
Juminten memegang perutnya, entah mengapa tiba-tiba perutnya rasanya kaku hingga membuatnya susah gerak.
"Abang, sakit!" teriaknya tertahan.
Eka pun gelagapan, di buat bingung dengan yang terjadi pada adik iparnya. Berusaha menghubungi Bambang, namun tidak ada jawaban. Melihat Juminten yang akan pingsan, Eka segera berlari menangkapnya.
Tapi, Juminten berusaha kuat untuk tidak pingsan. Berusaha melawan rasa sakit perutnya. Tangannya refleks menarik tangan abangnya untuk mengelus perutnya.
Persetan dengan hukum norma tata susila! Yang dibutuhkan sekarang, perutnya sembuh dan janinnya baik-baik saja. Eka yang paham akan maksud adik iparnya, mengelus-elus perutnya dengan pelan-pelan.
Tiba-tiba,Bambang datang dengan membuka pintu rumah secara brutal.
Brak!
"Maksudnya Abang apa, sentuh-sentuh istriku! DIA ISTRIKU, BANG!" Bambang menatap tajam kakaknya yang menyentuh istrinya.
"Dia memang istrimu! Tapi, istri yang kau acuhkan!" balas Eka.
Bambang sudah bersiap mengepalkan tangannya ke muka Abangnya. Melihat istrinya yang berdiri lalu ambruk, membuatnya mengurungkan pukulannya.
"Cepat bawa istrimu ke rumah sakit!" teriak Eka.
"Hah, kenapa rumah sakit? Di rumah aja dulu!" Bambang hanya santai, lalu menidurkan istrinya di atas kursi.
"Sifat bodoh, jangan di pelihara! ISTRIMU SEDANG HAMIL! PUAS!" membuat Bambang tercengang dengan ucapan abangnya.
Melihat adiknya yang hanya diam, Eka segera menggendong adik iparnya, untuk di bawa ke praktek bidan yang ada dekat rumahnya hanya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan Eka tak hentinya menggerutu memberi semangat ibu hamil dan calon ponakannya. "Kalian kuat! Kalian kuat! Ayo, kalian kuat! "
Beruntung praktek bidan masih buka dan keadaan sepi, karena waktu sudah jam sebelas malam. Eka segera berteriak memanggil bidannya, "Bu bidan, tolong! Tolong!"
Asisten bidan segera mempersilahkan Eka untuk membaringkan pasien. Terlihat asisten dengan cekatan membantu Juminten agar cepat sadar. Sedangkan Eka, masih dengan tangan dan lutut yang bergetar duduk menjauh.
"Mas nya, minum dulu. Rilex, mas." Bidan senior menyuguhkan segelas teh hangat. Eka pun segera meminumnya hanya sekali tegukan. Mengabaikan rasa panas di mulutnya juga tenggorokan.
"Alhamdulillah, istrinya sudah siuman, pak!" Eka berusaha menelan saliva. Istri? Andai itu benar, pasti dia rasanya bahagia.
"Bukan, saya kakak iparnya." bidan yang mendengarnya terkaget.
"Loh, suaminya kemana?"
"Sebentar, sepertinya sedang perjalanan kesini."
Eka mencoba menghubungi Bambang berkali-kali, namun nihil. Tak ada balasan sama sekali.
"Bu, saya pulang dulu ya. Titip adik ipar saya, sebentar. Saya mau jemput suaminya."
Eka segera berjalan pulang ke rumahnya, namun ZONK! Pelaku utama pergi dengan membawa motornya tanpa pesan ataupun telepon. Eka semakin menggertakkan giginya, melihat kelakuan pengecut dari adiknya. Cuih, adik! Adik macam apa tega seperti itu. Eka segera kembali ke bidan, masalah Bambang biar urusan akhir.
__ADS_1
"Maaf Bu, adik saya masih gemetar. Belum kuat buat kesini. Jadi, saya yang di utus untuk mewakilinya." ucap bohong Eka demi menjaga perasaan Juminten juga nama baiknya.
Bidan menarik napas panjangnya, "Saya kurang enak, membahas masalah hubungan ranjang dengan masnya. Kan masnya belum menikah."
Eka tersenyum, "Saya sudah 27 tahun, Bu. Insya Allah kurang lebih saya tahu dunia ranjang. Walau belum merasakannya. "
"Wah, masnya awet muda. Ndak kelihatan umur sudah dewasa."
Obrolan mereka terhenti ketika Juminten berlari tergopoh-gopoh ke wastafel di dekatnya. Juminten memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Dengan sigap Eka meminjat pelan tengkuknya.
Hoek!
Hoek!
Juminten semakin lemas, hingga wajah dan bibirnya pucat pasi. Asisten bidan pun membantunya untuk berbaring.
"Maaf, mas. Sepertinya Mbak Juminten membutuhkan cairan infus. Saran saya, lebih baik di bawa ke rumah sakit. Agar bisa ditangan juga dengan dokter kandungan."
Eka semakin cemas dan bingung. Mencoba kembali menghubungi menelpon adiknya, namun urung tak di angkat. Akhirnya, dengan terpaksa meminta pertolongan Bapak dan Emak.
Tut!
Tut!
"Assalamualaikum, kakanda. Ada apa gerangan?" suara imut Emak yang menjawab teleponnya.
"Waalaikumsalam, ada itu..Mak. Eka gemetar, Mak! Sebentar Eka duduk dulu." Eka mencari tempat duduk di luar ruangan.
Eka menarik nafas panjangnya, karena keputusan berat menghubungi kedua orang tua Juminten.
" Tarik nafas lagi, Bang! " Eka menarik nafasnya kembali.
"Emak.."
"Iya, Emak disini dari tadi. Ada apa,bang?"
"Juminten.."
"Juminten kenapa?"
"Ha-hamil!"
"Hamil anak siapa?" sepertinya Rohaya juga sedang mengalami loading lambat alias lola.
Eka yang menjadi pendengarnya menjadi bingung. Satu sisi ingin menertawakan, tapi satu sisi yang lain menjadi bingung menjelaskannya. Layaknya orang yang sedang dilema.
"Bang, ditanyain kok diem."
__ADS_1
"Hamil sama Bambang, Mak?"
"Bambang bukannya adiknya, Abang?"
"Iya, suami Juminten, Anaknya Emak! Mak, Abang mohon sadar!" Eka meremat rambutnya, rasa pusing menderanya.
"Astaghfirullah! Juminten hamil!"
"Nyebut Mak, nyebut! Allah! Allah!" saut Udin di dalam telepon. Sepertinya mereka sedang di dalam kamar.
"Iya.. Iya.. Pak. Allah! Allah! Udah, bapak aja yang telepon. Emak lemes rasanya."
"Halo, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, Pak! Pak, Juminten di rujuk ke rumah sakit. Tolong ke praktek bidan yang dekat rumah. Sekarang ya, pak!"
Eka langsung mematikan panggilan teleponnya. Menghapus keringat yang ada di dahinya. Kejadian ini terulang lagi, saat dia menemani mamanya di rumah sakit sendirian.
Eka masih duduk di depan, sambil mencari angin juga mencari akal untuk menghubungi adiknya.
Tak lama suara mobil datang. Kedua orang tua Juminten turun dari mobil, sepertinya Udin menyetir dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai.
"Abang, tolong! Emak nge-lek. Tolong!" Rohaya meminta Eka menyambut tangannya yang terulur.
Eka segera menyambut tangan Emak, membantunya duduk di kursi depan praktek bidan. "Emak kok bisa jet lag, emang Bapak ngebut?"
"Ka-lau ngebut, sudah biasa kerjaan Bapak. Tapi, kalau nabrak pagar rumah sendiri baru pertama kali!" Rohaya masih mengatur nafasnya. "Juminten sekarang dimana?"
"Lagi di dalam, Mak. Kayaknya tidur, habis muntah-muntah soalnya."
Rohaya segera masuk ke dalam, disambut dengan bidan dan asistennya. Ternyata, mereka masih berjaga disana.
"Keluarga Mbak Juminten?" dijawab anggukan Rohaya. "Silahkan duduk!" Rohaya segera mendudukkan tubuhnya di depan bidan.
"Begini, Ibu. Tadi kejadiannya abang iparnya kesini mengantarkan Juminten dalam keadaan kram perut dan tubuhnya lemas."
"Setelah saya periksa, ada bekas cairan sp*rma di vag*na mbak Juminten. Karena, umur kehamilannya masih muda jadi rentan mengalami kontraksi. Mbak Juminten tadi juga muntah-muntah membuat tubuhnya semakin lemas."
Bidan mengeluarkan amplop yang berisi surat rujukan. "Ini rujukan dari saya, untuk ke Rumah Sakit MINTA WARAS agar segera di tangani dengan baik, juga Mbak Juminten agar di awasi oleh dokter kandungan. "
"Terima kasih, bu. Bayar berapa, ya?"
"Tidak usah, kami tidak menjalankan tindakan apa-apa."
"Terima kasih."
Rohaya segera menemui anaknya yang sedang terbang lemas diatas ranjang. "Jum! Jum!" Sambil menepuk pelan pipi anaknya.
__ADS_1
Juminten segera membuka matanya,lalu tersenyum melihat Emaknya yang datang. Melihat keadaan anaknya seperti itu, Rohaya meneteskan air matanya.
"Ayo, ke rumah sakit ya, nak!" Juminten mengangguk lemah.