
Di mohon di baca saat malam!
Baca dulu, baru judge oke 😚
Semoga kalian tak menyangkut pautkan dengan nilai-nilai yang ada di kehidupan kita sehari-hari. Ambil sisi positifnya, buang sisi negatifnya.
Saranghae 😍
...----------------...
Sinta benar-benar melupakan acara pernikahan bosnya malam ini. Dia tak tahu bagaimana bingungnya orang-orang yang ada di sana, mencari keberadaannya.
Dia benar-benar menikmati nikmatnya surga dunia yang pertama kali dia rasakan.
"Ah..."
Suara des**annya mengalun indah di telinga mantan musuhnya, yang saat ini berganti menjadi kekasihnya.
Niat awal mereka, hanya ingin sekedar saling menunjukkan rasa kasih sayang yang sudah terbalas. Nyatanya mereka kebablasan dan berakhir merengkuh nikmat bersama di atas ranjang.
Sinta meremat rambut hitam legam yang sedang bergerilya di area lehernya. Mengacuhkan banyak bekas kissmark yang berwarna merah, telah tercipta di sana.
"Maaf, apa aku boleh membukanya?" harap Dodit dengan tatapan mata sudah berkabut gai*ah. Dengan bersemu merah, Sinta menganggukkan kepalanya tanda dia pasrah.
Seperti harimau yang sedang lapar, Dodit segera merobek paksa kemeja yang di kenakan Sinta.
Grek!
Membuat dia terpekik kaget, "Eh! Kenapa di sobek?" dengan spontan tangannya menutupi baju yang terbuka, karena kancingnya sudah terlepas semburat kemana-mana.
"Karena aku ingin segera memilikimu seutuhnya, kekasihku." Dodit menempelkan dahinya dengan dahi orang yang dia cintai.
Sinta hanya bisa memejamkan matanya, merasakan dosa rasa nikmat yang menjalar di seluruh anggota tubuhnya. Dodit benar-benar menjelajahi seluruh area aset gunung pribadinya.
"Sshhh... Ahh.." tak ada penolakan ataupun umpatan kasar, yang dia lakukan hanya menikmati setiap detik perlakuan kekasihnya sambil memejamkan mata.
Dua insan yang sedang di mabuk asmara benar-benar lupa, bahwa semua yang mereka lakukan adalah salah. Ruangan yang gelap, dengan jendela yang terbuka lebar tak bisa mengurangi kucuran deras keringat mereka.
__ADS_1
Dodit menjadi seorang bayi yang rakus, dia menye**p tempat mengeluarkan sari makanan untuk anaknya nanti. Mengacuhkan lawannya yang sudah bergerak bergelinjangan, karena Pria ini pintar menemukan titik lemahnya.
Sinta tak mengerti dengan gerakan refleks tubuhnya, seakan menolak kegiatan gila ini berakhir. Dia membalas dengan meremat rambut kekasihnya sambil menekannya lebih dalam.
"Aku mau pipis sebentar, minggir dulu!" pinta Sinta.
Bukannya pria ini melepasnya, dia berganti dengan bergerilya di area bawahnya, "Tahan dulu sayang, itu belum seberapa. Aku akan mulai permainan intinya! "
Celana chinos yang di kenakan Sinta di tarik paksa dan berakhir robek juga. "Kenapa di sobek lagi? Itu--" ucapannya terpotong saat Dodit menelusupkan jarinya ke bawah.
Sinta di buat gelinjangan merasakan sensasi nikmatnya di setiap tusukannya. Melupakan kelakuan nakal kekasihnya yang sudah berhasil merobek seluruh pakaiannya. Bahkan Sinta tak memikirkan apa yang akan dia kenakan nanti, saat sudah selesai acara merengkuh nikmat mereka nanti.
Sinta merasakan sesuatu yang siap meluncur dari dalam tubuhnya. Tangannya berusaha menarik jari Dodit. Namun tubuhnya tiba-tiba melemas merasakan dorongan melesat nikmat dari tubuhnya.
"T-tuh k-an, a-ku ngompol," ucapnya lemas sambil mengatur nafasnya.
Dodit tersenyum melihat wajah cantik di depannya sudah mencapai puncaknya, dengan cepat dia menelusupkan kepalanya di antara dua kaki jenjang milik Sinta.
"A-aaah..." teriaknya kaget.
Geli bercampur nikmat kembali menggerogoti seluruh tubuhnya. Sinta mengangkat kedua kakinya, untuk memudahkan akses menjelahahi bagian yang ada di dalam.
"Au.. Sa-kit! Pe-lan aja!"
Sinta terpekik sakit hingga mengeluarkan air matanya, merasakan sakit teramat di tubuhnya. Kuku panjangnya menancap dengan tega di punggung kekasihnya, sesekali mencakar untuk menghilangkan rasa sakit itu.
Dodit tersenyum merasakan perjuangan dia untuk melubangi lubang dengan si tumpul berhasil.
"Terima kasih sayang sudah memberikan milikmu yang berharga untukku," Mengecup seluruh wajah kekasihnya.
"Tolong cabut itu dong, sa-kit..," lirihnya.
"Belum selesai sayang, selepas ini kau akan ku buat terbang melayang ke atas! "
Dodit mulai memaju mundurkan tubuhnya, mengikuti ritme tubuhnya. Ternyata benar, rasa sakit itu benar-benar berubah menjadi kenikmatan. Duda selama 14 tahun ini, benar-benar menikmati setiap tusukannya yang terjepit.
"Sshh..Ah.."
__ADS_1
"Em...". lenguhan Sinta menandakan bahwa rasa sakitnya sudah hilang.
"Aku mencintaimu Sinta," ucapnya.
"Aku juga mencintaimu Do-dit,"
Dodit mengabsen kembali wajah Sinta tanpa terkecuali.
"Kau sangat cantik hari ini! "
"Kau sangat memukau beberapa hari ini! "
"Kau benar-benar pintar mebuat tubuhku panas, karena penampilanmu! "
"Kau harus jadi milikku hari ini!"
Racau Dodit sambil memacu tubuh bagian bawah. Sinta hanya bisa diam, pikiran jernihnya sudah terkontaminasi dengan rasa sakit juga nikmat yang melebur jadi satu.
Sinta di kagetkan dengan Dodit yang membanting tubuhnya dengan posisi membelakanginya. Kegiatan apa ini? Pikirnya, yang memang benar tak permah memiliki pengetahuan dengan kegiatan merengkuh mereka.
"Aku mau keluar!" pekik Dodit.
Dia masih tetap diam, tak tahu apa yang dia maksud. Tubuhnya melesak saat merasakan dorongan kuat, tiba-tiba sesuatu keluar melesak kembali dari dalam tubuhnya.
"Ah.." ucap mereka bersama.
Dodit tersenyum menatap kekasihnya yang terlihat pucat, dia mencium dahinya, "Makasih sayang."
Sinta memeluk erat tubuh Dodit, meletakkan dengan manja kepalanya di atas dada kekasihnya
Dia mencium jemari tangan Sinta, rasanya dia sangat bahagia hari ini merasakan cintanya yang sudah tidak bertepuk sebelah tangan.
Mereka benar-benar melupakan acara resepsi Juminten, memilih istirahat agar tubuh mereka kembali fit. Terlebih Sinta, merasakan rasa perih tertahan di bagian bawah tubuhnya.
Brak!
Tidur nyenyak mereka terganggu dengan suara dentuman keras orang membuka pintu.
__ADS_1
"F**K! KAU APAKAN ADIKKU!" dengan membabi buta Bambang menghajar habis-habisan pria yang sudah meniduri adiknya.
Dodit yang kaget, tak bisa mengelak dari tinjuan Bambang. Sinta segera memegang erat selimutnya, "Kakak stop!"