
Sinta yang sedang memeluk posesif tubuh Neneng, mengabaikan tatapan cengo semua orang yang ada di dalam ruangan. Sosok garang dan bar-bar yang ada di diri Sinta semuanya hilang, berganti menjadi sosok Sinta yang cengeng dan manja.
Rohaya yang merasa haus, mengambil minum di depannya. Bola matanya seakan ingin loncat melihat sosok di depannya. Semburan air tak bisa ia tahan, keluar sudah dari bibirnya.
Bbbrrr!!
"Ih, emak! Astaghfirullah.. nyebut! Ngapain coba sembur-sembur, entar tamu yang di depan kita ngirain emak titisan dukun, loh!" omel Juminten.
Juminten pun segera membantu emaknya membersihkan semua bekas cipratan airnya, menggunakan tisu yang tersedia di atas meja.
Rohaya yang hanya memiliki sifat luas kesabaran hanya beberapa meter, menatap horor sang tersangka utama yang ada di sebrangnya. Mengacuhkan sosok Bu Neneng yang duduk manis di sampingnya.
" Pak Dodit naksir anak saya?" tuduhnya.
Semua orang di dalam ruangannya mengalihkan pandangan menatap Dodit dan sukses membuatnya salah tingkah.
Dodit pun menggaruk tekuk belakang rambutnya yang tidak terasa gatal. Ditatap tiba-tiba seperti itu, membuatnya nervous.
Dirinya mencoba menguras otaknya untuk menjawab pertanyaan Emak Juminten. Namun, hasilnya gagal. Otak cerdas yang selalu ia banggakan, sudah terkontaminasi dengan sosok pesona Juminten.
"Emm.. Juminten terlihat seperti wanita dewasa dengan dandanan yangโ"
"Saya mohon jangan, pak!" Dodit terkaget dengan jawaban Rohaya.
"Alhamdulilah." ucap spontan Neneng. "Ngapain lirik-lirik ke mama? udah bener itu ucapan bu Rohaya. Kamu emang nggak pantes sanding sama Juminten! "
"Maksudnya apa ya, bu?" Nampaknya Udin salah tangkap dengan ucapannya.
"Aduh, gimana ya?" Neneng yang di tatap mereka serentak, menjadi ikut bingung untuk menjawabnya.
"Soalnya, papa mau nikah sama Ibu Sinta! Bener gitu kan, nek?" jawab Rena.
Dia pun akhirnya lega, Rena bisa menyelamatkannya. "Pintar cucu, nenek!" Neneng mencium pipi cucunya.
"Mam, sampai kapanpun Sinta nggak mau nikah sama bapak-bapak kayak dia! Udah jahat! Judes! Ganjen pula! " Ucapnya sambil mencibikkan bibir ke arah Dodit.
"Kamu kira, saya mau nikah sama jagoan kampung kayak kamu!" Dodit pun berdiri dari duduknya, menantang sang jagoan.
"Saya nggak tanya!" jawabnya santai.
Brak!
Dodit kembali emosi dengan pertanyaan Sinta. Bahkan, semua ucapannya bertolak belakang dengannya. Gadis ini benar-benar menguji kesabaran juga mental nya.
"Apa? Nantang! Muka biasa aja songong! " Sinta iku berdiri dari duduknya dan maju ke depan Dodit.
__ADS_1
"Kamu kira kamu cantik, hah? Sadar! Tak ada secuilpun kecantikan ada dari kamu!"
"Heh!"
Melihat Sinta sudah mengepalkan tangannya membuatnya was-was. Udin pun segera berlari menjadi penengah di antara mereka. "Sabar! Sabar! Ayo ngobrol yang baik! Duduk!"
"Maaf, sebenernya mereka ada apa? Saya perhatikan mereka tidak pernah bisa akrab." tanya Rohaya.
"Sebenernya nggak ada apa-apa, bu. Hanya salah paham antara mereka berdua. Rena terlalu sayang dengan kakak asuhnya dan memanggilnya Ibu Sinta. Meskipun papanya ada di dekatnya. Hanya kecemburuan ayah kepada orang lain."
"Kan mama dah pernah Dodit bilangin, itu cewek udah kotorin otak Rena! Dia nggak sebaik yang mama kenal!" Dodit menunjuk wajah Sinta yang terhalang bahu Udin.
"Sabar dulu.. Sinta emang racunin gimana?"
"Udah Rena disini aja sama ibu, nggak usah sama papa!" ucap mereka kompak.
"Ciye..ngomongnya aja kompak!" goda Juminten.
"Aku tuh ngucapin itu, biar Rena sama aku. Nggak gangguin dia yang asik videocall sama cewek-cewek sipitnya diluar negeri. Yang mesti pamer pusar sama pahanya, dan hal itu ditunjukin selalu ke Rena!" Sinta menunjuk balik Dodit.
"Tau ah, Jumi mau ke Dokter Kandungan. Papayo semua.. Selamat pusing-pusing..Assalamualaikum! "
๐๐๐๐
Juminten : [Jangan sampe ad drama salah nyapa orang ya๐ awas aja ๐ค]
Juminten : [nahloh mamvus, sederetan baju kuning jingga berjejer di tempat dudukq๐ถ kamu dimana sih, kok lama๐]
Bambang : [Q di belakangmu dari 5 menit yg lalu๐ช]
Juminten menoleh ke belakang, Bambang memasang senyuman termanis untuknya. "Kenapa diam aja, ih!"Juminten pun mencubit tangannya.
"Au.. Lah, masa aku woro-woro?"
"Sini!" Ucapnya sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Bambang pun berpindah duduk di sebelah Juminten. Tangannya terulur mengambil telapak tangan wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anaknya. Menyalurkan kehangatan tubuhnya, berharap bisa mengurangi dinginnya cuaca. Karena, hujan sedang mengguyur deras saat itu.
Juminten pun kaget melihat tangan kirinya di genggam Bambang. Kendati hatinya yang berusaha tak terjerumus untuk tidak mencintai mantan suaminya kembali, Juminten pun menarik tangan nya perlahan.
"Udah nggak muhrim. Nggak baik sentuh-sentuh." ucapnya dengan suara pelan.
Bambang tersenyum kecut mendengar jawaban Juminten. Sepertinya benteng pertahanan nya di bangun sangat kuat. Sehingga membuatnya membutuhkan waktu yang banyak untuk merobohkannya.
"Kamu laper? Mau aku beliin makan?" Juminten menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku udah makan dulu tadi sama anak-anak, kamu udah makan?"
Bambang pun tersenyum mendengar pertanyaan Juminten. Pertanyaan yang sering dia baca, di setiap pesan yang Juminten kirimkan padanya. Entah hanya 1 pertanyaan itu, membuat Bambang merasa di perhatikan kembali oleh mantan istrinya.
"Nomer antrian 8 silahkan masuk ke poli kandungan!"
Juminten yang mendengar angkanya disebutkan, segera bersemangat mengajak Bambang untuk masuk ke dalam.
Cklek!
"Selamat sore, Bu Juminten. Silahkan duduk!"
"Sore dokter." Mereka pun duduk di kursi depannya.
" Loh, suaminya kok beda bu dari yang kemarin? Apa ini saudaranya?" Membuat Bambang malu, karena hari ini adalah pertama kalinya dia menemani untuk memeriksakan kandungan.
"Ini ayah si kembar dok, kemarin kakak ipar saya. Kakak dari dia." jawab Juminten.
"Ah, begitu. Baik.. mari mulai saya periksa kandungannya."
Juminten segera berbaring di atas brangkar. Dokter mulai menempelkan alat untuk memeriksa keadaan si janin.
"Berat badannya berapa, sus?"
" 60 kilo, dok." jawab perawat.
"Pintar si kembar, bikin mama kamu sukses gemukan ya sayang. Ada muntahnya nggak, pak?" Bambang yang ditanya, menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.
"Untuk selanjutnya mohon bapak kooperatif dengan semua perubahan hormonal ibu, ya. Ini juga untuk kebaikan perkembangan baby yang ada di dalam kandungan."
"Maaf, dok. Kami hubungan jarak jauh. Jadi, suami kurang tahu bagaimana kondisi saya."
Bambang kembali mengagumi Juminten, dia sangat cerdik menutupi status mereka. Bahkan, dia berusaha menunjukkan hubungan mereka yang masih biasa saja di depan dokternya.
"Wah baby boy sepertinya," ucap sponten Dokter.
Juminten menutup telinganya saat mendengar kalimat dokter tersebut.
" Loh, bu Juminten kenapa kok di tutup telinganya?"
"Saya nggak pengen tahu jenis kelamin anak saya dok. Biar surprise pas lahiran,dok." Juminten masih menutup telinganya dan juga memejamkan matanya.
"Ah begitu, baik. Kalau begitu, saya periksa yang lain ya!"
"Air ketuban baik, posisi kepala juga baik. Semua kondisi baik alhamdulillah. Saya beri resep vitamin juga minyak ikan, ya."
__ADS_1