Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 52


__ADS_3

 "Air bisa memadamkan api. Itulah kenapa saat hatimu terbakar, kamu harus menangis. Biar api di dadamu padam oleh air mata."


- Rons Imawan -


...****************...


Juminten memegang keningnya yang tiba-tiba terasa pening, melihat antrian resi panjang ada di depannya. Tugasnya hanya membalas komentar di aplikasi belanja online dan memotong resi agar mempermudah timnya untuk mengemasi barang.


"Candra, ini resinya panjang banget ya, kayak umur, " gerutu Juminten.


Candra hanya bisa tersenyum, mengingat segala syarat yang di ajukan nona mudanya ini sebelum ikut bekerja di timnya. Dari mulai permintaan kamar tidur ekslusif yang berisi kursi nyaman bumil, kursi pijat, cemilan juga memegang bagian pekerjaan yang paling mudah.


"Masih dikit itu miss, semangat!" Jawabnya sambil mengangkat lengan tangan kanannya keatas, tanda menyemangati.


"Sini miss tak elus, biar nggak kaku! " ucap Sinta teman perempuan satu-satunya yang ada di dalam timnya. "Gimana miss, enak nggak?"


Juminten mengacungkan jempolnya. Dirinya selalu terlena dengan elusan tangan Sinta di punggungnya. Entah ada kekuatan ajaib apa dari tangan perempuan ini, hingga membuatnya merem-melek. "Enak, buka panti pijat gih."


"Jangan ditambahi plus-plus, ya!" saut Candra di sebelahnya.


Gadis tomboy dengan usia masih 18tahun, dengan gaya rambut pendeknya yang berwarna merah mengikuti trend artis dari negeri ginseng. Sukses di bikin manyun karena godaan mereka.


"Miss.. Ju-minten!" Teriak Eko sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sambil memegang lututnya.


"Yes, oke! Ngapain dateng-dateng, kayak orang kehujanan? Ngasih kabar apa? " jawab santai Juminten.


Eko segera masuk ke dalam ruangan mereka, mendudukkan tubuhnya di sebelah Candra. "Ini bukan kehujanan miss, tapi mata air yang keluar dari dalam badan."


"Pantesan deras, bung!" cibir Candra. "Miss, ada yang nyari di depan, namanya Bambang. Ini pesan dari anak kasir depan." Candra menunjukkan pesan nya ke depan Juminten.


"Nah, itu maksud saya tadi miss. Ada cowok ganteng, nyariin miss."


Juminten menghirup udara oksigen di dalam ruangan yang terasa segar. Walau telah terkontaminasi dengan bau keringat mereka masing-masing.


Juminten segera berdiri dari duduknya, segera melangkahkan kakinya ke depan. Saat di tengah pintu dirinya berbalik memanggil temannya. "Sinta, ikut yuk!"


Sinta segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari menyusul nona mudanya yang sudah berjalan ke depan.


Bambang berdiri di depan kaca toko sambil meremat tangannya. Hari ini, dia akan pindah ke luar kota, meninggalkan semua kenangannya di kota ini dan pekerjaannya. Tujuan pertamanya sebelum meninggalkan kota ini, mendapatkan maaf dari mantan istrinya.


"Ehem.."


Bambang menoleh, suara yang dia rindukan sudah berdiri di dekatnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku dengan siatuasi saat ini. Ingin rasanya menarik lalu memeluk erat mantan istrinya, namun takut dengan penolakannya.


"Ada apa?" bertanya dengan nada ketus.

__ADS_1


Bambang pun berjalan mendekati mantan istrinya yang berdiri di dekat pintu masuk.


"Aku mau pamit pergi!"


Mendengar kata pergi dari mantan suaminya, setitik rasa cinta di dalam hatinya bergejolak. Ingin rasanya dia berkata 'tidak', agar dia bisa menemaninya saat persalinan. Walau kenyataannya mereka tak akan bersama kembali.


"Hemm.. Udah gitu aja? "


Plash!


Bambang terasa lemas mendengar jawabannya. Menguatkan tubuhnya yang siap terhuyung ke belakang, melihat tatapan nya masih menyimpan kebencian.


Dengan berani, Bambang bertekuk lutut di depannya dan sontak membuat Juminten kaget di buatnya. Karena pertemuan mereka sekarang , tak luput dari pandangan karyawan tokonya.


" Eh.. Mas kok gini? Ayo berdiri! "


Tangan terulur mendekatinya, berusaha membantu mantan suaminya agar bisa berdiri. Dia tak sebengis itu untuk membalas perbuatannya.


Bambang menggelengkan kepalanya, "Aku nggak akan pergi, sebelum kamu maafin aku. Aku udah kejam sama kamu. Aku udah bikin kamu terluka dan aku udah menolak anakku sendiri. "


Bambang menundukkan kepala, dengan meneteskan air matanya. Juminten yang tak kuat menatapnya, memilih meninggalkan mantan suaminya di luar toko sendirian.


" Miss! Miss! "Sinta yang melihatnya masuk, berusaha memanggilnya agar kembali namun diacuhkan.


Juminten memilih masuk kedalam kamar eksklusifnya. Segera menutup dan juga menguncinya. Memilih menenangkan seorang diri di dalamnya.


"Abang nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, makasih. Titip salam aja ke Juminten."


Bambang pun berdiri dan akan meninggalkan toko. Tiba-tiba pergelangan tangannya di tarik keras oleh Sinta.


"Abang yang gentle,dong! Jangan meninggalkan miss sebelum permintaan maafnya sudah keluar! Aku yakin, di tempat sana abang pasti di buat tak tenang dan bakal kembali ke sini lagi. Jadi, selesaikan dulu masalah abang, baru abang pergi."


Sinta menarik tangannya ke arah warung kopi yang ada di dekat toko, Bambang hanya pasrah mengikutinya.


"Kopi susu 1 sama susu coklat hangat 1,bu!"


"Minum sini apa bawa ke toko?" tanya Ibu warung.


"Bawa sekalian aja ke rumah, bu. Kalau nggak ngerepotin!"


Ibu warung hanya geleng-geleng mendengar ucapan Sinta. Perempuan tomboy ini, sudah menjadi pelanggan tetapnya.


"Saya nggak mau ikut campur masalahnya mas sama miss—"

__ADS_1


"Siapa miss?"


"Kalau ada orang ngomong, jangan di potong!" Tangan Sinta menabok keras lawan bicaranya dengan bibir menggerutu.


Bambang kaget, baru pertama mereka bertemu namun tangannya sudah menjadi sasaran perempuan di depannya.


"Sorry, refleks tangan gue bang! Kalau deket sama cowok yang bisanya cuman nyakitin cewek!"


"Miss itu ya nona muda. Anaknya si boss. Dia baru 3 hari kerja disini, abang siapa nya miss? Kok dateng-dateng bikin dia nangis."


Bambang tersenyum smirk, mengetahui niat perempuan di sampingnya mengajak kesini.


"Apa lu, mau gue tonjok! Lu kira gue nggak tahu, kalau lu mikir gue kepo!" Sinta balik menatap tajamnya.


"Gue ngajak lu kesini, biar ademan kalian. Kalau udah adem, kalian baru bisa rembukan—"


"Sok yes lu, Sin kalau ngomong! " Saut ibu warung sambil menyajikan pesanan mereka.


"Ih, ibu jangan ikut-ikut! Jadi lupa deh. Gue tadi nyampe mana?"


"Bisa rembukan." Jawab Bambang sambil menyeruput kopi susunya.


"Iya, bisa rembukan. Jadi biar clear masalah kalian, apalagi sudah ada dedek bayi dalam perutnya miss. Emang lu nggak pengen nyentuh itu perut?"


Bambang hanya diam, menundukkan pandangannya sambil mengaduk gelas.


"Eh, ditanya diem!" Sinta menabok kembali lengan Bambang.


Membuatnya menatap tajam wanita rasa pria di depannya.


Gila, nih cewek bar-bar amat! Lebih parah dari Juminten dulu.


"Apa? Nggak usah manja lu!" tatap baliknya. "Sakit tabokan tadi, nggak sepadan sama sakit hatinya miss sama lu!"


"Sok tahu!" jawab Bambang.


Ucapan mereka terhenti mendengar panggilan masuk di ponsel Bambang.


"Halo, assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam!"


"Abang kok tiba-tiba ngundurin diri? Abang mau kemana? Aku di sekolah sendirian, bang!"


Tanpa menjawabnya, Bambang mematikan telepon nya. Menekan menu blokir di menu aplikasi whatsapp nya.

__ADS_1


"Kenapa bang, kok di blokir? " Tanya Santi sambil melihat isi ponsel yang di pegang Bambang.


"Ngapain ngintip ponselku!" jawabnya ketus


__ADS_2