Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 76


__ADS_3

Sinta masuk ke dalam kamar Kakaknya dengan mengendap-ngendap, terlihat Bambang masih tidur bergulung selimut padahal matahari sudah terbit.


"Bangun oi!" Bambang di kejutkan suara teriakan Sinta di telinganya.


"Kebiasaan!" berusaha membuka kelopak matanya yang susah untuk di buka.


Bagaimana dia tidak merasa mengantuk, baru saja pulang dari klub jam 3 pagi. Dan sekarang dia harus di paksa bangun jam 6 pagi.


"Ada apa, Dik?" Sambil menutup bibirnya yang terbuka lebar karena menguap.


Sinta hanya cengar-cengir menatap pria tampan yang dia anggap sebagai kakak, "Semalam kakak kemana? Pas aku ke Klub kok nggak ada?" alihnya.


Sinta ingin menceritakan unek-unek yang ada di dalam pikirannya, namun dia urungkan untuk saat ini.


Spontan Bambang menutup bibir ember Sinta, "Jangan keras-keras nanti Ibu denger pasti marah!"


Spontan Sinta memukul lengan Bambang, "Dasar penakut lu!"


Bambang hanya bisa merutuki Adiknya yang lari keluar dari kamar dan kembali melanjutkan tidurnya.


Sinta pergi membantu Ani yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Melihat tatapan sendu anak asuhnya, Ani mengelus tangannya.


"Ibu bakal baik-baik aja, jangan banyak pikiran, " air mata yang ia tahan akhirnya luruh sudah, teringat surat diagnosa yang tak sengaja tertinggal di kamarnya. Hati anak mana yang tak sakit membaca nama yang tertera adalah Ibunya.


Tertulis diagnosa mengidap penyakit jantung dan Sinta tau semua faktor ini, karena tak ada relawan yang membantunya untuk merawat anak-anak.


Hanya Bambang dan dirinya saling membantu untuk mengurus anak-anak, Sinta yang pulang bekerja Sore Hari akan menggantikan tugasnya di Panti. Dan Bambang yang pulang bekerja Subuh, juga akan menggantikan tugas Sinta saat ia bangun tidur di Siang hari.


"Sinta cari pekerjaan sampingan aja ya, Bu? Nunggu jadi sales juga kalau ada event aja, hari lainnya belum ada kegiatan yang jelas." Menatap serius wajah Ibu Asuhnya.


Ani hanya tersenyum, "Ibu udah banyak makasih, kamu sudah banyak membantu Panti dari dulu. Ibu beruntung ada kamu di sini. Tolong jangan pernah tinggalkan panti saat kapanpun." Sinta segera memeluk erat Ibu Asuhnya, menumpahkan seluruh air mata.

__ADS_1


"Ibu juga makasih sama Bambang, sejak aja dia keadaan Panti semakin ramai. Anak-anak juga nggak harus tunggu kamu kalau ada perlu apa-apa. Ah, Ibu juga nggak bisa bayangin kalau Bambang menikah lagi dan tinggalkan Panti," ucapnya dengan terisak.


Terdengar suara langkah kaki anak-anak mendekati Ruang Makan, mereka segera melepaskan pelukan dan segera menghapus air mata yang tersisa.


πŸ“


πŸ“


Selama bekerja, Sinta hanya diam dan melamun memikirkan penyakit Ibunya. Melihat temannya sering kali salah membungkus pesanan, Candra segera menyenggol keras bahu Sinta.


"Lu kalau lagi sakit, mending nggak usah kerja. Udah sono ke dapur, bukannya cepat kelar nih kerjaan, malah dapat complain dari customer. Gaji kita juga nanti yang di potong Nyonya!"


Sinta hanya mengangguk lemah lalu berdiri dari tempat duduknya, membuat mereka terheran. Biasanya, dia akan marah atau membalas pukulan temannya, namun saat ini yang mereka lihat seperti orang yang tak memiliki arah tujuan untuk hidup alias pasrah.


"Lah, itu Sinta kenapa coba?" tanya Eko heran, mulutnya menganga melihat temannya keluar dari ruangan.


"Meneketehek, dari tadi diem mulu. Ngelamun mulu, kayak cewek beneran aja," jawab Candra.


Candra hanya cekikikan, melanjutkan kembali packing pesanan yang sudah masuk banyak. Hari ini pekerjaan mereka ekstra, karena hanya di kerjakan mereka berdua.


"Kalau kayak gini kapan kelarnya? Miss juga ilang!" gerutu Eko melihat resi kembali keluar otomatis. Menegakkan kembali punggungnya yang mulai terasa kaku.


"Miss lagi sama calon masa depan kencan, emang lu! Kamar terus..rumah terus..Dulu aja jaman pacaran boro-boro di rumah, baru ganti baju aja langsung lari ke warung kopi. Kalau kagak, ngruntel di rumah gue cari makan malam gratis. " sindir Candra


Eko pura-pura tak mendengar sindiran temannya, memang benar pernyataanya. Jangankan untuk keluar rumah, urusan rumah tangga juga Radit harus dia semua yang turun tangan. Dia sendiri bingung dengan keadaan Istrinya saat ini.


Sinta meneguk minuman kemasan botol rasa strawberry yang ada di dalam dapur khusus karyawan. Pikirannya melayang memikirkan kembali nasib Panti, bila tak ada sosok Ibu dan juga Bambang yang mendampinginya.


"Mikirin apa?" Rohaya yang baru pulang dari arisan mendapati karyawatinya sedang berdiri di depan kulkas, nampak sedang melamun sambil memijat keningnya.


Menyadari ada Boss nya di dekatnya, "Nggak apa-apa, Nyonya." Sinta segera menghapus air mata yang sempat keluar.

__ADS_1


Rohaya mengambilkan mangkok dan meletakkan di depannya, mengeluarkan bungkusan plastik berisi kuah berwarna kuning merah terlihat seperti pedas.


"Makan seblak aja, siapa tau pedasnya bisa bantu ilangin sedih lu. Buka sendiri ya, biar otaknya lu kasih jeda buat mikirin cara buka bungkusan ini." Rohaya meletakkan di depan Sinta.


Baru saja memegang plastiknya, tubuh Sinta melemas dan tiba-tiba hilang tenaga lalu ambruk. "Astaghfirullah! Tole cepetan ke dapur!" teriak Rohaya.


"Sin.. Sin.." Juminten yang baru pulang segera mengambil alih, mencoba menepuk pelan pipi Sinta, "Udah tau badannya panas kenapa di paksa masuk kerja coba."


Merasa ada tepukan di pipinya, ia membuka pelan matanya. Kepala yang terasa cenut dengan cahaya silau dari lampu membuatnya semakin pusing.


"Jangan di paksa bangun, udah tidur aja," ucap pelan Rohaya. "Kasih ke Sinta." Menyodorkan segelas air putih.


Sinta meneguknya dengan pelan-pelan hingga tandas, "Terima kasih."


"Mau pulang? Gue telfonin Ayahnya krucil ya, biar jemput lu," ucap Juminten.


"Nggak usah, izin merem sebentar ya Miss." Berusaha membangunkan tubuhnya dan memilih tidur di dekat teman-temannya dengan menggunakan bantal yang ada di sana.


Juminten : [Ayah, Sinta sakit. Nanti pulang kerja jemput aja, motornya biar di siniπŸ‘Œ]


"Dasar kebo!" gerutu Juminten melihat tanda centang 1 di ponselnya.


"Siapa kebo?" suara Eka mengagetkan Juminten.


"Ini Ayahnya krucil, Bah. Niatku biar jemput Sinta. Ah, biar dianter Eko aja kali ya, Abah bantuin kerjaan Ibu sebentar ya," jurus puppy eyes di keluarkan Juminten.


Eka menghela nafas, lalu menganggukkan permintaan calon istrinya.


"Sini duduk," Juminten mengode agar dia duduk di sampingnya.


Candra tersenyum kecut, melihat kemesraan mereka yang sepertinya di sengaja duduk di depannya,"Heran deh, tempat duduk di samping sini luas. Kenapa milih di depan gue coba?" gerutunya.

__ADS_1


"Makanya jangan jomblo!" jawab mereka serempak. Eko menertawakan nasib Candra yang selalu menjadi korban kemesraan teman-teman.


__ADS_2