Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 100


__ADS_3

"Minum air putih dulu, ya."


Juminten menyetujui, kerongkongannya terasa haus setelah lelah berjalan di mimpinya.


Dia meneguk minuman yang di berikan suaminya, hingga tandas. "Makasih, Bah."


"Sama-sama." Eka meletakkan kembali gelas yang sudah kosong. Memeluk kembali istrinya dari belakang.


Sambil menepuk pelan tangan istrinya, dia mencoba menghitung jumlah respirasi nafas pernafasan sesuai anjuran Dokter yang mengunjungi istrinya. Setiap istrinya mengembungkan perut untuk menarik nafas, dia menghitungnya setiap durasi 1 menit.


Setelah beberapa menit dia menghitung nafas istrinya yang kembali normal, Dia mulai memberanikan diri mengajak berbicara istrinya, "Sekarang sayang cerita, tadi mimpi apa? Kamu tadi kelihatan tak tenang sama sekali selama tidur. Apakah itu mimpi buruk? Hmm.. "


Juminten kaget mendengar ucapan suaminya, "Emang Ibu tadi kenapa, Bah?"


Eka tersenyum, lalu mencium kening istrinya. Dia memeluk erat kembali istrinya yang seharian ini hanya memejamkan mata. Melihat bagaimana terpuruk istrinya dengan traumanya masa lalu, membuat dia terpaksa menyetujui pemberian obat penenang untuk istrinya.


Rohaya yang khawatir dengan Eka tak kunjung kembali ke ruang tamu segera berlari ke dalam kamar anaknya. Ucapan syukur melihat anak dan menantunya kembali berpelukan.


"Udah,nanti lagi pelukannya. Emak juga kangen ini. Sana minggir Eka, pinjem bini lu bentar!"


Eka tertawa mendengar celetukan mertua perempuannya, dia memilih duduk di kursi rias. Melihat Ibu mertuanya mencium seluruh wajah istrinya, lalu memeluk erat membuat Juminten bingung dengan perilaku mereka semua.


" Kalian kenapa, sih? Jumi berasa kayak pas sadar dari koma dulu, di peluk sama di cium sama semua orang. "


"Udah diem, biarin Emak peluk lu! Kenapa sih, yang peluk orang tua sendiri protes. Giliran di peluk suami nggak protes, malah balas peluk erat. Gini amat, musuh yang lagi bucin."


Juminten memeluk erat Emaknya, mengabulkan permintaan agar sama-sama adil seperti yang dia lakukan kepada suaminya.


Plak!


" Ya Allah.. Gusti! Emak nggak bisa nafas! Lu pengen emak bengek, apa gimana? "


Eka tak bisa menahan tawanya melihat mertuanya berusaha melepas pelukan anaknya.


"Jumi lepasin! Eka tolong, bini lu minta di sentil emang."


Juminten segera melepas pelukannya dengan cemberut. Bukannya, ini kemauan emaknya untuk membalas pelukannya seperti yang dia lakukan kepada suaminya.


"Tau ah, Emak nggak seru! Jumi mau keluar aja!"


Eka dan Rohaya bergegas mengejar Juminten yang lari keluar dari kamar. Khawatir istrinya akan berteriak kembali seperti tadi pagi.

__ADS_1


"Lho kok udah malam? Bukannya tadi masih pagi?"


Juminten masih tak percaya, dia mencoba berjalan ke arah anak-anaknya. Rasa rindunya menggebu dengan celotehan mereka.


Cklek!


Terlihat Planet tidur di dalam kamar. Juminten tersenyum melihat anaknya yang sudah tertidur pulas.


Dia menghampiri Planet terlebih dahulu, memeluk juga mencium anaknya.


"Sayang, Ibu rindu!"


"Planet juga kangen Ibu!" Juminten kaget, tak di sangka anaknya masih belum tidur terlelap. Mereka berpelukan sambil sama-sama menangis.


Eka dan Rohaya melihat dari ujung pintu, membiarkan Juminten mencurahkan rasa rindu kepada anak-anaknya.


"Ibu, tadi pas Planet bangunin kenapa nggak mau bangun?"


Juminten mengernyitkan dahi, "Memang Ibu kenapa, nak?"


Planet tak sanggup menjawabnya, dia hanya memilih kembali memeluk Ibunya. Merasakan pelukannya mulai lepas dengan suara dengkuran halus, Juminten melepas pelukan mereka.


Dia beralih berjalan ke Bumi yang ada di sebelah kamar Planet. Pintu penghubung kamar mereka terbuka, sepertinya mereka lupa menutup.


Eka segera menghampiri istrinya, "Ada apa, sayang?"


"Bumi tidur di mana? Kok nggak ada di kamarnya?"


Eka tersenyum melihat istrinya. Dia mengamit tangan istrinya, mengajak mereka kembali ke dalam kamarnya.


"Kok di ajak ke kamar lagi?"


Eka membuka bungkus selimut yang belum terbuka, terlihat Bumi tidur pulas sambil memeluk erat guling.


" Ya Allah, kok aku nggak tahu kalau anakku tidur di sini. Maafkan Ibu, Nak."


Juminten memeluk erat anaknya, menciumi seluruh wajah tanpa terkecuali.


"Udah, sekarang lu makan dulu Jum. Lu seharian nggak makan, pasti laper." Rohaya membawakan nasi goreng yang sudah dia siapkan dari tadi.


Juminten hanya melirik nasi yang di bawa Emaknya, dia masih tak ingin beranjak sedikitpun dari pelukan anaknya.

__ADS_1


Eka mengelus bahu istrinya yang masih bergetar," Sayang, makan ya. Kasihan nanti kamu sakit. Anak-anak pasti kena dampaknya."


"Aku mau makan, tapi izinkan aku bertemu Bambang sekarang. Boleh, Bah?" tanya Juminten.


"Boleh sayang, tapi makan dulu ya."


🍓


🍓


Suara musik Klub mengalun keras padahal jam sudah menunjukkan jam 1 dini hari. Juminten dan Eka mencari Bambang di barisan bartender yang ada di depan.


"Kamu duduk sini ya, sayang," ucap Eka sambil mengarahkan kursi ke dekat istrinya.


"Jangan tinggalkan aku, Bah! Aku takut, lihat tatapan mata lapar mereka."


Juminten yang hanya memakai sweater panjang berwarna coklat dan celana levis putih, dipadukan rambut yang dia ikat tinggi-tinggi tetap terlihat cantik natural walau tanpa polesan make up.


Eka segera memeluk posesif istrinya, melihat tatapan memuja dari para pria berhidung belang. Dia segera mengajak istrinya untuk keluar dari ruangan.


Bambang menepuk bahu Eka dari belakang, "Oi, Bang! Aku tunggu di luar dari tadi, ternyata kalian disini. Ayo, duduk depan aja! " dan di setujui kedua kakaknya.


Juminten yang tak tahan melihat tangan Bambang bergerak bebas, dia segera meraihnya. Membuat kedua saudara kandung tersebut menghentikan langkah.


"Bambang, maafkan aku jika kehadiranku dulu adalah masalah di hidupmu."


Melihat adiknya bingung, Eka mengode dengan kedipan mata agar dia membiarkan Juminten menyelesaikan ucapannya.


"Sumpah, aku nggak tahu kalau selama ini Mala suka sama kamu, jauh sebelum kamu mengenalku."


"Maafkan aku juga, karena kehadiranku membuat seluruh atensi perhatianmu tertuju hanya kepadaku dan mengacuhkan Mala yang lebih membutuhkan kamu."


"Maafkan aku, jika aku egois. Aku gagal menjadi seorang istri dan aku gagal menjadi seorang sahabat yang baik. "


Tangis Juminten pecah bersamaan dengan pelukan hangat dari mantan suaminya, "Aku yang minta maaf, selama pernikahan kita, belum bisa berbagi adil dengan kalian. Aku juga gagal menjadi seorang Suami, juga Abang untuk Mala."


"Maafkan aku juga, hanya memikirkan kesenanganku sesaat. Aku saat itu terpengaruh dengan ucapan Mala, aku membenarkan apa yang dia ungkapkan. Dan aku tak tahu, ternyata dia memang tak mengharapkan si kembar ada di janinmu."


"Aku tahu semua itu, aku sudah tahu. Aku tadi siang bermimpi tentang Mala."


Bambang melonggarkan pelukannya, meminta Juminten untuk menjelaskan semua yang dia ungkapkan.

__ADS_1


Eka mencoba masuk dengan obrolan mereka, diam-diam dia cemburu melihat Adiknya memeluk istrinya," Maksud Ibu, apa tadi siang Ibu bermimpi tentang Mala?" ucapnya sambil melonggarkan pegangan tangan mereka.


Ehek, ada cemburu. Ciyee🤣


__ADS_2