Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 104


__ADS_3

"Perasaan aku kok nggak enak, ya. Dia yang ngidam, kenapa harus aku yang di ajak?"


Bambang segera berangkat menyusul kedua kakak iparnya, yang sudah berangkat ke kedai bakso langganan dia dengan Juminten.


"Bambang, sini!" Juminten melambaikan tangan, melihat sosok yang dia cari sejak tadi.


"Sayang, emang kalau ngidam harus gini juga ya. Masa aku duduk sama si kembar, kamu duduk berdua sama Bambang."


Eka tak hentinya menggerutu melihat tingkah posesif istrinya kepada Bambang. Bahkan sesekali dia membersihkan bibir mantan suaminya yang belepotan, dengan tissu yang ada di tangannya.


Sedangkan dia sendiri, duduk mengurus kedua anaknya agar tidak belepotan saat makan. Sungguh miris menuruti ngidam aneh istrinya, yang sukses membuat dia tak nafsu makan.


"Ayo Bambang, aak.." Juminten menyuapi bakwan yang ada di tangannya.


"Ngapain pake suap-suapan, Sayang. Diperjanjian tadi nggak ada kayak gitu, kok sekarang malah ngelakuin itu. Suami kamu itu aku, sayang," geramnya.


Bambang yang sedari tadi tak nyaman melihat tatapan abangnya, seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Udah, nggak usah di dengerin abang kamu. Ayo, buka mulutmu! Kamu agak kurusan soalnya. Kamu makan sehari sekali, ya?"


Bambang kembali melirik kakaknya yang sedang menatapnya tajam.


Melihat ketakutan Bambang, Juminten melirik suaminya yang ada di seberangnya.


"Abah, kenapa sih. Nanti kalau adik mereka ileran gimana? Nggak kasihan emangnya?"


"Boleh deh, dengan terpaksa," jawabnya lesu.


"Kok terpaksa sih, yang ikhlas." Juminten menatap tajam suaminya.


Pembeli yang lain ikut tertawa melihat pertikaian mereka. Sedangkan Planet dan Bumi fokus dengan makanan mereka masing-masing. Mengacuhkan orang tuanya yang sedang adu pendapat.

__ADS_1


Hayo.. Siapa yang dulu hamilnya kayak gitu, ******ngacung*********🤣***


🍓


🍓


"Bagaimana hasil tespack calon istri saya, dok?" Dodit menelpon salah satu rekannya.


"Kalau memang garis 2 dan satunya samar, besar kemungkinan calon istri bapak sedang hamil. Alangkah lebih baiknya, segera di ajak kesini untuk memeriksakan kandungannya. Kebetulan waktu saya praktek hingga jam 2 siang. "


Dodit segera melajukan mobilnya ke rumah Juminten, ingin segera menemui kekasihnya yang selama ini selalu menghindarinya saat di rumah.


Mengingat kejadian saat mereka menumpahkan seluruh rasa cinta dan berbuah menghasilkan hasil cinta. Membuatnya bersemangat menemui pujaan hatinya.


"Assalamualaikum." Melihat sosok Dodit yang mengetuk pintu kerja, Sinta pura-pura tak melihat.


"Waalaikumsalam." Rohaya segera menyambut kedatangan tamu, yang selalu membawa buah tangan untuknya. Hari ini Dodit membawakan brownis yang terkemas dalam kardus putih.


Dodit mengikuti langkah Rohaya menuju gazebo yang ada di depan rumah. "Tunggu sini dulu ya, Emak suruh Sinta kesini. Biar bisa awasin Candra juga."


Sinta menghentakkan kakinya sepanjang perjalanan. Malas rasanya membawa baki berisi kue untuk di sajikan kepada pria yang membuatnya muak akhir-akhir ini.


Melihat calon istrinya semakin dekat, Dodit menegakkan punggungnya sambil menampilkan senyuman termanisnya.


"Hai, Sin. Apa kabar?"


"Nggak usah sok basa-basi! Jangan sampai air yang ada di depanku, membuat tanganku gatal untuk menyiramkannya tepat di wajahmu!" ucapnya sengit.


Dodit hanya tersenyum melihat wajah ibu hamil kesayangannya. Semakin tampak cantik dan mempesona. Tangannya terasa gatal, ingin mendekap erat kembali tubuh kekasihnya. Meminta maaf yang baik dan mengajaknya ke pelaminan seperti yang dia impikan.


"Boleh aku menyentuh perutmu?" ucapnya pelan.

__ADS_1


"Ngapain pake niat-niatan sentuh, bukannya kamu berani membeli perawan wanita ini. Jangan-jangan, kamu di luar sana suka membeli perawan wanita lain!" jawabnya sengit.


Dodit hanya tersenyum, sepertinya bawaan hamil kekasihnya ada di kendali emosinya.


"Lalu, apa aku tak boleh menyentuh anakku yang masih bersemai sebesar kerikil di dalam perutmu?"


"Nggak usah aneh-aneh. Aku nggak hamil. Kalau merasa nggak ada yang ingin di ucapkan sebaiknya anda.... Aaahhh.." teriak Sinta saat tubuhnya terbang ke atas, karena di gendong pria menyebalkan.


Dia tak henti memukul, meronta, bahkan menggerakkan keras kakinya. Dodit tersenyum merasakan semua tingkah Sinta, dia segera memasukkannya ke dalam mobil dan menguncinya.


"Permisi, calon nyonya Dodit Hermawan, saya mau memasangkan seatbelt," godanya walau wanita di sampingnya memasang wajah masam.


Sinta merutuki hatinya, hanya di goda dengan panggilan 'calon nyonya Dodit Hermawan' sudah membuatnya bahagia. Dia berusaha menutupi sikap salah tingkahnya dengan memasang wajah yang masam.


Harga diri perempuan, cuy 😁


Alibi melihat jalanan yang padat, dia mencoba mencari kesempatan dengan memegang erat tangan kanan kekasihnya.


"Apaan sih, nggak usah cari kesempatan ya! Ingat, kita belum mahrom. Lihat nih, merinding bulu kuduk kamu sentuh-sentuh." Sinta menarik kasar tangannya.


"Kalau nggak boleh sentuh, cium aja ya. Aku kangen sama ibunya anak-anakku." Mengecup pipi yang bersemu dalam hitungan detik.


Ah, jantungku. Aku mohon, jangan bunyi berdetak. Aku takut suara kerasnya terdengar di telinga pria ini.


Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit yang sudah menjadi milik Dodit. Melihat pemilik datang, semua karyawan di buat kaget dan menundukkan kepala.


"Selamat Pagi, Pak," sapa setiap karyawan yang bertatapan mata dengannya. Sinta di buat bingung melihat semua karyawan menyapa dengan sopan.


"Disini memang pelayanannya bagus, ya? Kok semua orang menyapa kita tiap lewat," ucapnya pelan, namun masih terdengar di telinga Dodit.


"Calon nyonya Dodit Hermawan, mulai sekarang anda harus terbiasa dengan semua sapaan orang seperti ini. Ingat, pria yang dulu akan membeli perawanmu bukan pria sembarangan," jawabnya berbisik.

__ADS_1


__ADS_2