
Malam menyampaikan apa yang tak terpisahkan terang, sunyi memiliki gaduhnya sendiri, dan kosong tak selalu dapat disinggahi.
Mereka seakan melupakan kegelapan yang, pasti akan selalu hadir setiap hari nya. Begitu pun dengan kehidupan, tidak ada yang berkelit dari kerasnya hantaman suatu masalah.
Tidak dapat dipungkiri, saat kalian tengah dihadapkan dengan sebuah masalah, tentunya perasaan cemas, khawatir, sedih dan lainnya menyelimuti pikiran.
Juminten memilih menceritakan semua mimpinya secara detail kepada Suami dan Adik iparnya. Dia sedang di bingungkan dengan kondisinya saat ini, satu sisi dia bertanya-tanya sebab arti mimpi tersebut dan sisi yang lain, dia sudah tak menjadi istri Bambang.
"Bagaimana kalau besok pagi, kita ketemu sama Mila?" usul Eka.
Bambang hanya bisa diam, pikirannya mengacu pada mental Juminten yang bisa di pertaruhkan. Tak hanya itu, mengingat anak mereka juga bisa menjadi sasaran Mala.
"Kenapa diam, Mbang? Kamu tau kabar Mala sekarang?" tanya Juminten.
Dia tetap diam, tak menjawab pertanyaan Juminten. Masih menyelami pikirannya untuk memecahkan masalah ini.
"Dik!" Eka menyenggol tubuh adiknya.
"Hah? Apa?" kagetnya.
"Kenapa diam, Adik ipar? Apa kamu tahu, kabar Mala sekarang?" ucap Juminten mengulang pertanyaannya.
Bambang menarik nafasnya mencoba melonggarkan kaos oversizenya, yang tiba-tiba terasa seperti tak muat di tubuh.
"Aku khawatir sama kamu, juga anak-anak kita," ucapnya menunduk.
Mereka anak gue juga sekarang. Batin Eka.
Rasanya dia benar-benar tak nyaman merasakan atmosfer yang ada di sekitarnya. Apalagi melihat Juminten, seperti tak berkedip menatap Adik iparnya.
"Kalau kita bahas besok aja bagaimana? Khawatir si kembar bangun, terus nyari kita," alibi Eka.
Sepertinya Juminten kali ini menuntut egois, dia ingin memecahkan teka-tekinya yang terasa benar-benar nyata.
"Kalau Abah mau pulang, silahkan. Aku izin tunggu Bambang pulang kerja, boleh?"
Eka di buat dilema menghadapi situasi ini. Dengan menghembus nafas kasar, dia tetap memilih duduk di samping istrinya.
"Jangan cemburu, semua jiwa dan ragaku hanya buat kamu suamiku," bisik Juminten, lalu mengamit tangan suaminya.
__ADS_1
Eka di buat salah tingkah dengan sikap manis istrinya, dia berbisik balik di telinga istrinya, "Makasih Istriku, aku cinta kamu."
Bambang geleng-geleng melihat pasangan bucin di depannya. "Ini tadi niat awal kalian kesini, mau menyelesaikan masalah. Atau mau pamer kemesraan? Jiwa jombloku meronta, nih!"
Juminten tersipu mendengarnya, "Haha.. Sorry Adik Ipar. Oke, besok kita ke rumah Mila jam 10 Pagi aja, ya. Aku pikir-pikir, benar juga kata suami. Kalau nanti kita nggak pulang, anak-anak pasti cari kita berdua. "
Lah, Jum gimana sih. Katanya lu nunggu Bambang pulang. Dasar cewek plin-plan! Author emosi nih🙄
🍓
🍓
Kring!
"Halo.. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Selamat pagi, apa benar ini nomer Mbak Mila?"
"Iya benar, saya Mila. Ini dari siapa?"
"Saya kepala perawat rumah sakit jiwa, Mbak Mila apakah hari ini bisa untuk mengunjungi Mbak Mala?"
"Untuk lebih jelasnya, lebih baik saat anda di sini. Karena, kami akan minta beberapa tanda tangan untuk meminta persutujuan Mbak Mila."
Mila segera mematikan telepon, "Papi! Ayo kita ke rumah sakit, Mala masuk kamar intensif lagi!" berusaha membangunkan suaminya yang masih lelap tidur, karena pertempuran semalam.
"Papi, kalau nggak mau bangun. Nanti malam kita libur!" pekik Mila dengan nada emosi.
Seketika Eko terbangun dan berlari ke arah mandi. Mila terbongong menatap suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, sekarang dia tau cara yang mudah untuk membangunkan suaminya.
🍓
🍓
" Pagi, Kak. " Candra menyapa Bambang yang sedang duduk di teras rumahnya, sambil menikmati segelas kopi dengan teh hangat. Sungguh kudapan nikmat untuk di sajikan saat Pagi Hari.
"Oi, tumben Mas kesini. Mau jemput Sinta?"
"I-iya, Kak."
__ADS_1
Bambang mengerutkan dahinya,
Sejak kapan dia memanggil aku 'Kak'? Apakah ada kemajuan hubungan mereka berdua, tanpa aku ketahui?
"Sin, ada cowok lu! Cepetan dandannya!" teriak Bambang.
Candra semakin salah tingkah mendengar ucapan Bambang, "Seperti mau lamaran aja, Mas. Pakai salah tingkah segala," goda Bambang.
Mendengar mendapat lampu hijau dari Kakak asuhnya Sinta. Niat yang dia pendam dari semalam, akhirnya terkuar sudah. Candra mengehembuskan nafas, berniat mengutarakan isi hatinya, "Apa bo-"
Ucapan nya terhenti, melihat sebuah mobil jazz berwarna hijau berhenti di depan rumah. Seorang pria dewasa memakai kacamata hitam turun dari mobil.
"Selamat pagi, Mas Bambang." Dodit meletakkan paper bag yang dia bawa, "Sinta ada?" dia mengacuhkan keberadaan Eko yang sudah duduk di sebelah Bambang.
Melihat musuhnya membawa sogokan bingkisan kepada Bambang, Candra memilih berpamitan, "Kak, aku izin keluar ya. Mau ada perlu sebentar!"
"Pagi, Pak guru. Silahkan duduk!" Bambang berdiri menyalimi gurunya. Dia memang tidak lagi menjadi muridnya, Tapi dia tetap menjunjung kesopanan. Meski gurunya sudah melakukan hal kurang ajar kepada Adik asuhnya.
Tangan Bambang segera menarik kerah Candra dari belakang, yang akan meninggalkan mereka, "Mau kemana? Mau ikut-ikutan cari buah tangan? Udah duduk sini aja!"
Mendengar Candra melangkah kembali masuk ke dalam, Dodit tersenyum kecut. Sepertinya, lawan dia untuk mendapatkan Sinta sangat berat kali ini. Seorang pria yang dia ketahui, lebih mengenal dekat kepribadian calon istrinya dibandingkan dia sendiri yang justru sering menyakitinya.
"Pagi, Sinta," ucap mereka serentak, saat melihat pujaan hati keluar dari dalam rumah.
Sinta terkaget melihat kedatangan dua pria yang dia kenal ada di depannya di waktu Pagi Hari.
"Pa-pagi," jawabnya terbata.
Sinta segera mengacuhkan mereka, dan segera memakai sepatu kerjanya.
"Aku pamit berangkat, kak!" Sinta mengelurkan tangan ke arah Kakaknya. Tanpa di komando, kedua laki-laki yang menjemputnya melangkah mendekat.
"Ngapain lu, ikut-ikut pamitan?" tanya Candra menatap Dodit.
"Maaf, saya tak ada urusan dengan anda. Saya dari awal kesini, berniat mengantarkan Sinta kerja," jawabnya tegas.
"Eh, nggak bisa gitu dong! Gue duluan tadi yang kesini!" Candra mulai menatap tajam pria di sampingnya..
Bambang merangkul bahu Adiknya, "Sorry, hari ini gue yang anter. Sekalian mau ada perlu sama Juminten di sana."
__ADS_1
Kalo kalian mau Sinta sama siapa?