Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 73


__ADS_3

Dengan emosi Dodit menabrakkan tubuh Sinta ke dinding, "Apa kau ingin mengumbar tubuhmu? Atau kau memang ingin menjadi seorang j*lang di sini?" ucapnya menggebu dengan memukul keras dinding di depannya.


Sinta melihat ada aura tatapan mata tajam dan keseriusan Dodit saat berbicara. Membuatnya tersenyum smirk, "Kalau kamu kayak gini, aku anggap kamu sudah jatuh cinta denganku," jawabnya santai.


Dodit hanya diam, tak bisa membalas semua ucapan Sinta. Respon tubuhnya melihat Sinta yang sedang di pegang pria lain, membuatnya marah saat itu juga.


"Cih, kenapa diam? Kamu malu untuk mengakui? Atau memang kamu takut termakan dengan omonganmu sendiri?"Dodit meremang kaget dengan ucapan Sinta.


"Rasakan kau menelan ludahmu sendiri!" Sinta mendorong keras tubuh pria dewasa di depannya.


Sinta segera berjalan cepat menjauhi Dodit, tangannya memegang dada yang sedang berdetak lebih cepat setiap kali di tatap intens dengan pria tersebut. 4 tahun tak bertemu dengannya, mengapa respon tubuhnya masih belum berubah.


"Ibu!" Rena memeluk Ibunya yang baru keluar dari klub, tubuhnya bergetar seperti sedang ketakutan.


Sinta di buat kaget melihat keadaan anaknya seperti itu, "Kamu kenapa sayang?"


"Nggak apa-apa, Bu. Masuk mobil, yuk." Sinta mengiyakan, mereka segera beranjak ke parkiran mobil.


Sinta memilih duduk di samping Rena,matanya teralihkan dengan sobekan baju yang ada di belakang punggung anaknya, "Kenapa baju kamu?" Rena hanya menggelengkan kepalanya dan segera memakai jaket yang ada di dekatnya.


"Ibu tanya kamu kenapa?" Sinta menatap dalam-dalam mata Rena yang basah, karena air mata.


"Rena beneran nggak apa-apa, Bu." Sinta membiarkan anaknya memeluk posesif dan menepuk pelan punggungnya hingga ia tertidur. Tak lama, dia pun juga ikut tertidur.


Setengah jam kemudian, Dodit yang sudah berhasil mengendalikan emosinya segera masuk ke dalam mobil. Takjub dengan pemandangan indah yang sudah lama tak dia lihat, Rena tidur dengan berbantalkan paha Sinta.


Dodit segera melajukan mobilnya ke Panti terlebih dahulu, untuk mengantarkan Sinta pulang. Bu Ani yang sedang cemas menunggu di ruang tamu, segera beranjak dari duduk melihat Dodit menggendong Sinta.


"Loh Nak Dodit kapan pulang?" tanya Bu Panti yang ikut mengantarkan mereka ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kemarin sore Bu. Mari saya pamit dulu."


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Bambang yang akan masuk kerja, melihat pemandangan seorang pria yang akan berbuat tak senonoh dengan perempuan sepertinya masih berumur belia.


Dengan satu tendangan, Bambang berhasil membuat pingsan pria tersebut. Tubuh gadis yang ada di pojokan tembok terlihat bergetar, Bambang ikut berjongkok dan menyerahkan sapu tangannya, "Lain kali jangan main kesini lagi, ya. Tempat ini nggak baik buat kamu."


Perempuan tersebut masih menundukkan pandangannya karena takut, tak mau menerima sapu tangan yang di kasihkan Bambang. "Ayo, ikut aku. Aku antarkan ke tempat yang aman menunggu."


Tanpa bersentuhan tangan, dia mengantarkan gadis tersebut di depan pintu ruang event. Melihat wajahnya yang belia, Bambang bisa menebak jika gadis tersebut masih menunggu temannya yang sedang di dalam.


" Saya tinggal dulu, ya. "


Langkah kakinya kembali ke pintu belakang klub, Juminten yang sudah menunggunya dari tadi melambaikan tangan ke atas. Bambang segera berlari menemui si kembar yang sedang asik bermain.


Bambang memeluk posesif si kembar, baru tak bertemu mereka 5 bulan rasa rindunya sudah menggebu. Tak hentinya dia mencium kedua anaknya.


"Ayah stop! Jangan terlalu banyak mencium planet! " ucapnya sambil menata kembali bajunya.


Bambang selalu menertawakan anak laki-laki nya setiap mereka bertemu, memiliki watak yang sama dengannya, bahkan semua tingkah laku ada pada anaknya. Hanya wajahnya saja mirip dengan Juminten.


Juminten menepuk bahu Bambang," Kenapa kamu senyum sendiri? Masih nggak percaya semua fotocopy watak kamu ada di Planet?"


Bambang tertawa sumbang, "Haha..iya masih, tapi kenapa Bumi tak mau mirip sama Ayah?"


"Karena Bumi cantik, jadi ya nggak mirip Ayah." Bambang kembali memeluk posesif anak perempuannya, memanjatkan rasa syukur memiliki anak yang masih sehat walau tanpa kehadiran dia di samping mereka.


Bambang menatap jam yang bertengger di tangannya, "Ayah 10 menit lagi bekerja, Ayah izin masuk dulu, ya. Kalian baik-baik sama Ibu, Emak, Bapak juga Abah." Bambang segera menata baju bartendernya, pekerjaan yang dia lakoni selama setahun terakhir.

__ADS_1


"ABAH!" Bumi dan Planet segera berlari dan memeluk posesif Abahnya yang baru keluar dari pintu dan sukses membuat Bambang cemburu.


Juminten yang paham dengan mimik wajah Bambang yang berubah, segera mengambil Bumi dari gendongan Eka. Dan menyerahkan kepada mantan suaminya. "Ada Ayah peluk juga dong, biar Ayah semangat kerjanya."


Bumi memeluk Ayah kandungnya dengan posesif seperti perintah Ibunya, Bambang tersenyum dengan tingkah Juminten yang selalu peka dengan sekelilingnya, namun perhatiannya teralihkan melihat tangan Eka memeluk pinggang mantan istrinya posesif.


" Kalian? " Bambang menunjuk dengan apa yang di lihatnya.


Juminten yang sudah berhasil melepas tangan Eka, hanya menjawab dengan tersenyum dengan salah tingkah. "Ayo Planet Bumi, Ayah mau kerja dulu. Kiss Ayah dulu sayang, jangan lupa cium tangannya juga."


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Eka menggandeng posesif tangan Juminten, "Masih ingat pas kita dulu kesini? Kalau nggak salah, pas mereka umur 4 bulan."


"Masih, pas itu aku baru sembuh dari psikolog,"jawabnya pelan.


Saat ini mereka memilih berjalan ke danau yang dulu pernah mereka kunjungi. Juminten juga yang memang jarang ada waktu untuk si kembar, karena sibuk bekerja juga mengurus mereka. Menjadi single parent membuatnya harus kuat sebagai Ibu juga sekaligus sebagai sosok Ayah untuk si kembar.


" Duduk sana, yuk. " Eka mencium tangan Juminten," Makasih udah mau terima aku jadi calon suami kamu."


Juminten tersenyum, "Sama-sama, makasih juga udah sabar menemani aku saat kapan aja. Aku mohon, jangan sakitin aku Bang. Kalau memang Abang nanti tak ingin melanjutkan hubungan ini,--"


Eka menutup bibir Juminten, mengelus bibir merah muda yang ada di depannya, "Abang pengen cium kamu, tapi anak-anak gimana?"


Juminten tertawa terbahak-bahak, "Sabar, derita punya pacar janda 2 anak ya seperti ini."


Eka tersenyum, kekuatan, usaha juga doa yang selama ini ia inginkan akhirnya terwujud. Memiliki Juminten dan akan menjadikannya sebagai pelabuhan terakhirnya.


...****************...

__ADS_1


KamuΒ harus melepaskan masa lalu untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik karena kamu tidak akan pernah menggenggam masa depan jika masih terkurung masa lalu.


So, Jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar tidak terjebak, yang justru dapat merugikanmu di masa yang akan datang.


__ADS_2