
Rumah yang adalah tempat hatimu berada, tempat Anda tuju saat Anda sendiri, tempat Anda pergi untuk mengistirahatkan tulang Anda. Bukan hanya tempat di mana Anda meletakkan kepala, bukan hanya tempat Anda merapikan tempat tidur. - anonim
...****************...
Eka memeluk posesif istrinya dari belakang, menghabiskan momen kebersamaan mereka dengan saling memberikan kehangatan. Rasa penat setelah seharian berkerja telah melayang terbang.
"Assalamualaikum!" teriak Planet dan Bumi memasuki rumah.
"Waalaikumsalam." buru-buru Juminten dan Eka melepaskan pelukan mereka.
"Buset! Jam segini udah basah aja itu rambut berdua." celetuk Rohaya melihat anak dan menantunya sedang melihat televisi di ruang tengah.
Eka yang di goda seperti itu, di buat salah tingkah dengan ucapan mertuanya.
Berbeda dengan Juminten, menanggapinya dengan biasa," Biar do'a Bumi sama Planet tercapai buat punya Adik, " jawabnya sambil memindah chanel tv.
Rohaya yang sudah lelah setelah pulang kampung bersama si kembar, yang tingkahnya membuat kepala terasa pecah. Lalu di sambut dengan masalah Sinta dan sekarang mendengar ide konyol anaknya untuk menambah cucu.
" Kalau mau tambah, ya tambah aja gapapa. Silahkan! Tapi Emak nggak mau momong, sudah cukup pusing sama si kembar di rumah,"
Juminten yang sedang menatap televisi, beralih menatap Emaknya, "Tenang, Mak. Nanti Jumi tambah stok obat penurun darah tinggi, kolestrol dan asam uratnya. Kalau perlu, Jumi belikan Emak jamu sehat wanita."
Rohaya spontan menjambak rambut anaknya, mengabaikan suara jeritan ampun anaknya, "Heran Emak, umur lu masih muda plus nikah juga muda. Apa nggak ada rasa pengen nikmati pacaran habis nikah? Punya anak lagi, besok-besok kalau si kembar udah SD kelas 3 apa 4."
"Mak, inget banyak cucu banyak rezeki! Waktu Bumi sama Planet lahir usaha online kita juga makin rame. Makanya tambah cucu aja, biar kita ganti rumah baru juga. Atau nggak buat luasin lahan belakang rumah," alibi Juminten.
" Iya, tapi nggak sekarang juga,"
Udin menepuk pelan paha istrinya yang asyik menyerocos. Mengabaikan mimik wajah menantunya yang tampak kecewa, setelah. mendengarkan semua ungkapannya," Ayo masuk! "
" Nanti lah, P...ak."
Rohaya segera menundukkan pandangan, saat melihat suaminya melototkan mata.
Rohaya menghentakkan kakinya, persis seperti anak kecil. Lalu memilih masuk ke dalam kamar.
"Bapak kenapa sih, kok potong ucapan Emak. Niat Emak kan baik buat mereka."
Udin yang sudah duduk di tepi kasur, menarik tubuhnya istrinya. "Mak, nggak baik ikut campur urusan rumah tangga anak dan mantu. Biar mereka yang nentuin apa yang baik buat mereka. Kita aja yang sudah tua nggak suka di kekang, apalagi yang muda. Bisa-bisa mereka memberontak!"
🍓
__ADS_1
🍓
Setelah menidurkan si kembar, Juminten menghampiri suaminya yang sudah terlebih dahulu masuk kamar.
" Abah kenapa, sayang? " Juminten mengendus leher suaminya. Sukses membuat Eka gelagapan dengan gelanyar yang ada di tubuhnya."
"Kasih tahu Ibu, Sayangku. Jangan di pendam sendiri!" Tangan Juminten dengan nakal menelusup masuk ke dalam kaos yang di pakai suaminya.
Eka di buat merem melek merasakan sentuhan yang ada di punggungnya, dengan masih mempertahankan posisi awalnya.
"Nggak ada apa-apa, Sayangku."
Tangan Eka menangkap tangan Juminten yang mulai bermain di dadanya. Lalu menatap dalam-dalam mata istrinya, tangannya terulur memegang wajah cantik tanpa polesan make up.
"Ibu pakai kontrasepsi aja, ya. Abah nggak pengen ngerusak masa muda Ibu. Benar kata Emak, kita harusnya fokus membesarkan si kembar."
Juminten menarik wajah suaminya, lalu mencium sembari mengigit bibirnya.
"Justru karena Ibu masih muda, pengen punya anak banyak dulu. Lalu menikmati masa tua nanti hidup berdua dengan Abah. Biarkan saat masa muda, tenaga kita habiskan dengan anak-anak,karena ada saatnya Ibu akan menopause suatu saat nanti. "
"Maksudnya?"
Kali ini Juminten yang menjadi seorang pemimpin di kegiatan malam ini. Eka hanya di perintahkan untuk diam dan merasakan semua sentuhannya. Eka kali ini memilih menggigit busa bra milik istrinya, agar suaranya tak terdengar hingga luar.
Cup!
"Terima kasih, sayang," ucap Eka.
Eka menarik tubuh wanita yang sudah berhasil membantu memperbaiki moodnya. Tanpa harus mengeluarkan modal uang, hanya cukup dengan modal keringat dan membuatnya men**sah. Sudah mendapatkan titel istri solehah darinya.
"Gimana sayang? Enak?" tanya Juminten yang masih menggunakan handuk, setelah mandi dengan keadaan basah yang ke empat kalinya hari ini.
"Enak, nanti subuh lagi ya sayang," godanya dengan berbisik pelan di telinga Juminten.
"Tanpa kamu minta, seluruh jiwa dan ragaku sudah menjadi milikmu, Bah. Hayati pasrah." Juminten menjawab sambil bermanja dengan memeluk erat tubuh berotot suaminya.
🍓
🍓
Grep!
__ADS_1
Sinta yang sedang membersihkan dapur, berusaha melepaskan cekalan tangan yang membelit tubuhnya. Dia yang masih dalam keadaan lemas, tak bisa banyak bergerak. Keputusannya dengan mengijinkan kedua bos dan cucunya untuk meninggalkan dia di rumah ini sendirian, ternyata salah.
"Aku mohon, biarkan seperti ini beberapa menit."
Dodit memeluk erat Sinta, menyalurkan seluruh kerinduannya dengan gadis pendek di depannya. Sulit rasanya mengeluarkan kata maaf, bahkan bibir dan lidah terasa kebas setiap akan mengucapkannya.
"Lepasin nggak!"
Sinta memukul tangan Dodit yang tak memberikan ruang sama sekali untuknya bernafas.
"Kalau pengen aku mati, nggak dengan cara ini!"
Mendengar ungkapan mati, Dodit mengurai pelukannya, "Sorry, Baby."
"Aku mau pulang!" serunya dengan pelan, namun masih terdengar di telinga Dodit.
"Aku mau pulang! Lepasin!"
"No!" Dodit kembali memeluk posesif wanitanya.
"Kalau kamu nggak mau lepas, mulai detik ini aku nggak mau kerja lagi di sini."
Ucap geram Sinta, namun tetap tak menyulutkan hati pria ini.
"AKU MAU PULANG SEKARANG! MULAI BESOK, CARI PENGGANTIKU UNTUK MEMASAK!"
Mendengar teriakan Sinta, Dodit segera melepaskan pelukan Sinta, "Biarkan aku memelukmu. Aku mohon!"
Tok!
Tok!
Mereka serempak menoleh melihat arah pintu dapur. Candra memakai jaket kulit coklat dengan helm di tangan kanannya, menghampiri mereka.
"Permisi, sepertinya waktu bekerja Sinta sudah selesai. Saya ijin mengajaknya untuk pulang, karena hari mulai larut."
Dodit di buat bengong, melihat tangan Sinta yang tak menolak saat Candra menggenggamnya. Untuk meluapkan emosinya, Dodit membanting barang yang ada di dekatnya.
Prang!
" Cewek bre****k! Kau menolak pelukanku, tapi pasrah di pegang pria lain. Cih, ternyata kau wanita sampah!"
__ADS_1