
Hawa dingin yang menusuk menyapa seluruh peserta LDKS osis yang baru tiba di villa.
Anggota inti osis mulai mengarahkan seluruh peserta LDKS untuk mengikuti apel dadakan di lapangan kecil di halaman villa yang mereka tempati.
"Selamat siang semua!" sapa Rendi, ketua osis baru yang baru terpilih 1 minggu yang lalu.
"Selamat siang!" saut peserta LDKS.
"Masih semangat?"
"Masih!"
"Pertama-tama sebelum kita mulai acara hari ini, mari kita berdoa menurut agama masing-masing. Semoga acara hari ini lancar dan tidak ada hambatan. Berdoa mulai!"
Semuanya serentak mengheningkan cipta dengan menundukkan kepala.
" Aamiin. Tepuk tangan semuanya!"
Prok!
Prok!
"Acara kita yang pertama hari ini adalah memasang tenda. Untuk seluruh tim di mohon KERJA SAMANYA!"
"Saya beri waktu untuk memasang tenda selama 30 menit! Bubar barisan jalan!"
Prit!
Peluit berbunyi, semua peserta LDKS berlari menuju alat tenda yang harus mereka pasang. Mereka bekerja sama dengan baik. Tim Juminten sukses mendirikan camp mereka lebih dulu. Semua ini karena Farid sebagai ketua tim, mengarahkan tugas tiap masing-masing individu.
Prit!
Tanda waktu yang diberi panitia sudah selesai.
"Angkat tangannya semua! Berhenti melakukan semua aktivitas! Pengurus osis, silahkan cek camp mereka!"
Semua pengurus osis mengecek camp yang telah mereka dirikan masing-masing.
Juminten yang merasa bosan menunggu duduk di batu besar dekat camp. Farid yang melihat Juminten sendirian mendatanginya.
"Kenapa, capek? " tanya Farid.
Juminten menggelengkan kepalanya."Bosen aja wan. Jumi juga sambil nikmati pemandangan gunung, hirup oksigen bersih! "
Juminten menarik nafasnya, "Hmm.. Seger nya! Tau dewe Jumi mesti di kerangkeng mulu di rumah sama Emak!"
"Haha.. Kapan-kapan gue ajak jalan ke pegunungan kek gini naik motor mau?"
"Kok gue nggak di ajak? Mau kemana kalian?" Saut Resti sambil duduk di samping mereka.
" Nih, wan abut ngajak jalan ke pegunungan kapan-kapan. Ndaki kali ya! Jumi kan belum pernah ke tempat gituan haha!" jawab Juminten.
"Serius, lu gak pernah pendakian?" Farid melirik Juminten dan di jawab gelengan kepala.
"Gabung ma ekskul mapala sono!" lanjut Farid.
" Ogah, cowok semua! Bisa dikeroyok Jumi!" Juminten menutup area dadanya.
"Ngeres banget otak nih bocah!" Resti mentoyor pelan kepala Juminten.
" Hooh minta di sapu!" Saut Farid.
"Sekalian di pel ya, Kang! Kok nanggung amat nyapu doang!" jawab Juminten sambil menjulurkan lidahnya.
"Hooh, pakai molto ya Jum! Mau?" jawab Resti dan membuat yang mendengar tertawa.
__ADS_1
"Itu pewangi pakaian, woy!" jawab Farid dengan masih tertawa.
"Hooh, keliatan banget ya kalo Resti nggak pernah cuci baju!" tambah Juminten.
Resti hanya tersenyum karena memang benar kenyataannya, dia tidak pernah mencuci bajunya.
Terdengar suara pengurus osis menyerukan untuk seluruh peserta kembali ke lapangan.
"Terima kasih untuk kerja sama semua tim, Selamat untuk kalian semua tidak ada yang dapat sanksi di kegiatan pertama ini!"
Hiruk pikuk gembira terdengar dari suara peserta LDKS. Bersyukur semuanya lolos dari sanksi kegiatan pertama.
"Untuk acara selanjutnya, kita lanjutkan jurit malam. Silahkan untuk seluruh peserta, kami beri kebebasan waktu sampai jam 4 sore. Terima kasih untuk semuanya!"
Semua orang bubar, Juminten memilih berjalan-jalan di dekat vila sendirian. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dan membuat nya kaget " Eh! " pekik Juminten.
" Sstt.." Bambang menaruh telunjuk di bibir istrinya dan di balas anggukan.
"Maaf, Jumi refleks. Ada yang tiba-tiba peluk!" Juminten mengarahkan tangan Bambang di dadanya. "Tuh, Juminten masih berdebar! "
Bambang tersenyum lalu mencium keningnya, " Kok sendirian yank, yang lain kemana?"
"Sengaja nggak ngajak mereka Mas, Jumi pengen jalan-jalan sendirian. Jumi kan nggak pernah jalan-jalan ke pegunungan kayak gini!"
"Jalan sama Mas, yuk!"
Bambang menggandeng tangan Juminten dengan erat, Juminten melirik tangan yang digandeng suaminya dengan senyum lebar.
Makasih ya Allah, udah bantuin Juminten luluhin hati kakunya suami Jumi. Semoga rumah tangga kita sakinah ma waddah warahmah. Aamiin
Mereka berjalan pergi ke food court yang ada di dekat villa. Terdapat berbagai macam makanan yang tersedia.
"Mau beli makan apa, yank?" tanya Bambang setelah mendapatkan tempat duduk di lesehan.
"Jumi mi ayam aja, Mas. Kayaknya enak, cocok sama hawanya!" sambil melihat gerai mi ayam di sebrangnya.
" Mas disini aja, biar Juminten yang pesanin." Juminten bersiap berdiri. Namun, Bambang menarik kembali tangan istrinya agar duduk.
"Udah, biar Mas aja yang pesan. Kamu pasti capek." tangan Bambang terulur mengelap keringat di dahi Juminten.
"Nggak apa-apa, Mas. Mas duduk aja. Kan Jumi juga belinya pake uangnya Mas juga!" Juminten menunjukkan uang merah dari sakunya.
"Haha.. Habiskan yank! Penting kamu bahagia!" Bambang mengusak rambut istrinya.
Juminten pun memesan makanan pilihan mereka, saat kembali ke tempat duduknya Juminten dikagetkan kedatangan kakak kelas nya yang bernama Mona.
Berantas uler keket sesion 1 dimulai!
Tanpa basa-basi, Juminten yang sudah membawa baki berisi makanan menyajikan nya. Mengacuhkan keberadaan Mona.
"Eh, ngapain si bawel di mari bam?"
Bambang mengacuhkan mona dan menatap bakso yang dibawa istrinya.
"Makasih ya, Jum."
"Sama-sama, Mas." Juminten pun duduk di depan mereka dan mulai menikmati mi ayamnya dengan santai.
"Kamu adik kelas yang bawel itu kan, siapa mbang namanya? Jumi—" Mona memegang dagunya.
"Juminten, Mbak Momon!" saut Juminten.
"Weh, kurang ajar ini adek kelas!"Mona menggebrak meja pelan.
"Nama gue Mona! Enak aja ganti-ganti nama orang, mentang-mentang lu famous gitu!"
__ADS_1
Juminten dan Bambang masih mengacuhkan dan semakin menikmati makanan yang mereka makan.
"Lu kenapa duduk disini, sih? Duduk di sana napa! Kan masih banyak tempat! Ganggu aja!" gerutu Mona.
"Mas Bambang ngerasa di ganggu Jumi, nggak?" Juminten melihat suaminya.
"Nggak, Jum. Duduk aja gapapa kok!" jawab Bambang santai, sambil menikmati baksonya.
Emang enak di kacangi! Haha.. Go Juminten! Hempaskan pelakor dengan cara syantik!
"Mbang, enak nggak bakso nya? Aku incip dikit, ya!" Mona bersiap mengambil sendok di dekatnya.
"Dih, gatau malu ya Mas, udah ngambil tempat duduk orang, ndusel-ndusel nggak jelas, eh intinya minta! Bokek kali ya dia!" sindir halus Juminten sambil memakan mi ayam nya.
"Udah, makan aja! Nanti kalo tiba-tiba yang kamu makan rasanya jadi nggak enak, pesan lagi aja! Nanti, Mas yang bayar!" jawab Bambang sambil menatap Juminten.
"Ah, makasih Mas Bambang! Uh, Baiknya!" Juminten mengedipkan sebelah matanya.
"Itu bibir sama mata ada masalah? Pake kecentilan gitu!"
"Alhamdulillah, mata masih bisa 24 jam buat liat cowok cakep." Juminten mengedip-ngedipkan matanya.
"Bibir juga masih bisa buat diajak ghibah." Juminten memonyongkan bibirnya.
"So, kalo Jumi adek kelas momon kenapa?"
"Jumi dulu pas masuk sekolah juga nggak reqeuest sama kepala sekolah buat jadi adek kelas momon!" Juminten menatap Mona dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mbang, lu belain gue napa! Jangan diem aja!" Mona menarik baju Bambang.
Bambang hanya mengangkat kedua bahunya acuh, dan tetap menikmati baksonya. Bahkan, Bambang menambahkan lontong di mangkoknya.
"Emang momon siapanya Bambang?" tanya Juminten.
"Calon pacarnya!" jawab Mona dengan sewot.
Bambang yang terkaget mendengar jawaban Mona menyemburkan makanannya, hingga mengenai kaos yang di pakai Mona.
"Mbang, ih! Nyemburnya kok ke aku sih! Untung lu cakep!"
Juminten menertawakan apesnya Mona di dalam hati. Ternyata seru bermain dengan Mona, yang notabene nya ingin merebut Bambang dari dirinya.
"Lu makan lelet amat sih!" sindir Mona.
"Emang makanan ini yang bayarin situ?"
"iy-ya.. Enggak!"
"So, ya terserah Jumi gimana caranya menikmati makanannya!" Juminten menjawab dengan wajah tengilnya.
"Udah ah, ngomong sama lu bikin gue stres!"
"Jangan stres dulu, Momon. Masa umur belom 20 tahun udah stres aja. Nanti bikin cepet keriput! Akhirnya jadi perawan tua! Ups!" Juminten menutup bibirnya.
Bambang yang menjadi penonton pembicaraan mereka tertawa terbahak-bahak melihat istrinya sangat pintar menjawab semua pernyataan Mona.
"Mbang!" Manja Mona.
"Sorry Mon! Sumpah, Gue nggak tahan buat ngetawain lu! Jujur, omongan Juminten bener semua soalnya!"
Mona pun menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan food court. Juminten dan Bambang tertawa terbahak-bahak sambil melihat bayangan Mona.
"Hadeh, ada-ada aja! Yuk, sayang kita balik. Habis ini aku mau prepare acara jurit malam."
"Yuk, Mas! Tapi, Juminten bungkusin Resti ma Wan abut nasi goreng dulu, ya!"
__ADS_1
"Iya sayang, Mas tunggu disini ya!"