Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 48


__ADS_3

"Dari mana, kok wajahnya emosi gitu?" Eka mengelus pipi Juminten yang mulai terlihat gemoy dengan bibir mengerucutnya.


Membuat tangannya gemas untuk menarik bibir itu. "Ih, kayak Sueb!"


"Abang kok jadi titisan Ratu Ruqoiyah, sih? Seenaknya manggil soang kelas internasional punya Jumi jadi Sueb." makin mengerucut saja bibir Juminten.


Sontak Eka terbahak-bahak melihatnya. "Terus kenapa kok marah-marah?"


Juminten menghela nafasnya, "Huh..Habis ketemu kapur barus, bang"


Membuat Eka mengernyitkan dahinya "Kapur barus?"


"Iya, kapur barus. Kalau dipakai di baju awalnya wangi, lama-lama buat enek!" Juminten mengekpresikan tubuhnya seperti orang jijik.


Eka tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Ada-ada aja kamu. Yuk pulang." Menggandeng tangan Juminten menuju mobilnya, karena hari mulai malam. Bahkan ponsel mereka sengaja dinyalakan dalam mode hening tanpa suara. Agar suara deringan panggilan masuk dari Rohaya tidak mengganggu kencan mereka malam ini.


"Kok cepet sih, udah pulang? Perasaan, kita belum ada sejam disini. " Ucapnya sambil menghentikan langkahnya.


Eka pun menghampirinya, "Ingat, ada si utun." Sambil mengelus perut Juminten. "Angin malam nggak baik buat kamu. Sekarang, kamu nggak boleh egois. Kamu harus mikirin nyawa 3 orang, kamu dan juga kedua calon ponakanku."


Juminten menganggukkan kepalanya, menggandeng erat kembali lengan abangnya. Membuat Eka tersenyum melihat tingkah manjanya. Candaan juga bernyanyi bersama menemani sisa waktu mereka.


"Abang!"


Mereka pun menoleh, melihat sosok yang memanggil mereka.


Eka segera memasang badan menutupi Juminten, agar jiwanya tak tertekan kembali melihat sosok ini.


Juminten yang sudah melihat siapa sosok tersebut, kembali berdiri di samping Eka."Bang, Udah. Juminten kuat, kok!" Juminten mengelus lengan abangnya yang sudah menatap tajam Bambang, sedang berdiri di hadapannya.


Juminten melihat wajah tampannya, juga tatapan teduhnya masih sama seperti dulu.


Kulitnya tampak mulai menghitam, juga badannya tak berisi lagi. Sepertinya dia sering bepergian di siang hari dan jarang makan teratur.


Melihat lelaki di hadapannya menyunggingkan senyum tipisnya, ingin Juminten membalasnya dengan senyuman lebar seperti dulu. Lalu, berlari memeluk erat tubuhnya sambil mencium aroma tubuhnya yang selalu memabukkannya.


Juminten memejamkan matanya di sertai buliran air mata yang ikut menetes. Menahan kuat tubuhnya, agar tidak tumbang di depan pria tersebut. Berusaha menunjukkan keadaannya dan juga sang janin yang bisa sehat tanpa uluran tangannya.


"Hai, apa kabar?" Juminten menyapa duluan mantan suaminya dengan senyuman palsunya yang lebar. Menutupi luka robek hatinya yang masih terbuka lebar karena ucapan talaknya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik!" Bambang ikut tersenyum lebar, melihat Juminten yang masih bisa ceria di hadapannya.


Tiba-tiba Juminten menundukkan pandangannya. "Yah.. Padahal Jumi berharap kabarnya lagi nggak baik!" jawabnya pelan.


Juminten mendongak, "Ah, Yasudahlah! Jangan lupa sedia payung sebelum hujan ya, mantan! Ingat, si karma bisa datang kapan aja! Kalau sudah kapok jangan lupa call me ya, pasti bilang nyesel kehilangan incess. Iya, lah. Penyesalan di belakang kalau di depan namanya pendaftaran. Bener kan, ucapan Jumi? " Juminten mengedipkan sebelah matanya, lalu pergi meninggalkan Bambang.


Namun, langkahnya terhenti mendengar suara Mala memanggil Bambang. "Eh, ada si miskin perhatian!" sapa Juminten.


"Udah pasang topeng sok polosnya belum? Baik-baik ya, jagain doinya. Hati-hati, doa orang terdzalimi apalagi lagi hamil pasti dikabulkan. Semoga sukses, ya!" Juminten melambaikan tangan tinggi-tinggi sambil berjalan meninggalkan mereka.


"Uh, pengap banget dekat sama mereka!" monolognya.


Eka melongo mendengar semua ucapan Juminten. Melihat Juminten berjalan meninggalkannya, dengan segera ia berlari menghampirinya. Mengacuhkan dua sejoli yang ada di depannya.


Melihat bahu Juminten bergetar, dengan sigap Eka memeluknya dari belakang. Juminten pun refleks memeluk balik lelaki yang selama ini selalu menemani nya, menyemangati nya. Bahkan selalu ada untuknya.


Juminten membasahi kaos yang di kenakan abangnya. Ternyata mudah rasanya mengungkapkan kata ikhlas, move on atau belajar melupakannya saat tak ada orangnya. Namun, saat mata juga raga nya bertemu pandang, hatinya masih sama merasakan rasa rindu menggebu juga sayang nya yang masih tersisa untuknya.


"Masuk mobil, yuk. Nanti jagungnya dingin nggak enak!" Juminten menganggukkan kepalanya. Ikut masuk ke dalam mobil.


Eka melihat Juminten yang sedang melamun. Menatap jalanan di depannya dengan pandangan kosong. Eka pun menyuapkan jagung yang sudah dia beli sebelumnya.


"Gimana enak?" tanya Eka.


Juminten menganggukkan kepalanya. "Rasa nomer dua. Yang penting gra-tis! "


Membuat Eka terbahak mendengarnya. Juminten pun asik memakan jagung yang di suapkan abangnya hingga tandas. Melupakan kejadian yang sudah terjadi tadi.


Tiba-tiba keheningan di dalam mobil.


"Jum, boleh abang ngomong?" Eka menatap wajah Juminten.


"Abang lucu ih, kan dari tadi juga ngomong."


Eka mengelus rambut Juminten. "Abang pasti bakal rindu momen ini. Bisa jalan bareng sama kamu, ngelus si utun juga nuruti ngidam kamu." lalu mengelus si utun.


"Eh, dia nendang! Apa perasaan abang aja?" Eka di buat terharu merasakan tendangan di perut Juminten.


Juminten menganggukkan kepalanya. "Hehe.. Duo gemoy aktifnya malem, bang! Kalau kayak gini biasanya tandanya laper, bang. "

__ADS_1


Eka memeluk erat tubuhnya, berat rasanya untuk pergi. "Abang doain kamu bahagia. Kebahagiaan kamu juga kebahagiaan abang." Eka mencium lama kening Juminten.


"Baik-baik ya, selama abang tinggal! Jangan nakal sama ibu. " Eka mengelus pelan perut Juminten.


Mata Juminten mulai mengembun. Baru juga dia menunjukkan bisa kuat tanpa mantan suaminya. Dan sekarang dia harus berpisah dengan orang yang selalu menemani hari-harinya.


"Boleh Juminten minta dipeluk abang lagi?"


Grep!


Tanpa menolak, Eka memeluk Juminten. Mengucapkan selamat tinggal juga dengan cinta juga kasih sayangnya.


Juminten pun melepaskan pelukan mereka. "Jumi doain, abang betah disana. Lancar kerjaannya, juga di modahkan ketemu jodohnya. Aamiin."


Eka tersenyum kecut mendengar penolakan manis Juminten. Sepertinya, Juminten memang tak sengaja melupakan ungkapan permintaannya untuk mengajak menikah 2 bulan yang lalu.


"Pulang, yuk!"


Setelah mengantarkan Juminten ke rumahnya dan berpamitan kepada kedua orang tuanya. Eka melajukan mobilnya ke kontrakannya.


Terlihat Bambang duduk di kursi depan. Melihat kakaknya turun dari mobil, ia pun menghampirinya.


"Abang beneran mau ke kota Kalimantan?"


"Iya, besok! Jaga rumah baik-baik, ya. Jangan ajak perempuan siapapun masuk kesana kecuali istrimu." Sambil membuka pintu kontrakannya.


"Iya bang, aku doain abang sukses disana. Abang balik dari sana kapan?" Bambang ikut masuk ke dalam.


"Abang balik kalau sudah dapat jodoh."


Bambang pun membantu abangnya menata semua barang yang di kontrakan, untuk di bawa pulang ke rumahnya. Karena, besok jam 3 pagi abangnya akan berangkat ke bandara.


"Bang? Juminten sudah berapa bulan?"


"16 minggu anaknya kembar." jawab santai Eka.


"Kembar?" Bambang kaget mendengar jawaban kakaknya.


"Sudah, nggak usah kepo sama kehidupannya. Kamu sudah sanggup mengucapkan selamat tinggal. Berarti, kamu juga sudah sanggup dengan semua konsekuensinya." Eka menepuk bahu adiknya.

__ADS_1


__ADS_2