
Aku tidak akan tangisi apapun dan siapapun karena aku telah menjadi hebat dengan beban berat yang berhasil aku lewati, lalu perlahan-lahan aku sadar bahwa kamu adalah salah satu alasan mengapa aku rela tetap menunggu dan bertahan.
...****************...
"Rena.. Ibu rindu!" Sinta memeluk erat Rena, 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka berpisah.
Rena membalas pelukan Ibunya, "Rena juga rindu, Ibu bagaimana kabarnya?"
Rena menjadi sosok cantik dengan muka khas orang China di umurnya yang ke 14 tahun. Tubuhnya yang tinggi 165cm, membuat Sinta menatapnya dengan mengangkat kepala.
"Kamu di Cina bisa nelen jerapah, ya? Perasaan dulu segini deh" Sinta mengarahkan tangannya di siku lengannya, "Pas mau pamit pergi tinggalin Ibu."
Tiba-tiba Dodit memakaikan jaketnya di kaos yang di kenakan Sinta, entah mengapa melihatnya memakai pakaian seperti itu membuatnya tak nyaman.
"Apa ini?" Sinta membuang jaket yang di sampirkan, "Lagi cuaca panas kok makein jaket. Ingat ya, jangan mentang-mentang kita nggak ketemu lama lalu dengan mudahnya kamu tidak sopan kepadaku. "
Sontak Dodit menatap tajam gadis kejam di depannya, "Sepertinya dandananmu memang tak pantas kamu pakai!" Mengarahkan tangannya ke anting juga kalung yang di kenakan, "Cih! Dandanan seperti apapun tak akan pantas untukmu!"
"Wahai Ibu dan Bapak, silahkan bertengkar di dalam mobil saja berdua, karena obrolan kalian sudah membantu jiwa kepo anak saya menggelora." Ucap Juminten yang menutup telinga Bumi, karena Bumi memiliki sifat seperti dirinya dan Rohaya.
Mendengar sindiran Juminten, dengan cepat Rena menarik Ibunya untuk ke mobil.
Candra dan Eko yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera keluar dari rumah, " Masya Allah, calon jodoh datang. "Mata Candra menatap penuh damba melihat sosok Rena yang lewat di depannya.
Rena di buat bingung mendengar ucapan Candra," Om lagi ngomong sama aku? " Candra menganggukkan kepalanya, sontak membuatnya tersenyum malu," Mari, Saya duluan Om." Rena segera masuk ke dalam mobil.
" Ngaca dulu oi, anak gorila itu! Lu mau emang punya Bapak Mertua kejam kayak dia!" Juminten menepuk bahu Candra.
__ADS_1
Sontak Eko menertawakan Candra, lagi-lagi ia susah mendapatkan jodoh, "Maaf, aku pamit pulang dulu ya semua. Radit udah waktunya pulang ngaji, duluan semua. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, salam buat Mila ya," teriak Juminten.
"Ibu.. Ayo ikut ayah kerja!" Bumi menarik baju yang di kenakan Ibunya.
"Nah kan pas! Kalian jalan berpasangan semua, jadi ceritanya nanti pas nih. Janda dan perjaka, duda dan perawan." Candra tertawa terbahak-bahak sendirian. "Uhuk.. Uhuk.." tiba-tiba dia terbatuk, karena kering tenggorokannya.
"Mampus! Makan tuh sotoy! Enak aja main pasangin orang! Dasar perjaka tua!" sindir Juminten menggendong Bumi untuk masuk ke dalam rumah.
"Dasar perjaka tua!" Eka ikut memarahi Candra dan menggendong Planet masuk ke dalam rumah.
Juminten segera berdandan, diam-diam mengikuti saran yang di berikan Candra yang menurutnya tak buruk. Entah mengapa, melihat Sinta berjalan bersama dengan Eka ada sesuatu di hatinya yang mengganjal.
Di tatapnya foto mereka bersama anak-anak yang selalu ia pajang di atas meja riasnya. "Kamu hanya Abangku kan? Boleh nggak, Jumi serakah minta rasa sayang Abang buat Jumi? Sumpah Bang, Jumi kayaknya cemburu lihat Abang jalan bareng sama Sinta. Padahal lihat dia sering kesini sama Bambang kenapa Jumi biasa aja?"
Cklek!
"Masih lama nggak? Yuk keburu telat." tanya Eka.
Eka mengernyitkan dahi melihat Juminten nampak gugup saat ia tatap. Dia pun memilih mendekatinya dan berjongkok di depannya, karena posisi Juminten yang sedang duduk di meja rias, "Kamu kenapa?"
Juminten menggelengkan kepalanya, "Em.. Aku bingung, Bang." jawabnya pelan.
Eka mengarahkan wajah Juminten kepadanya, menatap matanya lekat, "Kamu kenapa? Abang mohon jangan di tutupin kalau ada masalah." Tangannya terulur memindahkan rambut yang menjuntai ke depan.
Juminten menundukkan wajahnya, berusaha menutupi rasa malu, karena telah lancang memiliki rasa ini. Menaruh hati kepada mantan kakak iparnya yang selalu memberikan waktu, juga perhatian untuknya dan anak-anak.
__ADS_1
"Udah, yuk!" Juminten pun berdiri, dan akan beranjak keluar dari kamar. Berusaha tak melanjutkan percakapan ini lagi.
Namun dirinya di buat kaget dengan pelukan Eka dari belakang, yang terasa berbeda dari biasanya. Bahkan hembusan nafas panas yang tepat di ceruk lehernya, membuat Juminten merasakan desiran halus yang sudah lama tak ia rasakan. Sontak Juminten memejamkan matanya.
Merasakan Juminten tak menolaknya, Eka mengecup pelan bahu Juminten yang terekspos karena baju off shoulders yang ia gunakan. Bau wangi lavender yang selalu memabukkan, membuat ia betah lama-lama memeluk perempuan yang ia cintai selama ini.
Eka membalik tubuh Juminten, meniup pelan wajah Juminten. Menikmati pemandangan cantik yang ada di depannya, "Bagaimana sudah tenang? Ceritakan semua ke Abang."
Sontak Juminten membuka matanya yang sudah tertutup. Diam-diam dia kecewa dengan Abangnya, berharap ia mendapatkan sebuah ciuman.
"Kamu kenapa, Jum?" Eka mencoba menahan senyumnya melihat Juminten yang tampak kecewa, dengan berharap Juminten menjawab cintanya yang tak pernah bisa dia ungkapkan dan bisa berbalas seperti apa yang ia impikan selama ini.
"Emm.. Ng-gak pa-p-a kok, Bang. Jadi nggak nih?" gagap Juminten, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi." jawab Eka, "Tapi, setelah kamu menjawab pertanyaan Abang." Eka menundukkan tubuhnya di depan Juminten.
Tubuhnya di buat bergetar melihat apa yang di lakukan mantan Abang iparnya, hatinya bersorak gembira berharap apa yang ia harapkan benar di lakukan.
Eka mengambil tangan kanan Juminten, menumpuk dengan kedua tangannya. "Abang saat ini tak punya cincin, abang juga nggak berharap jadi kekasihmu. Abang mohon, temani Abang saat suka dan duka. Berbagilah semua apa yang kamu rasakan, akan Abang ringankan masalah beratmu dan akan Abang buat kamu bahagia lahir dan batin."
Juminten menutup mata, air mata bahagia ikut mengalir turun. Tak satupun kata ia keluarkan, membiarkan lelaki di depannya mengungkapkan semua apa yang selama ini ia rasakan.
" Abang sayang kamu. Abang jatuh cinta dengan pesonamu, perhatianmu. Ah, tak hanya itu, Abang juga menyayangi semua yang ada padamu. Bolehkah Abang menemani hari-harimu dengan si kembar?"
Brak!
"Masya Allah, kalian ngapain main drama di dalam kamar? Keluar!" teriak Rohaya dengan membawa penebah kasur.
__ADS_1
Sontak Eka dan Juminten berlari keluar dari dalam kamar, menghindari amukan Rohaya, namun langkah mereka terhenti melihat tatapan Udin seperti siap meneroam mereka.
" DUDUK! JANGAN KABUR KALIAN! " Udin menatap tajam dua orang dewasa yang baru keluar dari dalam kamar.