Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 64


__ADS_3

Melihat situasi di dalam ruangan semua sibuk mengobrol, Mala diam-diam mengikuti Juminten. Berjalan berjinjing mengangkat kakinya, agar tak menimbulkan suara teplakan karena sepatu yang ia gunakan.


Brak!


Juminten di kagetkan kehadiran Mala di depannya. Terlihat tatapannya nyalang, seperti ingin mencabik-cabiknya tanpa memberikan ampun. Senyuman palsunya tampak semakin melebar dengan kedipan mata manja.


"Akhirnya ketemu juga. Rindu aku nggak, wahai mantan sahabatku." Mala mengelus pipi Juminten.


Juminten berusaha terlihat biasa saja, "Ada apa?" Menepis pelan tangan Mala.


"Haha...Haha...Kamu bilang ada apa? Jelas-jelas kau yang mencari semua yang ada pada diriku!" Jari-jari kukunya seketika menusuk kuat di dagu Juminten.


Juminten hanya bisa diam merasakan rasa perih bercampur panas di dagunya. Nafasnya rasanya tercekat, mengesampingkan ketakutan yang akan terjadi pada kedua anaknya. Berusaha menampilkan wajah yang berani walau kenyataannya tubuh mulai gemetar.


"Kenapa? takut?" Mala tersenyum smirk. Mengangkat kukunya yang sudah membekas di dagu lawannya, "Au.. Tinggalkan bekas sayang. Tapi, bekas itu tak seberapa dengan BEKAS NAMAMU YANG TAK BISA HILANG DARI SEKELILINGKU!" teriaknya nyalang.


"Miss.. Miss Juminten!" teriak Sinta sayup-sayup jauh. Mebuat Mala kaget takut si pengacau datang, tangannya menarik keras rambut Juminten, masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.


BRAK!


Mendengar suara pintu di tutup dengan keras, Sinta dan Bambang berlari masuk ke dalam kamar mandi umum untuk perempuan.


" Jum? Juminten? Jum kamu disini?" tanya Bambang saat membuka pintu luar. Mereka segera mengitari seluruh ruangan. Terdapat berjejeran 6 pintu di dalamnya, Bambang mencoba menggedor pintu yang tertutup sendiri diantara yang lain.


Dor!


Dor!


Dor!


Berkali-kali Bambang menggedor pintu namun tak ada jawaban, "Jum! Jum! Buka!" serunya.


"Aku coba cari bantuan cleaning servis, biar bisa di buka pintu ini. Soalnya itu di bawah kok ada bayangan kaki orang." Bambang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sinta segera berlari keluar mencari bala bantuan, sedangkan Bambang masih menggedor-gedor pintu yang dia yakini ada Juminten disana.


Mala melepas tangan yang sudah membekap mulut Juminten, rasanya sia-sia dia berusaha menutupi mulutnya, karena jejak kaki mereka sudah terlihat dari luar.


"Hah.. " Juminten segera meraup banyak oksigen. Wajahnya terlihat memerah, karena tak bisa bernafas beberapa detik.


Bambang tersenyum mendengar suara Juminten "Jum.. Jum.. Kamu ketiduran, ya? Ayo buka pintunya. Kasian duo gemoy! "


"Abang diam!" Bambang kaget mengenal suara yang ia kenal. "Semakin kau berteriak memanggil namanya, wanita hamil yang ada di depanku ini akan habis di tanganku!" Juminten segera memegang perutnya, berusaha melindungi anak-anaknya. Sedangkan Bambang di buat takut dengan nasib mantan istrinya juga duo gemoy.


Mala yang melihatnya tersenyum smirk memandang perut yang di lindungi, "Kenapa kau melindunginya? Kau takut mati? Tak usah kau takut, sayang. Karena memang hanya nyawamu yang aku minta dan bonusnya mereka! Hahaha..."


Juminten memberanikan diri menginjak kaki Mala, namun ruang yang sempit membuatnya tak bisa bergerak banyak.


" Au..! "


"G*BLOK! KAMU KIRA BISA LEPAS DENGAN MUDAH DARI AKU!" Mala menarik kembali rambut musuhnya.


Brak!


Mala menabrakkan tubuh Juminten di dinding, "Kenapa kamu kabur? Kamu jangan pengecut sayang, urusan kita belum selesai!" ucapnya santai.


Bambang berusaha mendobrak pintu dengan lengannya, "MALA! KAMU JANGAN MACAM-MACAM DENGAN ANAKKU JUGA JUMINTEN!" teriak Bambang.


Deringan panggilan sedang terhubung terdengar menggema di dalam, ternyata Bambang sedang menelpon semua orang yang ada di kontak ponselnya agar segera datang.


Sedangkan Sinta, di buat kebingungan mencari bantuan cleaning servis yang sedang istirahat siang. Hampir mengitari semua tempat penjual makanan di sekitar rumah sakit, namun tak menemukan sama sekali.


"Mbak! Mbak! Itu tadi cleaning servisnya yang lewat depan Mbak." teriak Ibu penjual dawet di dekatnya.


"Terima kasih, Bu." Sinta segera berlari mengejar cleaning servis yang di tunjuk tadi. Ucapan syukur tak henti di ucapkan, setelah hampir putus asa ia mencari bantuan.


"Pak, saya mohon. . Tolong bantu saya. Teman saya saat ini terkunci di dalam kamar mandi. Lagi hamil juga, Pak. "

__ADS_1


"Mari Mbak, nanti saya bantu telepon teman-teman yang lain."


"Terima kasih, Pak." Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit.


"HAHA.. HAHA.. Oke, Abang lebih membela wanita ini dari pada aku! Baik.." Suara tawanya menggema membuat Bambang semakin takut, tangan dan kakinya berusaha menendang pintu dengan keras.


"Harusnya ku tikam perut mu sekarang. Tapi, aku masih memberikan kesempatan untukmu mengucapkan selamat tinggal dengan mantan suamimu! " Ucapnya sambil menunjuk perut Juminten.


"Salah apa anakku? Mereka tak ada dosa secuilpun denganmu. Urusan ini antara kita berdua, tanpa ikut campur tangan mereka." Juminten menatap tajam balik Mala. "Kalau kau menyentuhnya, aku menjadi orang pertama yang akan menikammu balik! Membalas semua perlakuanmu kepada mereka!" teriak nyalang Juminten.


"Ibu mana yang bisa menerima anaknya di sakiti, walau mereka masih ada di dalam kandungan. Bukannya kau sudah ku berikan semua kemauanmu, kau mau Bambang silahkan ambil! Kau mau sahabatku, silahkan dengan senang hati, tapi jika kau macam-macam dengan anakku aku bisa berubah menjadi lebih garang! "


Juminten mencakar balik Mala, menjambaknya bahkan membenturkan kepalanya di dinding. Mengacuhkan rasa empatinya sebagai manusia. Ia membabi buta, rasanya ingin melampiaskan semua emosinya selama ini kepada perempuan gila ini.


Juminten salah, ternyata Mala bisa membalasnya cepat. Dengan sigap Mala menjatuhkannya, " Hahaha.. Kau bisa menangis? Menangislah yang keras! Dasar lemah!"


Tangannya menarik bibir Juminten, "Bibir ini ingin rasanya ku sumpal dengan kotoran agar bisa diam! Agar tak hanya omong kosong yang kau ucapkan."


"Bambang! A-ku mohon, tolong anak ki-ta!" Juminten menangis tersedu melihat darah yang keluar dari sela pahanya. Memejamkan matanya pasrah akan nasib yang akan ia terima dengan anaknya. Tubuhnya sudah lemas, seiring derasnya darah yang keluar.


Bruak!


Berbarengan dengan pintu yang bisa di buka di luar. Bambang segera masuk dan menyeret Mala keluar," Abang.. Au! Ampun!" teriak Mala.


Sedangkan Sinta dan tim cleaning servis berusaha mengangkat Juminten yang sudah tak ada daya di bawah. Eka yang baru datang dengan kedua orang tua Juminten segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Juminten!" teriaknya. "Juminten pegang Abang, maafkan Abang." Eka menangis sambil mengangkat tubuhnya.


"A-abang!" Ucap Juminten lemah, berusaha mengangkat kepalanya untuk tersenyum namun sia-sia.


Udin yang melihat Bambang menampar keras Mala dan melihat lawannya sudah acak-acakan segera melerainya. "Biarkan polisi yang bekerja, cepat nyawa anak istrimu di pertaruhkan!"


Nulis ini aku sambil pukulin guling, kebawa emosi sama Mala. Lebay yaa, 😋

__ADS_1


__ADS_2