Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 49


__ADS_3

Eka : [Abang pamit berangkat, ya. Jangan lupa makan. Jangan lupa minum vitaminnya. Doain abang disana bisa sukses juga bahagia. Semoga Juminten juga bahagia ❤️]


Eka segera mematikan ponselnya. Mengganti sim card nya yang lama, dengan sim card baru yang dia beli semalam. Semua barang-barang yang dibawa, juga sudah selesai dia kemas dengan adiknya.


Tok!


Tok!


"Abang, mobil bandara nya udah jemput!" teriak Bambang.


"Iya, sebentar!" jawab Eka.


Eka mendudukkan tubuhnya di atas kasur, memandang wallpaper hapenya yang selama ini ia gunakan. Mengelus foto Juminten yang selalu membuatnya tersenyum. Jempolnya terulur membuka isi galeri ponselnya, tampak Foto jumiten juga foto usg si utun terjejer rapi di dalamnya.


"Abang pamit berangkat sayang, abang sayang sama kamu juga si utun. Mulai saat ini, abang tidak akan mengganggu Juminten lagi. Abang doain, kamu bahagia dengan si kembar."


Eka menekan menu untuk menghapus semua isi gambar tersebut. Tekat nya sudah bulat, perginya hari ini tanpa membawa sisa rasa cinta untuk Juminten. Menghapus semua kenangan juga semua memori saat mereka jalan bersama. Dia pun bersiap mengambil jaketnya, melangkah keluar dengan koper besarnya.


Melihat adiknya yang sudah menunggu di depan kamarnya dengan mata sendunya, sontak tangannya terulur memeluk erat adiknya yang beberapa bulan ini selalu membuat ulah dan emosi.


"Abang berangkat ya, jaga rumah. Ingat nasihat abang, biarkan Juminten bahagia dengan cara dia. Maafin abang harus pakai kekerasan buat sadarin kamu. " Eka menepuk punggung belakang Bambang.


"Abang hati-hati, ya! Maafkan Bambang yang sudah membuat abang selalu menanggung malu." jawab Bambang.


Eka tersenyum. "Abang sudah memaafkanmu. Tapi, kamu juga harus minta maaf kepada Juminten juga keluarganya." Eka menundukkan kepalanya.


"Disini yang salah kamu, bukan mereka. Semoga kamu makin dewasa lagi ke depannya. Ayo anter abang ke depan!" Bambang segera mengantarkan abangnya ke depan, melambaikan tangannya pada mobil yang di naiki abangnya.


Di bandara, Eka yang baru pertama kali berpergian naik pesawat, di buat bingung dengan banyaknya pintu masuk bandara. Kondisi bandara yang sepi karena masih dini hari, membuatnya semakin bingung mencari tujuannya.


Akhirnya, Eka mencoba menanyakan ke pegawai berbaju hitam letaknya untuk chek in terlebih dahulu. Setelah mendapatkan petunjuk untuknya chek in, langkahnya mantap ke arah yang sudah di arahkan.


Tiba-tiba tubuhnya terhuyung, karena pelukan dari belakang. Kemeja yang dikenakannya terasa basah karena air mata sosok tersebut. Sontak, Eka menoleh ke belakang dan terenyuh melihat sosok yang dia sayang juga membuatnya berat untuk melangkah ada di depan nya.

__ADS_1


"Jumi—" ucapannya terpotong dengan pukulan tangan Juminten. "Au.. Sakit Jumi!"


"Abang jahat! Abang tega! Abang keterlaluan udah bikin Juminten kayak gini! Kenapa semalam pas pulang, nggak bilang kalau berangkat pagi ini!" Juminten semakin keras memukul Eka dan sukses membuat Eka kesakitan.


"Kenapa abang tega main rahasia sama Jumi! Abang nggak sayang ya sama Jumi! Andai abang nggak —"


Ucapan Juminten terdiam merasakan pelukan Eka di tubuhnya. Membuatnya semakin menangis tersedu. "Jangan bilang ini pelukan yang terakhir, bang! Abang harus pulang, abang harus dampingi duo gemoy lahiran! Bagi Jumi abang adalah segalanya setelah emak sama bapak." Juminten memeluk erat abangnya.


"Abang doain, kamu bahagia dengan anak-anak. Tungguin abang pulang kesini, ya. Nanti, abang kenalin calon abang sama kamu, ya! Syukur-syukur abang juga pulang bawa anak. " Juminten menganggukkan kepalanya.


Melihat Rohaya dan Udin mendekatinya sontak Eka berjalan mendekati mereka. "Mak, Pak." Eka mencium tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati disana, makan yang teratur. Emak doain kamu sukses." ucap Rohaya mengelus kepala anaknya yang selalu menemaninya menjag Juminten.


"Aamiin." jawab Eka.


"Jangan lupa, bawa pulang kesuksesan. Ingat janji abang sama bapak, pulang langsung beli mobil baru." Ungkap Udin sambil membalas pelukan Bambang.


"Siap, pak!"


"Sampai Eka punya calon, mak! Doain ya, mak!"


"Emak doain selalu!"


Mereka pun melepaskan Eka untuk melanjutkan check in nya. Mata Juminten masih memperhatikan bayangan Eka hingga hilang.


"Yok, kembali ke parkiran. Kita pulang, bapak masih ngantuk banget." ajak Udin pada anak juga istrinya.


"Kalau ngantuk jangan nyetir pak, kita nginep di hotel kapsul yang di sini dulu, yuk. Juminten liat semalem harganya 1 juta. Pasti boboknya nyenyak tuh!" jawab Juminten.


"Kagak, kagak! Malu emak, lu kalau tidur ngorok. Kedengeran sama orang di sebelah kamar lu gimana? Udah keluarin duit mahal-mahal eh intinya ngorok" Rohaya menarik tangan Juminten dan Udin ke parkiran bandara.


🍓🍓🍓🍓

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Juminten yang sedang asyik memasak di dapur, tergopoh berlari setelah mendengar suara ketukan pintu dan salam dirumahnya.


Matanya hampir copot, melihat siapa yang mengetuk pintu rumah. Bambang yang masih mengenakan seragam sekolahnya, datang ke rumah bersama wali kelas juga kedua sahabat nya.


"Ngapain kamu kesini?" Teriak Juminten sambil melotokan matanya. Ingin rasanya Juminten melempar sepatu hak 10 cm punya emaknya untuk mentoyor otak pria di depannya.


"Ada siapa, Jum?" teriak Rohaya dari belakang.


"Ini mak, si sambo kesini ngajak orang banyak!" jawab Juminten sengaja berteriak keras dengan menatap wajah Bambang.


"Amit-amit jabang bayi, jangan mirip muka dia!" Juminten mengelus perutnya sambil melirik tajam Bambang.


Bambang tersenyum lebar, terpukau melihat istrinya yang sudah lama tak bawel di depannya. "Ini, ada masalah tadi di sekolah. Bisa ijinin kita masuk ke dalam?" tanya Bambang.


"Lainnya boleh masuk kecuali kamu! Selangkah kamu masuk ke dalam rumahku, aku nggak segan-segan merobek ginjalmu disini!" jawab ketus Juminten.


Bambang menganggukkan kepalanya. Mempersilahkan semua orang masuk ke dalam. Sedangkan dirinya memilih duduk di kursi depan rumahnya.


" Ah, udah lama gak cium aroma rumah ini. Dulu datang di sambut, di ajak masuk ke rumah, di suguhin makanan. Sekarang?" Bambang tersenyum getir dengan takdirnya yang sekarang.


Farid ikut mendudukkan dirinya di sebelah Bambang. Melihat Bambang yang benar-benar di acuhkan keberadaanya oleh penghuni rumah.


Bahkan, mereka seakan memberikan hukuman secara terbuka kepada mantan menantunnya, di depan orang banyak.


"Kenapa bang, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Farid sambil menyodorkan segelas air putih.


"Nggak apa-apa. Semua udah berubah,ya! Keluarga Juminten benar-benar membenciku." jawabnya sendu.

__ADS_1


Farid menepuk punggung Bambang, "Sudah nasib itu, bang! Abang sendiri yang melepaskannya. Terus, kenapa sekarang abang sedih?"


Bambang pun merubah arah duduknya, "Juminten pernah cerita apa sama kalian tentang hubungan kami? Apa dia juga cerita kalau aku sering tinggalin dia dan milih pergi sama Mala?" tanya Bambang.


__ADS_2