Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 40


__ADS_3

Eka mengangkat Juminten masuk ke dalam mobil. Di kursi belakang, sudah ada Rohaya yang sudah masuk mobil terlebih dahulu. Di baringkannya pelan-pelan, tubuh Juminten. Dan Rohaya mengangkat kepala anaknya agar berbantalkan pahanya.


Mereka segera berangkat ke rumah sakit yang di rujuk. Untung nya jalanan yang sepi memudahkan Eka yang menyetir mobil cepat sampai di tujuan.


Saat mereka baru sampai di rumah sakit. Dokter kandungan juga perawat yang berjaga disana, sudah stand by menunggu setelah mendapatkan kabar dari bidan. Sehingga, Juminten mendapatkan perawatan dengan cepat dan sigap.


Juminten masih memejamkan matanya, rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk berbicara. Jangankan berbicara, untuk membuka mata rasanya dia tak sanggup. Tubuhnya benar-benar sangat lemah.


Keluarga pun menunggu Juminten siuman di ruang tunggu. Rohaya dan udin duduk di kursi sedangkan Eka duduk berjongkok di bawah. Menyenderkan punggungnya di tembok sebrang IGD.


"Kok, emak nggak suka ya sama kelakuan Bambang! Maksudnya apa, kayak gini? Ini Juminten sakit, loh! Ini juga gara-gara perbuatan dia! " Rohaya tak henti-hentinya mengumpat menantunya, mengabaikan perasaan Eka yang pasti malu mendengar kelakuan buruk adiknya.


"Mak, sabar..Ini rumah sakit." Udin mengelus bahu istrinya, agar tidak emosi. Kondisi rumah sakit yang sepi, membuat obrolan mereka menggema keras.


"Sabar gimana? Anak kita masih belum sadar, pak! Dengan enaknya dia bilang kerja. Kerja apa sih, dia? Kayak orang sibuk, aja! " ucapnya semakin menggebu.


"Eka, berapa bayaran dia kerja hari ini? Biar emak ganti 20 kali lipat! Dia pikir nyawa Juminten dan anaknya ada banyak apa!" Rohaya menatap tajam Eka yang ada di dekatnya. Membuat Eka semakin meremat rambutnya, memikirkan egois adiknya juga nasib Juminten dan janinnya di dalam.


Tiba-tiba suara pesan masuk berbunyi di ponselnya.


Ting!


Bambang : [apa sih, berisik! aku capek, bang. Ngantuk 😪]


Kesabaran Eka rasanya sudah memuncak, tangannya terkepal keras. Dia bersumpah, akan memberi pelajaran adiknya nanti saat di rumah. Mengingat Juminten dan orang tuanya masih membutuhkannya. Dan juga dia harus menggantikan sosok adik laknatnya sebagai suami yang tak bertanggung jawab.


"Permisi, keluarga ibu Juminten!" suara suster keluar dari IGD.


"Saya, sus!" Eka segera berlari menemui perawat.


"Ini, pak. Mohon, di tebus obatnya di apotek bawah. Setelah dari apotek, tolong serahkan obatnya pada perawat ya, pak. Karena, ada beberapa obat yang harus segera di minum sekarang."


"Terima kasih, sus."


Eka segera berpamitan padang tua Juminten. "Mak, Pak. Eka tinggal tebus obatnya Juminten dulu, ya." hanya di balas anggukan mereka.


Dengan cepat Eka berlari untuk menebus obat. Sambil menunggu obatnya di racik, dia memilih duduk bersandar di kursi tunggu. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak, mencari udara segar agar otaknya berfungsi jernih lagi.

__ADS_1


Eka : [F*ck! Kesini sekarang! Atau kau habis di tangan abang! Abang nggak main-main😡]


Tiga puluh menit kemudian, Juminten sudah di pindahkan ke kamar rawat yang akan di huninya selama 3hari ke depan. Plabot infus masih menempel di tangannya. Rohaya tak melepas genggaman sedetik pun dari tangan anaknya yang terbebas dari infus. Bahkan, Air mata ikut mengalir melihat anak semata wayangnya yang ceria menjadi sosok pendiam seperti ini.


"M-ak!" Ucap pelan Juminten.


Rohaya segera bangun dari duduknya, senyum dan ucapan syukur nya karena anaknya sudah siuman. "Alhamdulillah. Mak khawatir, nak." Hanya di balas senyuman oleh Juminten.


"Yang di rasain apa, nak?" Sambil mengelus tangan anaknya. "Lemes? Pusing? Badannya sakit? "


Juminten menggelengkan kepalanya. "Jumi.. La-per, mak." membuat Rohaya spontan memukul pelan tangan anaknya.


"Kurang ajar! emak khawatir kamu pingsan, nggak sadar-sadar! Eh, bangun malah laper!"


"Mak, harusnya bersyukur anaknya udah kuat makan berarti. Ingat, ada nyawa cucu kita disini." Udin mengelus bahu istrinya.


Membuat Juminten tersenyum kecut mendengar mereka membahas cucu. Orang tuanya menerima baik kehadiran cucunya. Tapi, ayah janinnya sendiri? Malah sudah membentengi penolakan dari awal, sebelum mengetahui kebenaran adanya janin hasil benih mereka.


Juminten meneteskan air matanya, minimnya pengetahuannya tentang alat kontrasepsi membuatnya dan suami tak bisa mencegah kehamilannya. Nasi terlanjur menjadi bubur yang di aduk dengan santan kelapa. Mau nggak mau, suka ataupun nggak suka dengan rasanya dia harus memakannya.


"Kenapa nak, kok nangis? Perasaan emak tepuk lu pelan, deh!" Rohaya segera mengelus bekas tangan yang di pukul tadi.


Semakin remuk hati kedua orang tuanya, mendengar ucapan anaknya. Mereka sendiri juga kecewa dengan mantunya yang lebih memilih pekerjaannya di bandingkan menemani anaknya. "Udah..sabar, nak! Anak emak, kuat!" Rohaya mengelus punggung belakang Juminten.


Cklek!


Eka yang baru membelikan makanan kedua orang tua Jumi, masuk ke dalam kamar rawat. Membuat mereka yang ada di dalam kamar menoleh padanya.


"Abang!" ucap pelan Juminten.


Eka tersenyum sambil mendekati Juminten. "Alhamdulillah udah siuman. Gimana udah baikan?" Juminten mengangguk pelan.


"Mau makan nggak? abang tadi beli nasi di warung depan." Eka menunjukkan kantong kresek yang dibawa.


"Mau,bang. Mak, suapin!" Rohaya segera mengambil nasi dalam kantong kresek yang di berikan Eka.


Juminten memakan lahap nasinya, bahkan meminta menambah nasi lagi. Membuat mereka tercengang, ibu hamil yang ada di depan mereka seperti tidak makan beberapa hari.

__ADS_1


"Lu belum buka puasa seharian? Kok doyan banget?" Hanya di jawab anggukan Juminten.


"Mak, minta satu lagi boleh?" ucap Juminten sambil melirik kresek yang di bawa Eka.


"Buset! Kenapa lu nggak jaim sama sekali. Ada Eka, nih. Masa orang sakit makannya bar-bar, amat! Harusnya lu makan dikit kayak orang sakit beneran! "


"Harusnya emak bersyukur, Jumi doyan makan. Jadi nggak mubazirin makanan, berarti anaknya sehat. Ucapnya alhamdulillah. Malah ngomel!"


"Alhamdulillah, abis di cekok 3 infus lu bisa ngoceh lagi."


"Sudah, mak. Ini dimakan ya." Eka menyodorkan kresek hitamnya pada Rohaya. "Abang kalau gitu keluar lagi beli nasi ya, mak!"


"Iya, makasih ya Bang!"


"Bang Eka!"


"Iya, Jum. Mau ngidam apa lagi? Mumpung abang keluar."


"Boleh, minta teh hangat pakai susu coklat?"


"Sudah, itu aja?"


"Belum, hehe." Juminten menjawab dengan malu-malu. "Susu coklatnya yang banyak sampe tehnya nggak kerasa."


"Ya, beli susu coklat aja, Jum!" jawab Rohaya.


Juminten menggelengkan kepalanya. "Minta teh susu coklat tadi pokoknya."


"Siap. Nggak apa-apa mak. Selama ini Juminten kalau ngidam selalu hubungi abang, kok." Ucapnya dengan tersenyum lalu keluar dari kamar.


Eka tak tahu, kejujurannya membuat kedua orang tua Juminten semakin berburuk sangka kepada menantunya.


"Bapak keluar sebentar, ya!" Udin segera mengejar Eka.


"Abang! Bang!" teriak Udin.


Eka menoleh ke sumber suara. "Iya, pak!"

__ADS_1


"Ayo, temui Bambang!"


__ADS_2