
Cahaya matahari bersinar terang di dalam ruangan bernuansa abu-abu. Bunyi suara kipas angin yang berbisik kasar, membuat tidur Juminten gelisah.
"Aku di mana ini?" ucapnya bingung, terbangun di dalam sebuah kamar asing.
Juminten mendudukkan tubuhnya, tujuan pertamanya mencari sosok suami dan kedua anaknya.
"Abah..."
"Krucil..."
Tiba-tiba, seorang anak perempuan memakai kaca mata dengan bando warna hijau, berlari masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Menutup daun pintu secara perlahan, hingga tak mengeluarkan riak suara.
Memilih merosotkan tubuhnya dengan bersandar di belakang pintu. Dia menangis tersedu-sedu, sambil menggigit jempol kanannya.
"Hei wanita pembawa sial! Apa sopan santunmu sudah hilang?"
Mendengar suara orang bersuara tinggi, membuat Juminten menyimpulkan sebab anak ini menangis. Tergerak hati kecilnya untuk menghentikan perdebatan mereka.
Dia segera bergegas turun dari ranjang, memegang anak perempuan itu. Sialnya tangan dia tak bisa menyentuhnya. Bahkan tampak seperti menembus ke dalam sisi tubuhnya.
"Astaghfirullah, apakah aku sudah mati?"
Juminten mencoba meraih apapun yang ada di dekatnya, lagi-lagi dia tak bisa menyentuh semua yang ada disana.
"Kenapa bajumu ada noda lipstik berwarna merah? Bukannya kamu sudah berjanji untuk meninggalkan wanita j*l*ng itu!" teriak seorang wanita.
Juminten melupakan keinginannya, dia memilih segera keluar dari kamar dengan menembus pintu. Dia berlari menyusuri suara teriakan terakhir, yang berasal dari ruangan yang ada di depan.
Terlihat seorang wanita cantik melemparkan pakaian yang ada di tangannya, tepat di wajah pria yang sedang duduk membaca koran.
Lantas nyala kobaran kemarahan terukir di wajahnya. Dia menarik paksa tangan wanita yang melempar pakaiannya tersebut.
Plak!
Juminten menutup kedua matanya, melihat pertengkaran rumah tangga yang ada di depannya. Pria tersebut menampar pipi kiri istrinya hingga memerah.
__ADS_1
"Jangan kau sebut kekasihku dengan sebutan j*l*ang! Kau harus ingat, darah kental yang mengalir di tubuhmu saat ini adalah milik seorang j*l*ng!" ucap pria itu menggebu.
Plak!
Wanita itu berani menampar balik pipi suaminya, bahkan terlihat darah ikut keluar dari bibirnya.
"Oh, kau sudah berani menamparku. Sepertinya aku perlu memberikanmu pelajaran!" ucapnya emosi.
Pria itu beralih mengambil alat di belakangnya. Mata wanita itu terbelalak melebar, melihat pria tersebut membawa cambuk yang menjadi hiasan rumah mereka.
"Hei wanita pembangkang! Rasakan pembalasanku!"
Ceter!
Suara cambukan terdengar keras hingga menggema ke dalam kamar milik anaknya. Seorang gadis segera berlari masuk ke dalam lemari jati besar yang ada di kamarnya. Disana adalah tempat persembunyian paling aman untuknya.
" MULAI DETIK INI, AKU TALAK KAMU! KELUARKAN SEMUA PAKAIANMU!" teriaknya nyalang.
Wanita itu semakin di buat geram dengan perlakuan mantan suaminya. Sambil menahan sakit, dia menguatkan diri dengan memecahkan meja ruang tamu mereka dengan tangannya.
"Kau bilang apa, Baji**an? Apakah otakmu sudah tak berfungsi? Atau kau memang tak punya otak? "
Ceter!
Pria itu kembali mencambuknya dan kali ini semakin keras. Wanita tersebut hanya bisa memejamkan mata, merasakan rasa sakit bercampur panas di sepanjang area tubuh belakang. Sudah cukup kesabaran untuk melanjutkan rumah tangganya.
" Cih! Jangan sok tampan kau! Ingat semua yang kamu pakai saat ini adalah uangku dan jerih payahku G*B*OK! KELUAR KAU DARI RUMAHKU, ATAU KU POTONG TUBUHMU SAAT INI JUGA! KEPARAT!"
Wanita itu segera menyeret mantan suaminya, dia menutup rapat-rapat pintu rumahnya. Mengabaikan suara gedoran keras dari luar meminta di buka.
Dia memilih menangis tersedu, sambil menyiramkan air yang terhidang di meja. Mengabaikan lantai rumahnya yang sudah basah, dia ingin segera menghilangkan rasa panas juga sakit di seluruh tubuhnya.
Merasakan sia-sia perjuangannya selama ini, untuk tak tergoda kembali dengan rayuan pria tampan yang beberapa hari ini mengajak untuk berkencan.
"Temui aku 10 menit lagi di Hotel Victoria. Aku sudah cerai dengan Heru. Aku sudah siap menyerahkan seluruh ragaku untukmu! "
__ADS_1
Juminten teringat dengan nasib anak kecil yang ada di dalan kamar. Dia bergegas kembali ke dalam kamar, namun keadaan kamar kosong.
Sayup-sayup terdengar suara gadis kecil itu. Juminten mencoba mencarinya dan menemukan dia bersembunyi di dalam lemari besar. Miris melihat nasibnya yang masih belia harus menjadi korban kedua orang tuanya.
"Adik, sudah jangan nangis lagi. Ini ada undangan dari Papa. Kita besok kesana, ya?" suara gadis kecil dengan wajah yang sama datang mendekatinya. Sepertinya mereka saudara kembar.
"Hore! Kita punya Mama baru. Pasti seru, Kak." jawabnya.
"Iya, pasti enak tidur di peluk Mama lagi."
Mereka memakai dress berwarna merah dan merah muda. Memilih berangkat dengan menggunakan mobil angkutan umum.
Juminten mengikuti langkah mereka menuju gedung pernikahan yang ada di pusat kota. Baru dia ingin masuk ke dalam, di kagetkan dengan suara usiran satpam untuk mengeluarkan mereka.
Seorang pria memakai jas warna hitam dan tampak rapi keluar dari dalam gedung dan menemui mereka, "Sayang, Papa mohon jangan usik hubungan ini. Papa berjuang mati-matian untuk mendapatkan Mama baru kalian. Papa janji akan selalu transfer uang ke rekening kalian. Tolong jaga diri kalian baik-baik. "
Selama di perjalan pulang, mereka saling memeluk dan menguatkan, "Sabar, pasti Papa baru yang akan bahagiakan kita. Jangan sedih, Adik."
Tak lama, mereka turun dari angkot dan masuk ke dalam Masjid. Mereka memasuki acara akad nikah yang sedang berlangsung. Tiba-tiba, suara keramaian orang-orang menanyakan status pengantin.
Pengantin wanita segera keluar menemui kedua anakanya yang ada di depan pintu masuk, "Mama mohon, kalian pulang ya, Nak. Jangan bikin ramai acara Mama. Kalian tunggu saja transferan uang di rumah, beli semua yang kalian mau. Asal kalian jangan temui Mama, biar Mama yang temui kalian. Mengerti?"
Mendengar perintah Mamanya, mereka serentak menganggukkan kepala berjalan keluar Masjid.
" Boleh minta peluk? " ucap gadis yang paling kecil.
Dia merentangkan tangannya lebar-lebar, menengadahkan kepala ke atas. Juminten tahu, perempuan tersebut menahan air mata yang akan luruh.
Tiba-tiba, terdengar suara teguran dari pria yang memakai baju yang sama seperti Mama mereka untuk melepaskan pelukan mereka. Mereka yang ketakutan melihat wajah kemarahan Papa baru, segera memilih pulang ke rumah dengan wajah yang sedih.
Juminten di buat terharu melihat kedua gadis di depannya sedang berpelukan di dalam mobil. 2 kali mereka di tolak kehadirannya dengan kedua orang tua kandungnya, seakan mereka bisa menjadi penyebab keretakan rumah tangga.
Mereka segera turun dari angkot, Adik kecilnya yang masih marah membanting semua perabotan rumah. Tak ketinggalan, vas besar yang ada di ruang tengah juga menjadi sasaran.
"Adik, ayo kita sabar!"
__ADS_1