakan rasa dinginnya tembok. Membuatnya tak bisa berkutik untuk berpindah tempat.
Pria di depannya terlihat menyeringai, menatap nyalang seperti seekor mangsa yang sudah siap dia terkam. Tubuhnya semakin merapat ke arah mangsanya.
Tangannya terulur memegang dagu Sinta. Meremat keras rahang wanita tersebut dengan tangan kanannya. Membuat tak bisa berkutik lawan bicara yang terlihat lemah di matanya.
"SUDAH BERKALI-KALI KU BILANG! JAUHI ANAKKU!"
Duak!
Sinta menendang tepat di bagian pusat saraf kejantanannya. Dengan senyuman mengembang, Sinta melirik remeh pria di depannya. Tangannya pun berusaha menghapus jejak tangan pria itu.
"Kenapa, sakit? Kalau perlu, ku patahkan tulang sel*ngk*ng*nmu sekalian!" Ucapnya sambil melirik arah bawah pria tersebut.
Pria itu kesakitan, terlihat tingkahnya menahan rasa nyeri di bagian vitalnya. Seperti cacing tanah yang tersiram larutan garam, dia mencoba berdiri juga menjongkokkan tubuhnya. Berharap segera hilang rasa nyerinya.
"Asal anda tau ya, secuil saja saya tidak membutuhkan cara kotor untuk mendapatkan perhatian anak anda!"
"Saya juga tidak suka dengan kelakuan anda!" Menunjuk wajah pria di depannya. "Selalu menganggap saya sebagai biang kerok dari semua masalah ini. Asal anda tau juga, disini saya juga korban!" Sambil mengarahkan telunjuk ke dadanya.
Rena yang baru bangun tidur, dikagetkan dengan keberadaan ibunya yang hilang.
"Ibu Miss, Ibu Sinta kemana?"
"Can, cari emaknya nih. Anterin gih gue pewe." ucap Juminten. Dan di jawab jempolan tangan.
"Biar di antar Om Candra kesana, ya."
Dari kejauhan, Rena mendengar suara Ibunya sedang marah-marah dengan papanya segera berlari memeluknya. Candra pun ikut masuk ke dalam ruangan, untuk menjadi penonton acara serial drama pertengkaran.
Emosi Sinta yang meledak, hilang dengan sekejap berganti dengan senyuman. "Eh, udah bangun sayang? Maaf, ya suara ibu menggelegar."
"Gila! Si tomboy beneran pinter momong anak. Gue kira bercanda!" Candra menyaut dengan suara berbisik keras.
"Ssst..! Mari kita nikmati drama ini bersama-sama. " Jawab karyawan yang ada di sebelahnya.
Papa Rena kembali terlihat emosi, lagi-lagi anaknya lebih memilih orang lain daripada papanya sendiri. Padahal, jelas-jelas dia ada di dekat Sinta.
__ADS_1
"Lihat kamu! Apa masih kurang tuduhanku? Anakku saja mengacuhkanku setiapa kamu di dekatnya! "
Sinta menutup kedua telinga Rena. Sepertinya, papa kandung dari Rena memang tak pernah lelah mencari masalah dengannya. "Cih, apa kau tak sadar diri atau bagaimana? Kau berani membentakku di depannya."
Pria ini semakin di buat emosi, kalau tak karena alibi mama nya meninggalkan anaknya disini. Ia tak akan sudi berada di dalam 1 ruangan bersama wanita depannya.
Sedangkan tersangka pembuat onar, asik merekam pertengkaran mereka dengan kamera ponselnya di balik jendela ruangan.
"Sekali lagi kau bikin rusuh di kehidupanku, aku nggak sia-sia hajar muka sok tampanmu itu dan mencabut semua gigimu! Percuma kau lulusan luar negeri, tapi otakmu tetap dungu!" Sinta bersuara pelan dan menekan setiap katanya. Dibuat emosi setiap kali menghadapi pria di depannya.
Udin dan Rohaya segera masuk ke dalam ruangan CCTV, mendengar kabar karyawan tomboy nya sedang bermasalah dengan tamu toko.
Assalamualaikum!" Ucap mereka berbarengan
"Waalaikumsalam!" Semua karyawan yang ada di ruangan tersebut, segera mencium tangan bosnya.
"Loh, Pak Dodit! Apa kabar, bapak?" Udin menjabat tangan Papa Rena dan dibalasnya.
"Ah, apa Pak Udin owner di toko ini?"
"Iya, Pak Dodit toko ini milik saya. Mari kita duduk di sofa ruangan saya, pak. Biar enak untuk mengobrol. Silahkan!" Udin mengarahkan ke ruangan yang ada di samping kanannya.
" Saya sebelumnya meminta maaf, bila Mbak Sinta pernah punya salah dengan bapak." ucap Udin.
"Iya bapak, saya juga sudah bosan memaafkan dia. Oh ya, Saya ingin menanyakan. Kenapa toko anda memiliki grade rendah untuk bertutur dan bicara? Dan karyawan layaknya preman seperti dia. "
Sinta yang mendengar ungkapan lelaki di sampingnya, segera menginjak sepatu yang dia pakai. "Ehehehe, maaf boss." Dia melupakan bosnya yang ada di depannya.
"Papa, jangan sakiti tantenya!" Rena ikut menatap tajam ayahnya.
Seketika Sinta di buat menawahan tawa, melihat Rena malah menyalahkan papanya. Rena pun turun dari kursi dan berlari ke Dodit.
Benar ucapan pepatah 'Sejahat-jahatnya harimau, tak akan menelan anaknya sendiri'. Pria itu tersenyum senang, ketika anaknya berlari padanya, lalu memeluknya erat.
"Papa cari Rena?" Rena mengelus punggung papanya.
"Iya sayang, kamu tadi ngapain aja selama disini?" Mendekati anaknya, lalu mengelus baju anaknya yang terlihat kotor karena bekas sisa kue kering yang di makan tadi siang. "Tuh, bajunya kotor!"
__ADS_1
Mereka diam dengan kegiatan mereka masing-masing. Rena yang sibuk bermanja dengan papanya dan Sinta yang menata kembali seragamnya agar rapi.
Rohaya yang berjalan di belakang tubuh Sinta, segera menjewer telinga kiri karyawannya. Rasanya emosi tiap hari menghadapi tingkahnya.
" Au.. Au.. Ampun nyonya Rohaya! " Rohaya segera melepas jewerannya.
"Lu ngapain sih, cari musuh? Kapan hari sama preman. Sekarang, sama tamu toko. Lama-lama nih rambut ku pasangin wig, biar sadar kalau lu tuh cewek!" Rohaya memegang rambut Sinta.
Sinta pun di buat salah tingkah di depan bosnya. "Hehe.. Kalau dulu kan nyonya tau sendiri, kalau bos mereka ngelamar saya tapi mode paksa. Bikin anak panti takut."
"Terus yang ini kenapa? Lu yang ngelamar dia tapi lu yang maksa?"
"Ih, jijay jodoh ma dia. Muka doang kayak cina tapi otak primitif. Duh, denger nyonya bahas perjodohan jadi pengen nonjok itu orang lagi." Sambil melirik pria di sebelahnya.
"Ayo terusin aja lu ribut. Sampe lu jadi abu juga nggak bakal kelar itu masalah!" Udin ikut menyaut.
"Ampun, iya nyonya dan tuan! Ampun, nggak nakal lagi. Janji!"
"Ngapain mak, jewer si srintil tadi. Salah apa dia?" Juminten berjalan masuk ke dalam ruangan. Mengacuhkan Dodit yang sedang menatap memujanya.
"Ini juga, udah tau hamil tapi bibir nggak pernah bisa di filter. Itu bibir kalau sikat gigi, bersihin juga. Biar yang keluar nggak campur sama virus!" Rohaya pun menjewer telinga anaknya.
"Astagfirullahaladzim sakit, mak! Jaga image dikit napa, masa anaknya di jewer depan karyawan."
"Kalau manggil itu yang bener, srintil srintil. Emak dia ngasih nama bagus-bagus Sinta. Amit-amit tuh perut, biar nggak mirip elu!"
Tanpa berpamitan, Sinta meninggalkan ibu dan anak yang sedang adu pendapat di dalam ruangan. Setiap melihat adegan mereka, rasa irinya selalu timbul. Seumur hidup tak pernah merasakan kasih sayang Ibu maupun Ayah, membuatnya menjadi pribadi dengan mental kuat dan selalu memendam masalahnya sendiri.
Grep!
Pelukan hangat seorang perempuan menyambutnya saat keluar ruangan. Mama Dodit selalu menjadi tempatnya mencurahkan perasaan, setelah ibu panti.
"Menangislah, nak. Ayo jangan ditahan tangisanmu." Sinta menganggukkan kepalanya dan menangis tersedu.
Rohaya dan Juminten yang mendengar suara teriakan tangisan seseorang menghentikan perdebatan mereka dan segera keluar dari ruangan.
Terlihat semua karyawan di buat tercengang melihat aksi menangis petinju wanita.
__ADS_1
"Jumi nggak nyangka, ternyata semua cewek juga pasti menangis.
"Sst.. Berisik lu! Dengerin dulu tangisan Sinta, suaranya merdu nih powernya pake cengkok!"