Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 56


__ADS_3

Juminten di buat tersenyum bahagia, setelah menutup telepon dari Bambang. Siapa yang tak bahagia, mendengar perhatian nya untuk kesehatan anak mereka. Tak hentinya, tangan Juminten mengelus perut nya.


"Kowe medot tresno ku demi wedoan liyo.. Yowes ora popo InsyaAllah aku iso.. Lilo! "


Sindir Candra sambil menyanyikan lagu dangdut yang pernah viral, saat bosnya kembali masuk ruangan.


"Meh sambat kaleh sinten. . Yen sampun mekaten.. Merana urip ku.." Sambung Sinta


"Ho-a.. Ho-e.." Nyanyi mereka berbarengan sambil melirik sinis Juminten.


"Terusin aja terusin... Tinggal potong gaji aja, kok ribet!" Juminten tersenyum sinis.


Mulut mereka yang mengangga lebar, langsung mereka kunci rapat-rapat. Membuat mereka segera kembali fokus ke pekerjaan yang ada di depannya.


Juminten yang melihat timnya tak membuka suara lagi, akhirnya tertawa keras.


"Hahaha.. Ya Allah, di kibulin nurut aja. Emang enak dikerjain!"


"Kalian lupa, kan akoh disinih juga jugah jadi kar.. Yawwan.." ucapnya dengan nada seperti anak alay.


Candra menepuk jidatnya. "Lah iya, bener kata miss. Ngapain kita takut di potong gaji. Kan duit di pegang Nyonya Rohaya." Dibalas anggukan oleh Sinta.


"Heh, kalian nggak sopan!" sinis Juminten. "Ucapkan namanya yang lengkap!"


"Nyonya Rohaya.. ISTRI LUAR BIASA. Kecantikannya.. TIDAK PERNAH BIASA. Allahu Akbar!" ucap mereka bersemangat.


Membuat Juminten semakin terbahak-bahak. Mengingat setiap karyawan di wajibkan mengucapkan kalimat seperti itu, sebelum menerima honor mingguan mereka.


"Hati-hati miss, jangan terlalu mudah percaya, juga mudah memberi hati!" ucap Sinta serius.


Juminten pun tersenyum mendengar perhatiannya. "Barang yang sudah patah, walau sudah di rekatkan dengan dengan lem tak akan bisa kembali sempurna seperti semula, Sin. Sama kayak gue, bisa baik lagi sama dia. Tapi, jangan meksa minta hati juga kepercayaan balik kayak dulu lagi! "


"Aku nggak bisa bayangin gimana jadi miss, pasti berat. Udah nikah muda, hamil, eh di hianati pula." ucap Candra.


"Makasih Can, udah ikut terharu sama kehidupan gue. Tapi, kok gak enak banget ya dengerinnya." Juminten melirik Candra sambil geli.


"Eh, kenapa miss kok gitu?"


"Dasar oon! Emang lu pengen ngerasain hamil juga?" Jawab Santi sambil mengemas barang dan dijawab anggukan Juminten.

__ADS_1


"Aku doyan cewek kali. Masa mau adu duo bakso di ranjang. Oh.. Tentu tidak nikmat!"


"Astagfirullah, Om Candra udah toxicin duo gemoy. Jangan dengerin ya, nak!" Juminten memegang perutnya, seolah-olah menutup telinga mereka dan mengajak nya bicara.


Tiba-tiba seorang anak berlari masuk ke dalam ruangan dan memeluk Juminten." Adek bayinya lahiran kapan, Ibu? "


Mereka yang ada di dalam di buat tercengang, melihat pemandangan di depan mereka. Bahkan Juminten di buat melongo, ragu harus membalas atau membiarkan anak ini memeluknya.


"Eh, anak siapa nih?" tanya pelan Juminten sambil melirik anak yang masih memeluknya.


Sinta mengerutkan keningnya, seperti mengenal sosok ini. Dengan tali rambut ungu bergambar pony dan tas ungu juga bergambar pony.


"Rena!" teriaknya spontan.


"Ibu Sinta.. !" Rena berlari memeluk Sinta.


Mereka di buat kaget, melihat teman mereka yang tomboy ternyata memiliki rasa sayang yang besar dengan anak kecil. Bahkan, tak segan Sinta berdiri dan menggendong anak tersebut.


"Sebentar, Ibu ambilkan biskuit dulu. Rena mau." Dijawab anggukan kepala.


Sinta membuka stok cemilan di dalam tasnya. "Kamu ambil, mau yang mana sayang?"


"Miss, ijin ke pantry. " Dijawab anggukan oleh Juminten. Karena memang peraturan ruangannya, untuk memakan makanan di luar.


"Aku baru tau miss, kalau si tomboy punya sisi sayang anak. Dan aku juga gak nyangka, kalau dia punya simpanan cemilan di dalam tas." Candra dan Juminten masih dengan bengongnya sambil memperhatikan Sinta keluar dari ruangan.


"Sama. Aku juga baru tahu, weh! Pantesan, dia walau telat makan siang santai. Ternyata punya kantong doraemon di tasnya." dan dijawab anggukan Juminten.


Sedangkan di pantry, Sinta sibuk membuatkan susu coklat bubuk yang selalu ada di dalam tas anak tersebut.


"Terima kasih, ibu." ucapnya bersemangat.


Sinta mengelus rambut adik asuhnya. "Sama-sama, sayang. Nenek dimana?"


Rena yang asik dengan susunya, hanya menjawab dengan mengangkat kedua tangannya.


Sinta di buat gemas dengan rambut curly Rena. Menyisirnya dengan tangan dan sesekali mencium pipinya.


Rena adalah salah satu anak yang beruntung. Karena, di umurnya yang belum genap 1 tahun dia sudah kembali menemui keluarga kandungnya. Sedangkan dirinya tidak, sampai di usia sekarang Sinta masih hidup di panti.

__ADS_1


"Rena kangen sama teman-teman, boleh kesana? " Ucapnya sambil menatap mata Sinta.


"Iya, kalau papa ada waktu. Rena sabar ya, sayang. Kalau kangen sama Ibu, Rena minta kesini aja."


"Rena kangen ibu!" Rena menangis di pelukannya, membuatnya ikut sedih.


Juminten yang melihat scene anak dan ibu berpelukan di pantry, semakin membuat diri keponya membara. "Kalian kenapa kok nangis bareng? Ada masalah?"


Sinta segera melepaskan pelukan mereka dan menghapus air matanya. "Nggak ada apa-apa Miss, Rena tadi bilang kangen. Jadi terharu, deh."


"Yaudah kalo nggak ada apa-apa. Kerja lagi yuk, ada orderan masuk banyak nih. Kasian, Candra sendirian." Juminten menyenggol lengan Rena.


"Iya, miss. Tadi niatnya, nungguin neneknya. Eh, malah lama banget! "


"Sebenernya, anak ini sama neneknya apa nggak sih? Masa belanja sampe segini lamanya?" Juminten akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya.


Sinta menempelkan jari telunjuk di bibirnya, agar bosnya menjaga perasaan anak kecil yang di sampingnya. Dan di jawab anggukan kepala Juminten.


Ternyata, Rena tipikal anak yang penurut. Dia bisa nyenyak tidur siang, di dalam ruangan kerjanya. Bahkan, suara tawaan mereka di dalam ruangan tak membuatnya terjaga.


Tok!


Tok!


Seorang cleaning service mengetok pintu. "Permisi, Miss. Maaf, tadi apa ada anak kecil perempuan usia 9 tahun masuk ke dalam ruangan ini?"


Juminten pun menanyakan dengan mengode mata ke Sinta. Dan Sinta yang paham, segera beranjak untuk menemui orang tua Sinta.


"Mana orang tua nya anak kecil tadi? Biar saya yang temuin!"


Sinta mengikuti langkah kaki cleaning servis, ke dalam ruangan cctv toko. Sinta pun berdehem melihat sosok yang dia pertama lihat.


"Ehem! "


Sontak lelaki berwajah asia dengan tubuhn tinggi menoleh. Terlihat dasi yang dibukanya sembarangan, 2 kancing atas yang terlepas dan kemeja yang menggulung tak rapi. Menunjukkan bahwa ia sedang kalut mencari anaknya.


"Kamu! Bukannya sudah aku bilang, jangan buat toxic dengan kehidupan Rena." Telunjuknya menunjuk tepat di depan mata Sinta.


Bukannya Sinta takut, dia malah balas menatap tajam pria kurang ajar di depannya. "Tuduhan apa lagi yang akan kembali kau tuduhkan tuan? Semakin kau menuduhku, semakin menunjukkan betapa bodoh otak anda!"

__ADS_1


"Hei, jaga ucapanmu!" Lelaki itu memajukan tubuhnya ke depan Sinta. Sontak Sinta memundurkan tubuhnya hingga terhimpit ke dinding.


__ADS_2