
Sinta segera berlari mencuci bibirnya dengan air yang mengalir dari kran yang ada di depan rumah, berusaha membersihkan bekas bibir pria kurang ajar yang dengan seenaknya mengambil ciuman pertamanya.
Pria bangs*t!
"Kenapa gue bego banget? Kenapa malah tubuh gue langsung lemah pas di depan dia?" gumamnya.
Sinta mengabaikan kaosnya yang sudah basah kuyup, membuat pria yang saat ini sedang memperhatikannya dari jauh merasa gusar. Akhirnya jaket yang dia pakai, dia lepaskan dan melempar asal ke arah Sinta.
" Woi tangkap! Body rata lu keliatan. " sambil merubah arah tubuhnya, tak ingin melihat lekuk tubuh yang sialnya bisa membuat jakunnnya naik ke atas dan ke bawah.
Sinta lupa belum memakai seragam kerjanya, memilih kaos press body berwarna putih di padukan dengan jaket kulit hitamnya saat berangkat kerja.
"Sial! Gue lupa belum ganti baju!"
Dengan tergesa-gesa Sinta masuk ke dalam rumah, "Miss numpang ganti seragam di kamar dong." ucapnya dengan bersembunyi di belakang pintu.
"Lu ngapain pakai ngumpet-ngumpet gitu segala? Baju lu robek?" Juminten melangkah mendekati Sinta.
"Nih!" Mempertunjukkan kaos yang sudah basah kuyup dan terlihat transparan.
Juminten segera mengantarkannya ke dalam kamar, terlihat kasur sedang berserakan kelopak mawar merah dengan buket bunga besar.
"Wah, keren siapa yang bawain ini Miss?" ucapnya kagum melihat bunga sebanyak itu, perempuan mana yang akan menolak di beri barang seindah itu.
"Dodit."
Sinta di buat tercengang mendengar sosok pengirim bunga mawar, pria yang dengan mudahnya mengambil ciuman pertama dan berhasil mengambil sisi lemahnya.
Melihat gerak-gerik karyawannya sedang salah tingkah membuat Juminten curiga, "Lu cemburu ya?" Sinta menggelengkan kepala dengan gesture tangan mengatakan tidak.
Di luar, Dodit akhirnya berhadapan dengan Udin, karena memang tujuan utamanya untuk bertemu calon mertua.
"Ada apa Mas Dodit kok kata anak-anak cari saya?" tanya Udin memilih duduk di samping Dodit.
"Ehem." menghilangkan nervousnya, "Iya Bapak, saya mau ada perlu dengan Bapak."
Melihat Rohaya, Udin memberi kode tangan agar mendekat ke gazebo mendampinginya, "Ada apa, Pak?"
Membuat Dodit semakin salah tingkah di buatnya, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengutarakan isi dalam hatinya.
__ADS_1
Bismillahirrahmanirrahim.
"Saya mohon izin kepada Bapak dan Ibu untuk mengizinkan saya mengajak taaruf Juminten." ucapnya menunduk dengan meremat keras tangannya.
Rohaya melirik Udin meminta jawaban dan hanya di balas kedipan mata suaminya.
"Saya ingin meminang Juminten untuk menjadi istri saya, juga untuk Ibu untuk Rena. Saya siap membahagiakan dia lahir dan batin juga siap memberikan seluruh permintaan Juminten juga kebutuhan si kembar."
Udin menepuk bahu pria yang ada di hadapannya, "Saya sangat tersanjung mendengar niat baik Mas Dodit untuk meminang anak saya, apalagi Mas sendiri tau bagaimana minusnya tingkah anak saya yang terkesan nyablak."
Udin terdiam sesaat, "Maafkan saya sebelumnya, jika jawaban saya tidak sesuai dengan harapan Mas Dodit."
Dodit semakin di buat gusar mendengar jawaban Udin selanjutnya. Rohaya hanya diam tak berani ikut mengeluarkan suara, membiarkan suaminya mengungkan semua.
"Juminten sudah ada yang meminang beberapa hari yang lalu dan kami sekeluarga tinggal menunggu keluarganya untuk datang melamar."
Melihat tak ada respon dari Dodit, Rohaya berpindah duduk di sebelahnya, "Mas Dodit nggak apa-apa?" ucapnya pelan.
"Ah, saya nggak apa-apa bu, hanya kaget saja. Semoga yang di pilih Juminten adalah pilihan yang terbaik untuknya."
"Mari di minum dulu Mas Dodit, maaf suguhan ala kadarnya." Dodit hanya melirik minuman yang sudah di suguhkan di depannya.
Dodit segera berlari menuju mobilnya dan keluar dari perkarangan rumah Juminten.
🍓
🍓
🍓
"Tiaya!" anak kecil berumur satu tahun, berjalan dengan tak sabaran menuju Kakaknya.
Bumi yang sedang berjalan dengan Tiara segera menangkap adiknya yang akan jatuh, "Hati-hati adik, nanti jatuh!"
"Aku duluan ya Bumi, Mama aku nunggu disana." Tunjuknya ke arah selatan.
"Oke, aku nyusul Planet aja. Bye." Bumi berjalan lesu mendekati kakaknya yang sudah duduk di meja kantin, mengacuhkan bekal yang di sodorkan Planet.
Asik memperhatikan temannya yang sedang makan bersama adik juga Mamanya, "Punya Adik pasti seru ya, Planet. Kapan Allah kasih kita Adik?"
__ADS_1
"Udah tunggu aja, inget kata Ibu semalam 'Ibu belum ketemu formula adonan yang cocok untuk cetak Adik kalian', masih inget nggak?" ucap Planet dan dijawab gelengan kepala oleh Bumi.
Bumi mengacak-acak bekal makanannya, membuat Planet gemas. Dengan segera mengambil alih sendok yang ada di tangan adiknya," Ayo makan! "
Bumi menggeleng lemah, meletakkan kepalanya di meja kantin," Bumi nggak laper, Kak. Bumi pengen Adik, lihat Tiara terlihat bahagia sejak punya Adik. Bisa di ajak berantem, bermain, lomba lari pasti seru."
Planet menyodorkan kembali sendoknya," Nanti Planet bantu Ibu buat cari adonannya, kamu di rumah aja bantuin om sama tante kelarin gunting kertas kerjaannya Ibu gimana? " senyum sumringah di bibir Bumi," Sekarang kamu makan, ya. "
Dengan cepat Bumi menghabiskan hingga bersih bekal yang sudah dia bawa dari rumah.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Planet dan Bumi segera berlari menemui Ayahnya yang sudah menunggu di depan, karena hari ini Bambang akan mengajak mereka untuk jalan-jalan.
" Bumi! Planet!" teriak Bambang agar anaknya mendekat.
Bumi segera naik di depan Ayahnya dan Planet di jok belakang, "Okay, let's go!" teriak Bumi.
"Go!" teriak Bambang dengan menyalakan mesin motornya.
Bambang mengajak mereka keliling Mall, menuruti semua apa yang mereka minta kecuali pakaian, karena Juminten selalu melarang untuk membelinya.
"Kita ke time zone ya sayang, mau?" dengan antusias Planet berjalan mendahului Ayahnya yang sedang kerepotan menggendong Bumi sambil membawa tas mereka.
"Ayah, rasanya punya Adik gimana sih?"
Bambang tersenyum mendengar pertanyaan putrinya, ternyata dia masih menginginkan sosok Adik seperti yang di ceritakan Juminten kemarin. Bersyukur komunikasi antara dia dan mantan istrinya masih terjalin baik, apalagi tentang semua tumbuh kembang anaknya.
" Ayah kan belum pernah punya Adik, soalnya dulu Ayah udah cukup nyaman walau hanya punya saudara Abah Eka."
"Pasti nggak seru! "
Merasa anaknya perlu waktu untuk mengobrol dan meluruskan semua masalahnya, Bambang memilih mengajak anaknya ke food court, "Planet, kita cari tempat makan aja ya sayang. Biar semangat buat main di time zone nya."
Bambang dengan telaten menyuapi kedua anaknya, "Mau tambah lagi makanannya?" Mereka serentak menggelengkan kepala.
"Kalian ada masalah apa sama Ibu?" Bambang menyodorkan minuman dingin untuk masing-masing anaknya.
"Ibu ngomong apa emang sama Ayah?" tanya balik Planet.
"Eh, di tanya kok malah tanya balik."
__ADS_1
"Pokoknya Bumi bakal mogok bicara sama Ibu, kalau Ibu nggak cepetan kasih Adik buat kita!" gerutu Bumi.