
Bel istirahat siang berbunyi, Resti segera berlari ke kantin menemui sahabatnya. "Gila, lo! Wali kelas lu ajak gelut!" Juminten hanya tersenyum sambil menghirup bau minyak kayu putih di tangannya. Mencium bau pengharum ruangan, seketika membuat kepalanya pening.
"Doain Jumi kuat ya, Res. Rasanya kepala pening, perut juga munek-munek banget hari ini." Juminten menaruh kepalanya di meja kantin. Tubuhnya terasa lemas hari ini.
"Udah, homeschooling aja. Bukannya emak juga udah nyuruh gitu." Juminten segera menggelengkan kepalanya.
"Kalau homeschooling Jumi nggak bakal ketemu kalian!" Resti pun memeluk Juminten. Memeluk sahabatnya yang sedang membutuhkan banyak dukungannya.
Resti meneteskan air matanya, mengelus pelan punggung Juminten.
"Eh, iya lu di panggil pak dodit noh di ruang guru." Ucapnya sambil menghapus air matanya.
"Hari pertama sekolah, udah mojok aja lu ma guru!"
Tanpa basa-basi Juminten langsung berangkat ke ruang guru. Resti yang melihatnya melongo, ibu hamil satu ini sifat bar-barnya masih mendarah daging ternyata.
Tok!
Tok!
"Masuk!" teriak Dodit dari dalam.
"Permisi, pak!" Juminten tersenyum manis, lalu masuk ke dalam ruang guru mandarin.
Dodit yang sedang duduk di kursinya, seketika menoleh dengan seyuman kecut. Melihat murid spesial nya di hari pertama ini masuk ke dalam ruangannya.
Dodit yang masih duduk, memperhatikan Juminten dari atas ke bawah yang sedang berdiri di depannya.
Spontan Juminten menutup tubuhnya. "Bapak ngapain liatin saya? Saya sudah mandi. Suer pak!" Juminten mengangkat jari dengan angka 2.
Dodit memicingkan matanya, "Siapa nama kamu?"
"Neng Geulis Juminten."
"Hah? Cantik? Cantik dari mananya kamu?" cibir Dodit.
Juminten balik menatap tajam gurunya. "Itu nama saya Pak Dodot, dulu bapak saya syukuran kambing 2 ekor pas kasih nama saya!"
Dodit yang mendengar muridnya berani mengganti namanya, seketika mengeraskan rahangnya. Rasanya umpatan yang ada di bibirnya siap meluncur.
Namun, tiba-tiba Juminten muntah di tempat sampah yang ada di ruangan nya membuatnya kaget. Untungnya di lapisi kantong kresek.
Hoek!
Hoek!
__ADS_1
Hoek!
Tubuh Juminten seketika lemas dan dengan sigap Dodit menggandeng tubuh Juminten duduk di sofanya.
"Ba-pak ja-ngan dekat-dekat na-nti dikira kita la-gi mesum!" Juminten berusaha melepas tangan Dodit.
Dodit mentoyor pelan kepala muridnya yang sukses membuatnya cemas juga sebal. Membantunya duduk di sofa panjang ruangannya. Karena, ruang guru mandarin kebetulan hanya dia sendiri yang menempati.
Dodit mengambil minyak kayu putih yang ada di kotak p3k. "Ini dicium pelan-pelan minyak kayu putihnya."
Dengan polosnya Juminten mencium botol minyak kayu putih, sontak membuat Dodit tertawa.
"Bahaha.. Bukan botolnya! Wanginya! Nih.." Dodit mempraktekkan cara menghirup minyak kayu putih. Lalu memberikannya pada Juminten.
Juminten memicingkan matanya, "Bapak ngapain ngasih bekas ciumannya ke Juminten?"
Seketika Dodit terdiam memikirkan jawaban muridnya, lalu tertawa terbahak-bahak. "Tadi saya menghirupnya pakai hidung. Bukan pakai bibir."
Juminten menyodorkan balik minyak kayu putihnya "Nggak mau, ah. Buat bapak aja!" Mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam kantongnya.
Dodit tersenyum melihat Juminten. Sudah lama dia tidak bisa tertawa lebar seperti ini. Ditambah, dia juga sukses di buat mati kutu di depan murid bandelnya pagi ini.
" Saya ikut baring bentar ya, pak!" Juminten memposisikan dirinya tidur.
"Mau di telponkan mama kamu?" Tanya Dodit sebelum muridnya tidur.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun saya turut berduka cita. Kamu yang sabar ya!"
Juminten menghirup nafasnya. "Maksudnya, Jumi nggak punya mama tapi punya emak."
"Iya terserah kamu, berapa nomernya?"
Di otak Juminten hanya nomer Eka yang dia ingat, mengingat elusan tangan abangnya selalu membuatnya terasa nyaman. Apalagi disaaat mual dan muntah yang parah seperti hari ini.
Eka yang sedang sibuk di bengkel di kagetkan panggilan masuk di ponselnya.
"Halo, assalamualaikum. Siapa ini?"
"Waalaikumsalam. Saya wali kelas Juminten, dimohon orang tua Juminten untuk menjemputnya di sekolah. Karena, Juminten sakit."
Tanpa menjawabnya, Eka segera berganti baju dan pergi menjemput Juminten. Sepanjang perjalanan dirinya di buat was-was juga takut yang terjadi pada Juminten.
Juminten yang sedang asik berselancar di dunia mimpi, dikagetkan tepukan pelan di tangannya.
"Abang!" senyum merekah Juminten melihat sosok abangnya yang selalu menjadi pahlawannya saat kapanpun ada di depannya.
__ADS_1
Eka mengelus kepala Juminten "Kenapa hmm.. Sakit?"
Juminten menggelengkan kepalanya. "Habis muntah aku, bang!" Sambil mendudukkan tubuhnya.
"Pulang yuk, abang gendong apa gandeng?"
"Gandeng aja."
"Oke."
Eka yang sudah bertemu Dodit sebelumnya segera menulis surat izin pulang. "Terima kasih bapak. Mohon maaf sudah merepotkan"
"Ah, tidak apa-apa!"
Eka segera menggandeng tangan Juminten hingga ke mobil. Membuka pintu sebelah kiri agar Juminten bisa masuk.
"Ada yang di pengen nggak? Mumpung kita masih di jalan?" Eka bersiap menyalakan mobilnya.
Seketika Juminten menarik tangan Eka, mengarahkan tangannya ke perutnya. Eka yang paham akan permintaannya, segera mengelus-elus perut.
Sepanjang perjalanan, Juminten di buat terlena dengan elusan di perutnya yang sukses membuat pusing, lemas juga mual nya hilang seketika.
"Jum, kalau abang ajak kamu nikah gimana?" hati Eka terasa lega. Semua unek-uneknya dari kapan hari menguar sudah. Eka tak banyak berharap dengan jawaban Juminten, dia sadar diri dengan trauma yang diberikan adiknya pada Juminten.
Juminten seketika melotot. Berusaha mencerna ucapan abangnya. AC di mobil terasa panas, bahkan udara ikut pengap di buatnya. Otak juga hati seketika ikut buntu tak bisa memberikan jawaban.
Baru juga dia berpisah dengan adiknya, dan sekarang dia diajak menikah dengan abangnya.
"Abang siap terima kamu apa adanya. Abang janji akan membahagiakan kamu juga bayi di kandungan kamu." Eka mencium punggung tangan Juminten.
Juminten seketika diam, berusaha melepaskan tangannya yang di genggam abangnya. Mencoba mengumpulkan kembali nyawanya yang hilang entah kemana. Ucapan talak kemarin masih menancap di memori otaknya dan berbekas rasa sakit di relung hatinya.
Melihat penolakan Juminten juga diamnya, membuat Eka menghentikan mobilnya.
Ditatapnya wajah perempuan yang selalu bersemayam di hatinya beberapa bulan ini. " Abang nggak minta kamu jawab sekarang, kalaupun Juminten minta abang tetap jadi abang kamu selamanya juga nggak apa-apa". Juminten hanya menundukkan pandangannya dan masih belum bisa menjawabnya.
"Jumi minta pulang, bang! Ayo pulang bang! Bang! " Teriakan Juminten sambil menutup telinganya. Membuat Eka gelagapan dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Juminten masih dengan menutup telinganya, ucapan talaknya kemarin tiba-tiba menggema di telinganya. Dan membuatnya frustasi.
Eka di buat cemas melihat Juminten tiba-tiba seperti orang sedang stres.
Setelah sampai di rumah, emak segera menyambut anaknya.
"Ya Allah! Eka!"
__ADS_1
"Eka! Adik lu napa?"
Eka semakin bingung, berusaha menarik tangan Juminten dari telinganya, "Jum! Jum!"