
"Apa kau ingin aku meminangmu nanti sore?" tanya Candra.
Sinta menggeleng cepat, dia merasa keputusan ini terlalu mendadak. Entah mengapa dia merasa labil memutuskan semua masalah ini.
"Udah, nanti aja bahas nikah kalian ayo buruan kerja," ajak Eko.
Sinta mulai melanjutkan pekerjaannya, diam-diam dia melirik Candra yang sedang sibuk mengemasi paket. Entah mengapa jika dekat dengan dia, tak pernah ada rasa canggung dalam bersikap. Berbeda saat dengan Dodit, dia di buat merasakan serba bingung juga jantung yang tak pernah berhenti berdebar saat di dekatnya.
Aku harus pilih siapa? Apa aku harus dengan ayah dari calon bayiku? Atau aku memilih dengan pria yang siap menerima kehadiran calon bayiku.
Sinta merenung memikirkan jalan keluarnya. Diam-diam dia merindukan sosok ibu panti yang menjadi tempatnya berkeluh kesah.
"Sin, gimana tadi pemeriksaannya?"
Juminten yang baru pulang dari jalan-jalan duduk dengan sumringah. Terlihat sekali aura bahagianya.
"Ternyata positif Miss, isi 10 minggu," jawabnya berbisik.
"Wah, selamat. Tapi kok sakit, ya." Juminten mengerucutkan bibir.
"Kenapa Miss?"
"Aku yang nikah duluan, eh kamu yang hamil duluan. Ini si gerhana baru umur 4 minggu," ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Kalau Miss kasih nama gerhana, aku mau kasih nama ini si bola ya. Sekali di tendang langsung gol!" jawabnya bersemangat.
🍓
🍓
__ADS_1
Eka di buat pusing dengan tingkah bumi yang seakan tak ingin menjauh darinya. Bahkan lebih posesif dari biasanya.
"Abah... Bumi lapar," teriaknya.
"Di kantor jadi manajer, di rumah jadi baby sister," sindirnya sambil melihat istrinya yang sedang menikmati buah yang sudah di kupas oleh Bambang.
"Itu artinya Abah adalah suami siaga. Sudah sayang keluarga, sayang istri juga sayang anak." Juminten memeluk posesif hanya dalam beberapa detik, karena detik selanjutnya dia akan mode manja kembali dengan Bambang.
Eka mengacak rambutnya dengan kasar, geram menghadapi ngidam istrinya yang sangat aneh baginya.
"Sini Abah gendong, kita makan di depan aja,ya. Abah khawatir nanti naik tekanan darah, gara-gara melihat pemandangan ini."
Bumi dengan polosnya menurunkan bahu Abahnya, karena kebetulan dia sedang berdiri di atas kursi membuat posisinya lebih tinggi dari Abahnya.
" Ngapain ini, nak? "tanya Eka.
" Kata Abah khawatir naik, jadi ya Bumi bantu turunin. "
" Abah! Abah! " sorak Bumi.
"Ayah! Ayah!" sorak Juminten.
Rohaya dan Udin yang mendengar keributan mereka segera lari ke depan. Kaget melihat pemandangan Eka sedang menaiki punggung adiknya layaknya menjadi seorang koboy.
"Astaghfirullah. Eka balik, amit-amit jabang bayi ya Allah. Kalian mau punya anak lagi, kenapa kelakuan malah kayak krucil!" teriak Rohaya.
Mendengar teriakan mertuanya, mereka segera menghentikan pertikaian yang telah terjadi. Merapikan baju juga rambut mereka yang acak-acakan.
"Ayah, capek?" Juminten membawakan segelas air putih kepada Bambang.
__ADS_1
Eka segera menarik gelas yang di sodorkan istrinya dan menenggaknya hingga habis. "Maaf yank, kehausan aku. Semoga ikhlas, ya."
diam-diam dia tersenyum bisa berhasil mendapatkan perhatian istrinya walau dengan cara merampas gelas yang akan diberikan kepada adiknya.
"Tenang Ayah, kita ambil gelas yang lain di rumah yuk."
Bambang semakin di buat takut merasakan perhatian Juminten. Ingin rasanya dia kabur dari rumah ini, tapi dia takut akan di kirim pesan beruntun dari kakak iparnya seperti tadi hingga ponselnya terasa panas.
Apalagi saat melewati di depan mantan mertuanya, lirikan tajam Rohaya seperti samurai. Tusukannya terasa mematikan walau hanya sedikit.
"Abah, Bumi ngantuk, " ucapnya manja sambil merentangkan tangan.
"Yuk, Abah kelonin, " dengan sigap Eka menggendong anaknya kembali ke kamar, menyusul Planet yang telah tidur.
Rohaya menatap anak dan cucunya dengan heran. Mereka sama-sama berlomba minta untuk di manja.
"Ini kenapa ya mereka, Bah. Masa yang satunya manja sama adik iparnya. Anaknya manja sama abahnya."
"Udah, biarin aja mereka kayak gitu. Kayaknya mereka sama-sama sedang ngejalanin karma. Bambang ngejalanin karma, karena dulu pas hamil si krucil nggak ada di samping Juminten. Kalau Eka, dia terlalu buru-buru punya anak, padahal si krucil masih butuh banyak kasih sayang seorang ayah. "
Eka merenggangkan punggungnya yang sudah kaku, setelah berhasil menidurkan gadis kecilnya. Dia melangkah pelan keluar dari kamar Bumi, dikagetkan pelukan hangat dari istrinya.
" Abah capek? "
Eka tersenyum, menggiring istrinya ke dalam kamar. Membantunya berbaring di atas ranjang dan memberikan selimut agar hangat.
Juminten memeluk suaminya yang sudah berbaik hati menuruti semua keinginannya hari ini.
Terima kasih sayang, untuk hari ini. Maafkan aku, membuat alasan mengidam untuk mendapatkan perhatian adik ipar. Aku hanya ingin merasakan apa yang dulu belum pernah aku rasakan. Aku juga ingin, agar Bambang kelak mencintai anak kita seperti Abah mencintai Planet dan Bumi. Kesetiaanku hanya untukmu, kasih sayangku semua ku limpahkan hanya untukmu. Tak ada rasa bahagiaku selain hari ini, memilikimu adalah anugerah terindah untukku. Kamu merelakan semua yang ku pinta demi kebahagiaan ku dan anak kita, apalagi saat nanti dia lahir.
__ADS_1
Juminten mengecup wajah manis di depannya. Eka yang menahan ngantuk mencoba mengintip apa yang di lakukan istrinya.
"Ayo tidur, sayang. Besok Abah masuk kerja."