Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 51


__ADS_3

Saat Bambang bersiap menaiki kendaraannya, dari arah belakang punggungnya di tepuk pelan seseorang. Refleks tubuhnya pun menoleh, dan langsung menunduk melihat Udin di belakangnya.


"Ayo, gonceng bapak ke kuburan mamamu!"


Mereka pun bersama ke kuburan Dina. Terlihat, taburan bunga mawar merah masih segar ada disana. Sepertinya Eka kemarin berpamitan dahulu dengan mamanya. Melihat makam yang bersih, Udin pun langsung memimpin doa untuk almarhumah.


" Mbak Dina, maafkan aku ya. Ternyata, aku dan Rohaya gagal amanah untuk menjaga rumah tangga anak kita. Lelaki pilihan anakku sudah menjatuhkan talaknya." mata udin mulai berkaca-kaca.


"Aku sudah tak tahu lagi, bagaimana caranya menyatukan mereka. Semoga Allah memberi kesehatan pada cucu kita, bisa bahagia walau tanpa kedua orang tuanya yang bersama sejak mereka lahir." Tangannya mengaruk pelan tanah kuburan di depannya.


"Dulu, di atas tubuh mbak aku mewalikan anakku untuk menikah. Dan sekarang di atas kuburan mbak, aku mewalikan anakku untuk kembali ke tanganku."


Bambang mulai ikut menangis, menyesali ucapan egoisnya tanpa memikirkan hati semua orang yang ada di sekelilingnya. Termasuk, almarhumah mamanya.


" Mbang! " Udin memanggil Bambang namun tatapan matanya masih ke arah pusara.


" Iya, pak! "


" Bapak mohon, mulai sekarang tolong jauhi Juminten. Kamu pasti sudah tahu dari abangmu, kalau dia sempet frustasi hingga di terapi psikolog setiap hari." Bambang hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.


"Untuk masalah anak, biarlah urusan nanti. Ini bapak ada rezeki buat kamu." Udin mengeluarkan uang merah dari kantong celananya.


"Ini uang 10 juta, kamu pakai modal. Terserah kamu, kamu mau ojek lagi silahkan. Mau buka usaha silahkan."


Bambang masih dengan bengongnya karena kaget, menerima uang dari mantan mertuanya.


"Jangan anggap bapak sebagai mantan mertuamu. Tapi, anggap bapak sebagai pengganti orang tuamu sama seperti Eka juga."


Udin menatap mantan menantunya, " Bapak mohon, tinggalkan wanita yang sudah merusak tanggamu juga pekerjaanmu disini. Silahkan, kau pergi jauh ke daerah yang dekat dengan sanak keluargamu dan kembalilah saat kau rindu kami."


Bambang semakin di buat menangis, mendengar sifat baik mantan mertuanya kepadanya. Bahkan, masih menganggap sebagai anak.

__ADS_1


Bambang pun memeluk Udin."Maafkan saya, pak! Saya mohon, maafkan saya!" ucapnya sambil meraung dengan isak tangisnya.


"Sudah, yang lalu biarlah berlalu. Kamu harus sukses nak, seperti ucapmu saat mentalak Juminten." Udin menepuk bahu Bambang sambil melepaskan pelukannya.


"Saya nggak bisa sukses, pak. Saya sudah di keluarkan dari sekolah." Bambang menundukkan kepalanya.


Udin menepuk bahu Bambang. "Bisa, carilah sekolah disana pakai uang itu. InsyaAllah, itu cukup."


Bambang pun tersenyum, seakan cahaya nya yang redup mendapatkan energi sinar untuk dia terang kembali. Ucapan syukur tak lepas sedetik pun dari jeritan hatinya.


"Iya, pak. Nanti Bambang cari sekolah, sambil menunggu orang yang mau kontrak rumah." jawabnya dengan gembira.


"Urusan kontrak rumah, biar bapak yang urus. Nanti uang hasil kontrakan bapak transfer semua ke rekeningmu."


"Bapak cuman nggak mau, kamu semakin terjerumus ke arah yang salah. Ingat cerita Eka kapan hari, tugasmu mengantar jemput kedua perempuan itu dan menjadi babu mereka rasanya bapak tak terima. " Bambang menganggukkan kepalanya.


"Sudah, ayo ke rumahmu. Kita bersih-bersih juga siapin banner buat di pasang depan rumah."


Rohaya masih memeluk tubuh anaknya yang sedang berbaring di atas kasur. Memberikan elusan halus di punggungnya sambil menyanyikan lagu-lagu sholawat agar hatinya tenang.


Juminten menatap pantulan tubuhnya di dalam cermin. Tangannya terulur mengelus perutnya. Berulang kali batin nya mengucapkan amit-amit, setiap mengingat wajah mantan suaminya. Dirinya dibuat was-was juga khawatir sang anak mirip dengan ayahnya.


Cklek!


Juminten menoleh ke arah pintu kamarnya. Fatamorgananya menampilkan sosok Eka masuk ke dalam kamar, Sontak Juminten mendudukkan tubuhnya. Menunggu abangnya duduk di kursi kayu yang ada di depannya.


"Jum.. Jum.. Sadar, nak!" Tepuk halus tangan emaknya membuat jiwanya kembali. Bayangan sosok yang sedang di tunggunya hilang seketika, berganti dengan sosok bapaknya yang baru pulang dari rumah Bambang.


"Kenapa, Jum?" Udin ikut mendudukkan dirinya di samping anaknya.


Juminten menggelengkan kepalanya, "Jumi, kangen abang!" Menyandarkan kepalanya di bahu bapaknya, sambil menatap pantulan ceriman di depannya.

__ADS_1


Udin yang tau selama 4 bulan kehamilan anaknya, selalu merepotkan abangnya hanya bisa mengelus rambut anaknya. "Sabar, doain abangmu sukses nak! Disini ada emak sama bapak. Jangan sedih terus, Jum."


Srot!


Srot!


Suara Rohaya membuang ingusnya berkali-kali membuat mereka menoleh. Rohaya yang mengetahui dirinya menjadi bahan tatapan membuka suara. "Maaf, emak nangis sampe mbeler. Efek kangen cekcok sama Jumi! Lu diem kayak gini, emak berasa ngomong ma jombi."


Juminten pun kembali menaikkan kakinya ke atas ranjang. Mendekati emaknya yang sedang sibuk menghapus air matanya. Di peluknya dengan erat, tubuh orang yang sudah melahirkannya juga membesarkannya.


" Nak, sabar. Ini ujian kehidupan kita. Setelah kita berhasil lewati semua rintangan ini, pasti naik derajat kita. Kamu ndak sendirian nak, Emak sama bapak selalu ada di sampingmu." Ucapnya sambil mengelus punggung anaknya yang sedang naik turun.


Rohaya melepas pelukan, jarinya terulur menghapus air mata anaknya. "Ayo kita sama-sama sabar hadapi semua ini, kita harus semangat hari esok! Ingat, dua makhluk kecil akan datang ke rumah kita." Seraya mengelus perut Juminten.


Juminten mengangguk, sudah selesai waktunya untuk meratapi nasib. Saatnya, dia harus memikirkan masa depannya. Menjadikan pelajaran ceritanya yang lalu sebagai kenangan,lalu hidup bahagia dengan orang-orang yang menyayanginya.


Juminten mencium tangan kedua orangtuanya. "Mulai besok, biar Jumi bantu bapak sama emak jaga toko ya. Biar Jumi nggak ngelamun di rumah."


"Nah, gitu dong! Yuk, lahiran si kembar butuh duit banyak. Untung aja udah punya stok kambing buat aqiqah." ucap udin mencairkan suasana.


"Alhamdulillah, iya itu namanya takdir. Kita niatnya mau buat mantenan Jumi, eh buat aqiqah si utun. Nggak ada yang tahu nasib besok. " imbuh Rohaya.


"Stop, manggil turunan jumi dengan nama pasaran. Please call, Duo gemoy!Biar lahirnya gemoy, rezekinya gemoy. Aamiin." Ucapnya seraya mengelus perutnya.


"Sekalian aja duo bledek, biar cetar!" cibir emaknya.


"Jangan mak,duo semongko aja. Nanti joget nya kayak gini." Udin sambil mempraktekkan joget dengan membusungkan dadanya.


"Amit-amit jabang bayi lanang wedok! Ya Allah gusti, amit-amit! " Rohaya dengan latahnya mengelus perutnya.


"Eh.. Eh.. Mak! Salah arah! Harusnya ke perutnya Jumi." teriak Juminten.

__ADS_1


"Astaghfirullah khilaf, ya Allah." Sambil mengelus perut anaknya sambil komat-kamit.


__ADS_2