
Eko di buat tersenyum melihat perhatian Mila padanya. Membantunya menyeka badan, mengganti baju juga membersihkan tempat tidurnya.
"Sini, duduk. Nanti lagi bersihin kamarnya. Kamu nggak capek?" Eko menyodorkan botol minum bekasnya kepada Mila.
Ingin rasanya tangan terulur menghapus keringat yang menempel di dahinya, namun dia hanya bisa membatinnya.
Mila pun mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Nggak mau bekasku, ya? Aku suruh Sinta buat beli minum yang baru, ya."
"Eh, jangan! Nggak usah! Aku minum air ini aja." Mila pun segera meneguk minuman bekasnya tanpa rasa sungkan.
"Masuk perangkap satu!" teriak Sinta, membuat Eko menatap tajam matanya.
Nggak tau dia, kalau ada orang lagi seneng. Sekarang dp ciuman jarak jauh dulu ya Mil, besok habis halal kita lanjutkan ke arah yang tembus pandang lainnya.
Melihat Eko senyum-senyum sendiri, membuat Mila mengulurkan tangannya." Emm.. Nggak panas?"
Membuatnya kaget "Eh, kenapa?"
"Nggak apa-apa, khawatir aja!"
"Masuk perangkap dua!" teriak nyamuk besar kembali.
Membuat Eko mendengus, menatap temannya yang tak tahu diri mengganggunya yang sedang kasmaran. Boro-boro ngerti kasmaran, wanita rasa laki-laki seperti dia sepertinya tak pernah jatuh cinta.
Cklek!
"Mami, kok lama?" Radit berlari memeluk maminya. Membuat Sinta kaget melihatnya.
Buset...! Eko naksir janda kembang anak 1,euy.
Mila tersenyum menyambut buah hatinya, "Sudah puas main di play groundnya?" dan dijawab anggukkan oleh anaknya.
Eko tersenyum melihat perbincangan wanita cantik di depannya. Bahkan, rasanya kadar cinta untuknya berkali-kali lipat semakin bertambah. Kalau kata orang sekarang, di bola matanya lagi banjir lope-lope.
"Tatap terus.. Jangan kasi kendor!" teriak Sinta kembali.
Eko mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Sinta layaknya nyamuk yang minta ditepuk agar bisa diam. Eko melirik kembali temannya yang asyik bermain gadget, namun selalu mengawasi gerak-geriknya.
"Ayo kenalan sama om nya, namanya Om Eko. Kemarin, Radit di tolong om. Bilang terima kasih sayang, sama om nya."
Radit yang masih belum paham ucapan maminya, mendekati tubuh orang yang ada di depannya. "Makasih."
"Itu namanya tante Sinta. Ayo salim, nak."
__ADS_1
Dengan lincah, Radit berlari mendekati Sinta yang sedang duduk di sofa kamar. Membuatnya gemas dengan tingkah polosnya.
Cklek!
"Permisi, makan siang!"
Mila pun menerimanya, nasi putih dengan lauk rolade juga bakso dengan sayur sop merah.
"Ayo, makan!"
Mila menyuapi dua lelaki di depannya bergantian. Dia menyunggingkan bibirnya, melihat mereka bercanda juga bermain bersama. Padahal, ini adalah hari ke dua mereka bertemu setelah kejadian kecelakaan beberapa hari lalu.
Mereka tampak kompak seperti ayah dan anak. Mila bahkan ikut tertawa melihat tingkah konyol Eko maupun Radit. Dia memuji kemampuan Eko bisa meluluhkan hati anaknya dalam sekejap.
"Ayo makan dulu, jagoan! " Radit segera menerima suapan dari maminya.
Sedangkan diluar, Juminten menghentikan langkah nya di depan pintu. Dirinya di buat ragu mendengar suara tawa juga canda di dalam kamar, layaknya suara pasien yang sudah sehat. Berulang kali dia membaca ruangan dan nomer kamar yang tertera.
" Iya, bener ini kamarnya! Bismillah. Kalau salah, langsung kabur. Eh, jangan kabur, entar dikira maling barang mereka. Emm.. Jujur aja kali ya kalau salah kamar. Oke bismillah!"
Cklek!
Seketika mereka yang ada di kamar sontak menoleh padanya. Juminten pun kaget melihat pemandangan di depannya. Eko yang sedang memangku Radit dan Mila sedang duduk di samping mereka sambil membawa piring.
"Ehem.. Permisi.."
"Silahkan, masuk miss!" sambut Eko dengan tersenyum.
Mila dibuat kikuk melihat Juminten, orang yang sudah merebut semua perhatian adiknya. Juminten yang melihat Mila salah tingkah mencoba mendekatinya.
"Hai, Mil. Apa kabar?" Juminten menyodorkan tangannya kepada kembaran Mala.
"Ba-baik, Jum. Kamu apa kabar?" ucapnya terbata.
Juminten pun menjawab dengan tersenyum lebar. "Aku baik, alhamdulillah."
Juminten berjalan mendekati Sinta yang menjadi obat nyamuk mereka.
"Nih, gue bawain nasi. Makan gih, pasti kelaperan." Juminten menyodorkan kantong yang dia bawa.
Dengan semangat Sinta menerimanya. "Alhamdulillah.. Hehe tau aja, miss. Dari tadi mau pamit keluar, eh keluarga cempaka ngobrol terus kagak berhenti sama sekali."
Juminten tersenyum dan ikut mendudukkan tubuhnya di samping Sinta. Perutnya yang makin membesar, membuatnya semakin mudah lelah.
__ADS_1
Udah berapa bulan, Jum? Kok udah gede si utun."
Mata Juminten yang baru terpejam di kagetkan dengan suara Mila yang mendekatinya.
"Baru mau 18 minggu. Udah kalian terusin aja ngobrolnya, aku duduk dulu ya." Ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya.
"Gede banget, kembar mungkin Jum. Udah periksa?" Mila seakan mencoba mengambil hatinya.
Juminten pun tersenyum palsu, memasang payung nya terlebih dahulu sebelum datang hujan kecewa yang kesekian kalinya menghampiri hidupnya.
"Iya, emang kembar kok." Jawabnya lalu matanya menatap karyawannya. ". Sin, udah belum makannya? Kalu udah kita pulang, ya!" Sinta menjawab dengan anggukan kepala.
Mila yang melihat Juminten seperti tak nyaman karena keberadaannya membuatnya semakin canggung." Jangan kamu yang pergi, aku aja."
"Oh, iya silahkan!" Juminten menjawabnya dengan tersenyum. "Tapi, kalau urusan kalian sama Eko udah kelar ya. Karena, biaya rumah sakit dari awal bukannya akan di tanggung kamu semua."
Mila menganggukkan kepala. "Kalau gitu aku pamit, ya. Semoga utun sehat selalu."
Mila beranjak berpamitan Eko dan segera keluar dengan menggendong anaknya yang meronta masih ingin di kamar rawat omnya.
Melihat Juminten berteriak menangis, tangan Sinta menyodorkan tisu yang ada di meja. Eko pun turun dari brangkarnya, ikut mendudukkan tubuhnya di samping bosanya dengan membawa tiang infusnya.
"Maafin aku ya, semua. Aku nggak ada maksud buat usir Mila. Aku masih kecewa, aja."
Sinta memeluk tubuh Juminten dari samping. Menepuk pelan bahunya yang naik-turun. "Udah, miss habisin dulu air matanya. Dan miss berjanji, setelah ini jangan ada air mata lagi yang keluar buat nangisin Mila. Oke!" Juminten menganggukkan kepalanya.
"Berarti, gue salah jatuh cinta. Gue jatuh cinta sama musuh bebuyutan bos gue." Eko terasa kecewa mendengarnya.
Membuat Juminten menghentikan tangisannya, menyekanya dengan tisu. Menghirup nafas dan mengeluarkan nya dengan pelan.
"Mila punya saudara kembar namanya Mala. Dan saudaranya itu yang benci sama aku! " Tumpah kembali tangisan Juminten di pelukan Sinta.
"Terus kenapa miss masih nangis? Bukannya kita lebih baik menjauh darinya dan pilih jalan kita sendiri. Miss harus tau, 1 orang yang benci sama miss akan terganti dengan ribuan orang
yang siap merangkul miss saat terjatuh."
Juminten pun membalas memeluk Sinta. Dia membenarkan ucapannya, kenapa dia harus sedih. Bahkan, Farid, Resti, Bambang, Bang Eka sekarang selalu siap di gardanya.
"Baru juga cintaku berbalas miss, eh di suruh cari yang baru. Udah terlanjur cocok sama yang ini, miss." ucapnya dengan nada kecewa.
Juminten pun menoleh ke Eka"Udah, gasspol aja oke. Cuman minusnya dia pekerja malam. Tugas kamu bimbing dia ke jalan yang lurus. Ajak dia nikah langsung."
Sinta pun ikut menambahi. "Hooh, bener miss. Jangan lu kel*nin dulu baru di nikahin. Nggak gentle!"
__ADS_1
Maafkan UPnya nggak bisa jam jelas kayak dulu. Yang penting selalu aku usahain up ya😍