
Sampah berserakan di ruangan mini bar rumah Dodit. Kaleng maupun botol minuman keras juga bungkus rokok, nampak menggunung. Dia memilih duduk di atas kursi, sambil menyenderkan punggungnya.
"Tuhan, izinkan aku mengulang pernyataanku dahulu. Tak akan ku biarkan sejengkalpun rasa sakit menggores di batinnya." Dodit menarik frustasi rambutnya, sambil memandang gelas sloki yang dia pegang. Hari-harinya hanya dia nikmati, dengan menghabiskan minuman keras yang ada di bar mini rumahnya.
Kriet!
Semerbak aroma alhokohol, memenuhi seluruh ruangan. Neneng membuka pelan pintu mini bar, terpampang keadaan kusut dan acak-acakan anaknya. Dia hanya bisa menangis sambil menutup mulut, menatap anak semata wayangnya yang begitu terpukul.
"Ayo ganti baju, nak. Hari ini, Sinta melangsungkan akad nikah dan kita semua di undang. Kamu tak ada niat untuk menghindarinya kan?" ucapnya pelan.
Dodit menatap wajah wanita, yang sudah melahirkannya 34 tahun yang lalu. Lagi-lagi dia gagal fokus, khayalan dia kembali melihat bayangan Sinta yang ada di depannya.
" Sinta, kamu kembali untukku? " ucapnya antusias.
Dia berusaha bangun dari duduknya, lalu memeluk ibunya yang ia bayangkan itu adalah sosok wanita yang ia sayangi. Mencium aroma tubuhnya dalam-dalam, berharap itu dapat mengobati rasa rindunya.
Neneng berusaha menggoyang pelan wajah anaknya. "Mama mohon, kamu jangan seperti ini terus, nak."
Dodit menggeleng lemah setelah sadar siapa yang dia lihat.
"Tidak, Mama. Ini adalah karma yang tepat untukku. Allah memberikanku hukuman, agar aku tak bisa bahagia dan bersatu dengan Sinta juga calon anakku. Terlalu banyak, rasa sakit yang sudah aku torehkan," jawabnya tertahan, sambil mengeluarkan bulir air matanya.
Dodit mendudukkan kembali tubuhnya di lantai dingin bar rumah. Meneguk minuman keras berupa kaleng yang tergeletak di sampingnya.
__ADS_1
Neneng menghapus sisa air mata anaknya." Kamu kuat anakku. Ingat, Tuhan tak akan memberikan masalah bila tak ada sebuah solusi yang bisa menyelesaikan masalah. Mama yakin, setelah ini kamu akan mendapat bahagia. Jangan putus asa, Nak. Cukup, jangan kau sakiti tubuhmu lagi." Menjauhkan semua minuman keras yang ada di dekat anaknya.
Dodit berusaha bangun dari duduknya, matanya yang masih berkunang-kunang dan kepala yang terasa pening, membuatnya susah untuk berdiri.
"Apakah aku perlu membantu?" tanya Eka yang tak kuasa mendengar kabar mantan musuhnya, sedang di landa kegelisahan.
"Beruntunglah kau, sobat! Kau bisa mendapatkan cintamu, sedangkan aku harus meratapi nasib dengan sendirian," racaunya.
Dodit memeluk Eka yang berdiri di hadapannya. "Tunjukkanlah sisi kuatmu, jangan lemah seperti ini. Ayo, aku antar kau bersiap, untuk menyatakan seluruh cintamu."
Tak lama, dia sudah bersiap dengan kemeja dan celana hitamnya. Melihat pantulan dirinya di dalam cermin, mata yang memerah dengan rambut yang ia sisir asal. Tak menampakkan dirinya yang selalu tampak rapi setiap saat.
Melihat itu, Eka membantu memakaikan jas hitam yang ada di tangannya."Pakai ini, kau harus nampak rapi. Apakah calon pengantin harus terlihat lusuh seperti ini?"
Dodit tersenyum smirk. "Kau salah, Bro. Bukan aku calon pengantinnya, aku hanyalah Ayah dari janin yang dia bawa. Tak hanya janin, dia juga membawa seluruh cinta, jiwa dan ragaku."
"Aku tak pernah mencintai seseorang sedalam ini, kecuali kepada anakku. Memikirkannya adalah titik kritis di mana mimpi burukku berakhir dan berubah menjadi mimpi indah."
Candra yang sejak tadi berdiri di luar kamar, memberanikan diri masuk ke dalam.
" Ka-kau! " Dodit menunjuk Candra yang sedang memasang badan di dekatnya.
" Silahkan temui cintamu, aku tak bisa memisahkan seorang ayah dengan calon anaknya. Jawabanmu tadi, sudah cukup puas untukku."
__ADS_1
🍓
🍓
Rena membantu ibunya untuk berias sejak pagi. Melihat Ibunya terlihat sangat cantik dengan kebaya merah dan perut yang sudah menonjol, membuatnya merasa sesak.
Sinta yang mengetahui ada yang di tutupi anaknya, menghentikan semua aktivitas riasnya.
"Kenapa berhenti, Ibu? Rena ingin segera menyelesaikan riasannya."
Sinta terlihat marah, melihat anaknya yang tak ingin terbuka dengannya. "Ibu bingung sama kamu, sejak awal kesini kamu sudah diam terus. Apakah ada masalah dengan Papa kamu? Ibu mohon, ceritalah!"
Dia yang tak kuat menahan air mata, segera meledakkannya. Inilah hal yang ia pikirkan sejak kemarin, terasa berat melepaskan Dodit. Semakin ia berusaha melupakan, semakin hancur hatinya.
"Tolong, jadilah Ibuku seutuhnya. Rena sayang ibu. Papa juga sayang sama ibu."
"Tidak bisa, sayang. Ibu bukanlah wanita yang baik untuk papa kamu. Ibu bukanlah wanita cantik, berkelas dengan bibit, bebet dan bobot yang jelas."
"Ibu salah paham, Papa sangat sayang sama ibu. Rena berani bersumpah, Papa sering berhalusinasi tentang ibu setiap hari."
"Terus lu gimana, Sin? Tetap sama Candra atau sama Dodit?" Juminten yang sejak tadi gemas dengan Sinta, akhirnya ikut mengomentari. "Jangan main-main sama hubungan pernikahan. Lu mau kayak aku sama kakakmu dulu? Bahagia yang menilai takarannya adalah lu sendiri, bukan orang lain."
Sinta hanya diam, tak kuasa menahan sesaknya dada. Dia tak bisa membohongi hatinya lagi, semua sudah di penuhi dengan nama Dodit.
__ADS_1
"Apa lu masih melanjutkan acara pernikahanmu?" tanya Juminten.
Mendengar pernyataan itu dia terdiam, tak lama dengan mantap ia menggelengkan kepalanya. "Aku mau batalin pernikahan ini, aku ingin hidup bahagia dengan Dodit juga anak-anakku."