Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 102


__ADS_3

"Di pikir-pikir dulu, Nak. Tidak semudah itu memecahkan masalah, apalagi berurusan dengan orang yang sakit jiwa."


Rohaya sejak tadi tak ada hentinya menasehati anak, menantu juga mantan menantunya. Berat rasanya mengizinkan mereka untuk berangkat, mengingat kondisi fisik anaknya juga bisa ikut di pertaruhkan.


" Mak, tolong percaya Jumi. Di sana Jumi nggak sendirian, ada suami juga yang lain."


"Iya, Mak. Saya janji akan menjaga Juminten. Nyawa saya yang menjadi taruhan!" ucap Eka.


Ucapan mereka terjeda saat Sinta tiba-tiba masuk ke dalam Ruang Tamu.


"Permisi.. Maaf mengganggu semuanya. Tidak ada niatan untuk memotong obrolan kalian, maaf ada pesanan masuk banyak dan Eko tidak bisa masuk kerja. Kami kekurangan personil."


"Memang Eko kemana? Kok tumben dia izin, sakit?" tanya Rohaya.


"Katanya, Adik iparnya di suruh jenguk. Saya kurang tau ada apa sebabnya."


Sontak mereka saling berpandangan. Juminten segera mengambil ponselnya yang ada di meja, mencari kontak Eko di ponsel. Lalu menangis tersedu di pelukan suaminya, membuat semua orang panik.


Bambang segera merebut ponsel Kakak iparnya yang hampir terjatuh. Tertera pesan masuk permohonan maaf dari sekeluarga.


Eko : [ Assalamualaikum, Miss. Saya mewakili Mala dan sekeluarga, memohon maaf Mala sudah banyak masalah dengan Miss. Saya mohon di maafkan, saat ini dia sedang menghadapi sakaratul maut.]


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Mala sakaratul maut, Mak."


Juminten mengambil kunci mobil yang ada di atas meja, pikirannya sudah kalut. Dia ingin bertemu Mala di sisa hidupnya yang terakhir. Mengingat dia tak pernah merasakan bahagia selama hidupnya.


"JUM! JUM!" Eka mengetuk pintu kaca mobil istrinya yang sudah berjalan dan meninggalkannya.


Bunyi klakson motor Bambang menyadarkannya. Dengan segera dia naik di jok belakang.


"Langsung gas, Dek!"


"Udah, peluk aja. Kapan lagi kita bisa berpelukan, Bang. "


Eka menoyor kepala Adiknya dari belakang. Tiba-tiba otak cerdasnya bekerja, bukannya mereka sedang di jalan raya.


"Geblek! Kita nggak pakai helm, Dik. Ada polisi gimana?"


"Santai, Bang. Itu belakang udah diikuti mobil polisi. Tinggal setor SIM, tanda tangan, sidang dan selesai."


"Cih,baru kali ini aku ketemu orang tersantai dikejar sama polisi."


Tak lama, mobil polisi yang ada di belakang mereka mulai menyejajarkan motor yang di kendai Bambang.

__ADS_1


"Pengguna motor dengan plat nomer L 5238, di mohon untuk menepi! "


Eka memukul-mukul bahu Adiknya, agar segera menepi. Namun sifat Bambang yang memang cuek, dia tetap melajukan motornya dengan cepat.


"Pengguna motor merk VIAR CROSS X 200 GT dengan plat nomer L 5238, di mohon untuk menepi! "


Bambang masih melajukan motornya dengan cepat, bahkan dia dengan sengaja tidak menghiraukan lampu lalu lintas yang berwarna merah.


"Dik, gila! Gue berasa jadi kayak pengedar sabu nih. Sengaja hindari polisi, padahal cuma gara-gara nggak pakai helm."


"Udah, kita nikmati acara journey kita pada Pagi Hari ini."


Sayangnya acara petualangan menegangkan mereka, harus terhenti saat suara palang pintu kereta api berbunyi.


"Oke, mari kita buat drama kolosal."


Bambang merapikan rambutnya yang awalnya acak-acakan menjadi sangat rapi.


2 polisi, laki-laki dan wanita turun dari mobil. Eka berusaha menyembunyikan wajah ketakutannya, dengan pura-pura bermain ponsel.


"Selamat pagi, Mas. Anda memiliki SIM?"


Dengan gaya coolnya, Bambang membuka tas slempang hitam miliknya. Bukannya mengambil dompet, dia mengambil coklat yang ada di dalamnya.


Polisi wanita itu terlihat takut-takut untuk menerima coklat dari tangan Bambang.


"Ambil saja, Mbak. Ini cokelat tadi sengaja saya bawa untuk anak saya, tapi mereka sudah berangkat ke sekolah."


"Maaf, kami tidak menerima segala macam suapan dalam bentuk apapun."


"Kalau saya minta nomer ponselnya, boleh?" godanya.


Eka menepuk keningnya, saat kondisi darurat Adiknya malah bermain-main dengan hukum. Polisi laki-laki tampak mulai emosi melihat Bambang yang berkelit.


"Maaf, surat izin mengemudinya ada?"


Bambang membuka isi dompetmya dengan sengaja, layaknya orang yang sedang pamer.


"Ini SIM nya Pak, boleh saya tanda tangan sekarang? Saya harus buru-buru mengejar kakak ipar saya."


Polisi wanita buru-buru menyodorkan kertas tilang yang sudah dia tulis, "Silahkan tanda tangan di sini. Anda akan sidang pada tanggal 28 mendatang."


"Terus kalau saya melamar kamu kapan?"

__ADS_1


Eka menarik kerah leher adiknya, "Terima kasih Bapak dan Ibu, permisi."


Kali ini Eka yang membonceng motor, mengacuhkan adiknya yang masih asik melambaikan tangan.


"Gimana Bang, seleraku mantap?"


"Iya, tapi gara-gara kamu, kita ketinggalan jauh."


"Eh, iya. Aku lupa sama Juminten."


🍓


🍓


Juminten yang sudah terlebih dahulu datang, berpapasan dengan Eko yang sedang menemani Radit di taman.


"Oke!"


"Iya Miss, langsung aja ke lantai 5. Kamar rawat cempaka, cuman di huni sama Mala."


Juminten segera bergegas berlari ke lantai atas, mengacuhkan orang yang tak sengaja dia tabrak. Dia menekan lift dengan tidak sabaran, membuat orang-orang menatapnya sengit.


"Maaf, kamar rawat cempaka dimana?" ucapnya ketika sampai di lantai 5 dan melihat karyawan berbaju hijau lewat di depannya.


"Lurus aja Mbak, nanti ada tulisan ruangan cempaka."


"Terima kasih."


Seluruh tubuh Juminten bergetar, melihat lautan manusia sudah berkumpul di depannya. Mila menangis tersedu sambil menyandarkan punggungnya di tembok.


Juminten mencoba meraih tangan Mila, namun di hadang oleh petugas kesehatan yang membawa jasad seseorang tertutup selimut berwarna putih.


"Ma-maaf, itu jasad siapa?" ucapnya kepada petugas yang menghalanginya.


"Jasad Mbak Mala."


Tubuh Juminten merosot, rasanya semua tulangnya lepas dari seluruh tubuhnya. Tenaganya hilang seketika, hanya air mata yang sanggup ia keluarkan.


"MALA!" teriaknya nyalang.


Juminten Menangis tersedu-sedu sambil memukul tubuhnya, hanya ungkapan kata menyesal yang bisa dia ucapkan.


Mendengar teriakan bos suaminya, Mila segera berlari memeluk dan mencium kaki Juminten. "Aku mohon, tolong buka pintu maaf yang lebar untuk Mala. Adikku sangat banyak salah kepada, Miss."

__ADS_1


Melihat kakinya di cium oleh Mila, dia segera mengangkat tubuhnya. Mereka segera berpelukan dan menumpahkan seluruh air mata.


__ADS_2