
Mala tersenyum berlari mendekati seseorang yang ia rindukan selama ini, "Abang Bambang! " teriaknya.
"Loh, Mala! Ngapain kamu di rumah sakit?" serunya nampak kaget.
Eko berpura-pura tak mengetahui kedekatan mereka, memilih menikmati makanan yang sudah ia pesan sambil mengaktifkan mode menelisik semua yang mereka lakukan, dengan bantuan indra penglihatan juga pendengarannya.
Mala menarik tubuh Bambang untuk duduk di seberang Eko. Sepertinya Mala memang benar-benar tak tahu, pria di depannya sudah mengetahui semua kebusukannya. Terbukti dia memilih duduk di dekatnya.
"Abang kemana aja? Kok aku kirim pesan nggak pernah di balas?"
"Maaf, Abang sekarang harus fokus kerja. Anak kembar Abang mau lahir habis ini."
Mala mengernyitkan dahinya, "Bukannya Abang nggak mau sama mereka? Kenapa malah sekarang terima mereka. Abang jangan plin-plan." jawabnya dengan nada yang tak enak.
Bambang mengacuhkan Mala, memilih beranjak dan mencari tempat duduk di lain tempat. Duduk di dekatnya, membuat pikiranya semakin kacau.
Mala segera beranjak mendekati Bambang, " Abang kok sekarang hindarin aku? Abang makin kesini, makin nggak peduli sama aku makin nggak perhatian sama aku!" Mala berucap sambil meneteskan air matanya.
Bambang menoleh menatap Mala yang sedang berdiri di dekatnya, "Abang mohon, jangan ikut campur urusan keluargaku lagi. Biarkan aku bisa hidup dengan bahagiaku, bukannya dari awal kamu yang menolakku untuk jadi pacar kamu! Lalu kenapa kamu berucap seperti itu, seperti kamu yang menjadi korbannya."
"Kenapa sekarang Abang nyalahin aku?"
" Ya, karena kamu dan kakakmu aku mengacuhkan istriku! Menjadi diriku seseorang yang pengecut dengan berlari dari tanggung jawab! Apa kau kurang puas, hah!" ucapnya nyalang.
"Abang baru sadar akhir-akhir ini, kalian adalah hama di rumah tanggaku! Puas!" Bambang berseru sambil menekan kata per kata.
Mala terdiam mendengar semua ucapan Abangnya, tangannya terkapal rupanya Juminten sudah menguasai semua pikiran, hati dan otak Abangnya. Hingga sudah tak ada lagi tempat untuknya bersandar.
" Abang mohon, jangan buat masalah lagi dengan keluarga Abang lagi."
Mala hanya diam dan segera meninggalkan pria yang ia cintai. Rasa kecewanya terasa semakin membuncah. Ia berlari ke dalam kamar rawat Mila, menangis di pelukan kakaknya.
"Kenapa? Kok nangis? Kakak nggak apa-apa, kok." Mila mengelus rambut adik kembarannya.
Mala semakin terisak di pelukannya, "Kenapa Juminten tega rebut semua orang, Kak? Kenapa aku pernah kenal dia?"
Membuat Mila kaget, menerka-nerka adiknya baru saja bertemu Juminten, "Kamu habis ketemu dia?"
"Nggak, aku ketemu sama Abang di depan."
Ada rasa lega dari hatinya mendengar kabar tersebut, Mila membalas pelukan adiknya dengan menepuk pelan punggungnya, "Biarkan Bambang bahagia dengan pilihannya sendiri, kamu nggak berhak ganggu dia."
__ADS_1
"Kakak kenapa ikut-ikutan belain Juminten? Apa Kakak juga udah nggak sayang sama aku?" teriaknya pelan.
"Sstt.." Mila menepuk pelan punggung kembarannya. "Kamu salah sangka Adikku sayang, Kakak hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kebahagiaan kamu juga kebahagiaan Kakak."
Mala mengangguk, masih berusaha meredakan tangisannya. "Udah, jangan temui Bambang dulu. Kamu di dalam kamar aja, oke. Yuk kita istirahat. "
"Mila.. Bangun," Eko mengusap pipi Mila membuatnya kaget.
"Aku berangkat kerja dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku."
Eko memilih berangkat bekerja, sambil cari sarapan gratis dari bosnya, Karena Juminten yang sering membawa cemilan atau makanan berat dari rumah.
"Wah, ada aroma nasi pecel!" Ucapnya sambil menutup pintu ruangan.
"Wah, ada aroma orang bokek nih!" sindir Sinta.
Sontak Eko tertawa, "Tau aja bokek parah, semalam Mila masuk rumah sakit. Eh, duit 2 juta dalam sekejap mata habis."
Sinta memberikan nasi yang ia sengaja bawa untuk temannya, "Sakit apa calon masa suram?"
"Masa depan, beg*!" Eko menyikut keras Sinta.
Sontak tangannya menarik kembali nasi yang ia berikan, "Gue baru inget kasi nasi ini bubuk racun nggak ikhlas, jadi abis lu makan jamin boker."
"Order nya dapet sama mantan suami Miss kan, orang dia cerita gue tadi pagi."
Sontak Eko terbatuk-batuk mendengar cerita temannya, Sinta segera mengambilkan minuman di dekatnya. Eko meminumnya hingga tandas, mukanya memerah merasakan panas di lehernya.
"Bambang tinggal di panti, jadi relawan dia sekarang. Jadi, alhamdulillah Bu Panti bisa aku tinggal leluasa lama buat jualan di danau. Kan lu tau dewe di sana gajinya lumayan. "
Juminten yang baru sampai, menata tempat duduknya dan ikut bergabung dengan mereka.
"Ngomongin apa? Kok kayaknya seru." serunya.
"Itu Miss, Mila masuk rumah sakit. Semalem, aku yang anter kesana."
"Wow.. Kayak pahlawan super, ya Oke." Sinta mengacungkan jempolnya, "Kemarin, nolong anaknya dari kecelakaan eh kemarin ganti nolong Emaknya. Keren lu, Ok! "
"Makasih, Miss." jawabnya gumawa.
"Kalau gitu nanti pas jam kerja siang kita kesana, yuk, " ajaknya.
__ADS_1
"Eh, jangan!" jawab mereka serentak.
🍓🍓🍓🍓
Setelah perdebatan sepanjang jam kerja, akhirnya mereka pasrah setuju Juminten ikut mereka ke rumah sakit. Dengan Sinta yang mendampingi mereka.
Membawa tas tangan buah juga kue untuk kudapan Mila. Juminten memilih berjalan akhir sendiri, kakinya yang mulai bengkak membuatnya susah berjalan.
"Masih jauh, nggak? Kok aku mulai capek. " gumamnya.
"Nggak, kurang dikit kok Miss. Apa Miss mau duduk dulu? " tanya Eko.
Cklek!
"Assalamualaikum!" ucap mereka serentak.
Mata Juminten melotot melihat keberadaan mantan suaminya disana, bahkan duduk dengan 1 sofa dengan wanita yang membencinya. Juminten bersikap seperti biasa, tujuannya kesini untuk mengunjungi Mila bukan mencari masalah dengan mereka.
Juminten mendekati brangkar Mila, "Gimana kabar kamu? Udah enakan?"
Mila menganggukkan kepalanya, sambil menoleh pelan ke arah adiknya yang duduk di sofa. Kendati menjaga perasaannya.
Juminten yang tahu kegundahannya mengelus bahu Mila, "Udah, aku niat kesini buat nemuin kamu. Bukan adik kamu. Tadi periksa apa aja?"
"Tadi cuman tes darah aja kayak semalam. Doain hasilnya bagus, ya."
Tiba-tiba, Juminten terasa kantong kemihnya penuh. Kendati ruangan Mila yang bergabung dengan orang lain, membuatnya memilih di kamar mandi di luar untuk kenyamanannnya.
"Aku kebelet pipis, aku pamit keluar ya," Juminten segera beranjak keluar.
" Ayo Miss, aku anter, " ucap Sinta.
" Nggak usah, disini aja. Aku bentar doang, kok. "
Sinta memilih duduk di dekat Bambang, selain untuk mengawasi Mala juga tak mengganggu si bucin yang sedang bercengkrama.
" Ngapain lu di mari? Bikin Miss cemburu aja! "
" Dia cemburu? Serius?"
Sinta kaget melihat keberadaan Mala yang tiba-tiba hilang, "Loh, Mala ilang. Ayo buruan ke depan!" Tangannya segera menarik Bambang untuk mencari mereka.
__ADS_1
"Nggak usah pikiran jelek kayak di tv, dia baik kok. Nggak seburuk yang kamu kira." jawabnya santai.