
Entah lambium siapa yang memulai duluan, tiba-tiba dua lambium mereka bertemu dan sedang aksi saling berbelit. Mereka saling menyesap juga menikmati setiap decakan suara mulut yang berbunyi. Juminten memejamkan matanya menikmati sesapan demi sesapan yang ia nikmati, Seperti tersihir, dirinya terbuai dengan rasanya.
Ciuman mereka terlepas, takut keadaan pantai yang semakin siang pasti akan ramai. Eka mengajak masuk Juminten ke dalam mobil, membuka pintu jok dengan tidak sabaran. Juminten hanya tersenyum melihat mantan Abang iparnya terlihat sedang terbakar gelora.
Berhasil membukanya, Eka segera merebahkan Juminten di kursi, "Santai aja." Juminten pun mengelus leher Eka. Sialnya itu salah satu kelemahan pria yang ada di depannya, Eka menikmatinya dan segera menyerang kembali bibir manis yang ada di depannya.
Juminten di buat merem melek merasakan semua kenikmatan yang di berikan calon suaminya, bahkan tangan Eka sudah menyusup di balik kemeja yang ia kenakan. Memainkan gunung di balik kain tebal yang ada menyelimutinya.
Ciuman Eka turun ke bawah leher, menyesap hampir ke seluruh area tersebut. Juminten hanya bisa membalas dengan meremat rambut, sesekali mengeluarkan suara des*han tanda ia juga menikmati perbuatan ini.
"Emh.. Pelan aja!"
Kedua tangan yang asik meremat dari luar, tiba-tiba terulur membuka kaitan yang ada di punggung Juminten. "Boleh Abah buka ini,Ibu?"
Dasar setan berkedok nikmat!
Juminten merutuki lemahnya iman yang dia miliki, dengan mudahnya menganggukkan kepalanya. Mendapatkan lampu hijau dari Juminten, tanpa basa basi Eka menarik ke atas penutup gunung berwarna hijau tua.
Eka menelan ludahnya, pemandangan kulit putih dengan bulatan ranum berwarna coklat mengkilat ada di depannya. Juminten yang tidak merasakan pergerakan, mengintip sedikit dengan membuka matanya.
"Emm.. Ada yang aneh ya? Melorot ya?" Juminten mengigigit bibirnya, takut dengan kepemilikan yang dia punya.
Eka menggelengkan kepalanya, "Terlalu indah untuk di definisikan," suara berat menahan ga*rah terdengar pelan. Memilih menenggelamkan kepalanya di tengah gunung tersebut, sensasi geli mulai merajai seluruh tubuh Juminten.
Rambutnya tertekan agar sedikit lebih dalam, Eka mengikuti ritme yang di minta lawannya. Mencoba bermain mengelilingi gunung yang sedang menantang di depannya. Seakan tak ada lelah ia memutarinya.
"Oh.. ****!" ceracau Juminten merasakan basah area bulatannya saat ada yang membasahinya. Entah berapa lama mereka bermain dengan posisi tersebut, hingga mereka di kagetkan suara ketukan pintu.
"WOY! kalau pengen, main di hotel sana! Jangan disini!" teriak seorang pria bertubuh besar, melihat mobil yang parkir di pantai bergerak-gerak.
Membuat gelora yang siap memuncak surut tiba-tiba. Bukannya mereka malu, mereka malah menertawakan kelakuan mes*m yang berani bermain di tempat umum yang tidak semestinya, bahkan di dalam mobil. Juminten segera memakai pakaian atasnya yang terbuka dan membantu Eka memakai kaos yang sempat dia lepas.
"Mau di terusin? Atau kita pulang?" tanya Eka saat mobil yang dia kendarai sudah keluar dari pantai.
__ADS_1
"Pulang aja ya, Bah. Takut pulang nanti aku malah nggak bisa jalan." jawabnya malu-malu.
"Kita jemput anak-anak sekalian, ya. Sekalian ajak mereka makan, kasian Ibu belum sarapan. Eh, tenaganya udah di sedot Abah." Juminten tersipu malu mendengar godaan Eka, ia memilih menutup mukanya persis seperti Bumi saat sedang malu.
"Kita ke hotel aja, ya! Abah gemas lihat Ibu mukanya cute gini, pengen makan rasanya. Biar nggak lepas dari Abah!"
"Ih, mes*m malah ketagihan. Ibu laporin Bapak sama Emak loh ya, biar di nikahin!" ancam Juminten.
"Alhamdulillah setuju banget aku Bu, kan enak jadi nggak lama-lama nahan. Tuh lihat Bu, dia nggak mau tidur!"
Melihat tangan Juminten akan memegangnya, sontak Eka menahannya, "Abah mohon jangan terlalu lama waktu ini, umur Abah juga sudah matang untuk menikah. Apakah aku perlu membuktikan sekali lagi bahwa aku benar-benar serius menikahimu?" ucapnya serius.
Juminten hanya diam, tak ingin melanjutkan pembahasan ini. Dia hanya ingin menikmati masa-masa mereka berdua dulu saat ini, tanpa embel-embel pernikahan.
🍓
🍓
Juminten mencium ada bau tidak beres dari tingkah aneh anaknya, mencoba menatap teman anaknya satu per satu. "Bumi tadi bikin salah, ya?"
"Tidak, Tante, " jawab mereka serempak.
Juminten mengernyitkan dahi, karena jawaban mereka tak pas di hatinya. "Lalu kenapa kalian bergerombol di sini, bukannya sudah waktunya kalian pulang?"
Planet memilih meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobil, membiarkan Ibunya yang mengatasi masalah mereka.
"Hai, Assalamualaikum anak Abah. Kok nggak salam?" Eka mengelus rambut anaknya yang terlihat sedang kesal.
"Maaf Abah, lagi kesel sama Bumi." Eka hanya tersenyum membiarkan Planet meredakan emosinya dengan bermain ponsel yang dia sodorkan.
"Bumi tadi kasi kalian kabar apa, sayang?" tanya pelan Juminten.
"Tadi kata Bumi di perut tante ada calon Adiknya," jawab teman Bumi yang memakai hijab.
__ADS_1
"Iya kata Bumi juga tahu pas tante lagi pelukan sama Abahnya kayak gini di dalam kamar," dengan polosnya, teman Bumi yang memakai pita rambut hijau mempraktekan dengan memeluk temannya yang memakai hijab.
Juminten memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing, ternyata anaknya sudah besar. Harus lebih hati-hati lagi, setiap dia ingin berduaan dengan Abahnya.
"Mohon doanya aja ya sayang, yaudah Bumi pamit pulang dulu ya. Maaf duluan semua." Juminten segera menarik gemas tangan putrinya.
Mengingat Eka yang sedang duduk menunggunya di mobil, Juminten memilih menghubungi mantan suaminya dengan duduk di bangku taman sekolah untuk menjaga perasaannya.
"Pasti lapor Ayah!" terlihat Bumi mengerucutkan bibir, melihat Ibunya sedang menyambungkan telpon, namun hingga beberapa kali Bambang tak menjawab panggilannya. Akhirnya ia segera masuk ke dalam mobil.
"Kok lama sih, Bu?" omel Planet yang sudah mulai bosen dengan ponselnya.
"Ada masalah apa sayang? Kok cemberut gitu?" tanya Eka sambil memasangkan sheatbelt.
"Tanya Planet aja, Ibu kesel sama Bumi! Tiap hari ada aja masalah yang dia bikin!" jawabnya kesal.
"Nggak mau, Planet juga kesal sama Bumi!"
Melihat keadaan kedua orang kesayangannya, Eka mencoba menengahi dengan menghadap ke belakang.
"Bumi, bisa tolong ceritakan semua ini kenapa? Ayo sayang, nggak baik bikin Ibu sama Planet marah-marah." Eka mengelus rambut anaknya.
"Bumi cuman bilang, kalau Bumi mau punya adik. Soalnya kemarin sore, kita tau pas Ibu di peluk sama Abah di dalam kamar. Kenapa semua malah marah-marah sama Bumi?"
Eka menelan ludahnya, ternyata masalah ini berlanjut hingga ke sekolahan.
"Bumi ingin punya adik?" Bumi menganggukkan kepalanya. Terlihat matanya mulai mengembun, ingin menangis hanya dengan kedipan mata.
"Doain Abah sama Ibu lancar ya sayang, biar cepat bikinin Adik buat Bumi juga Planet." jawab Eka sambil mengelus rambut anaknya.
Tangisan Bumi pecah, dengan cepat Planet memeluknya. "Sabar, Ibu pasti kasih kita Adik cepat. Planet juga pengen punya Adik, tapi kita harus sabar."
Juminten tersenyum melihat keakraban kedua anaknya.
__ADS_1