Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 84


__ADS_3

Tepat hari ini, adalah hari ke 7 Ana meninggal dunia. Duka mendalam masih di rasakan Sinta, Bambang juga anak-anak penghuni Panti yang lainnya.


Neneng yang menggantikan untuk mejadi Ibu Asuh, tak pernah bosan menyemangati mereka untuk tak menyerah hidup. "Ingat Nak, kalian tidak boleh berhenti berkarya. Kalian harus sukses! Buat Bu Ana bangga saat beliau mampir ke rumah ini, untuk melihat kalian."


Hari ini, Dia harus mendapatkan pekerjaan sampingan yang baru. Terlalu banyak pengeluaran uang Panti untuk acara kirim doa kemarin. Anak-anak butuh biaya banyak untuk menempuh pendidikan.


"Mam, Sinta pamit kasih surat lowongan ke tempat kerja Kak Bambang, ya." Menyalimi tangan Neneng, yang setia menemaninya untuk mengurus anak-anak Panti.


"Sama siapa? Biar di antar Dodit, ya. Bentar biar Mama hubungin dia sekarang." Neneng masih berusaha mendekatkan Sinta dengan anaknya.


Sinta menggelengkan kepalanya, "Berangkat sama Kak Bambang, Sinta pamit ya, Mam. Assalamualaikum."


Neneng memilih menyibukkan diri membersihkan bekas-bekas acara kemarin dengan di bantu Rena, karena anak-anak sudah berangkat ke Sekolah.


"Assalamualaikum, Permisi ada Sinta?" seorang wanita sekitar umur 35 tahun, bertanya kepada Neneng yang sedang terlihat melipat tikar.


Neneng bergegas menemuinya, "Waalaikumsalam. Iya, ada apa ya Mbak? Sama saya saja, silahkan duduk,"


Mereka pun memilih duduk di teras Panti, Neneng di buat penasaran dengan keperluan wanita tersebut dengan calon menantunya. Apalagi melihat map tebal berwarna merah muda yang ada di tangan kanannya.


"Ada apa ya, Mbak?" ucapnya memecahkan keheningan.


Wanita tersebut terlihat gusar untuk menjelaskan maksud kedatangannya, "Maafkan saya sebelumnya, bila saya kesini datang disaat waktu yang tidak tepat,karena ini untuk meluruskan hutang Panti Asuhan 3 tahun yang lalu dengan menggadaikan surat tanah."


Neneng di buat kaget mendengar ungkapan wanita di depannya, merebut kasar kertas yang sejak tadi membuatnya penasaran dengan isinya. Segera membaca isinya dengan seksama surat perjanjian tersebut, tubuh neneng seketika lemas membaca jatuh tempo pembayaran 1 bulan sebelum Ana meninggal.


"Maaf, Mbak. Tapi untuk apa Mbak Ana hutang sebanyak itu kepada anda?" tanya Neneng yang tak tahu permasalahan keuangan Panti selama ini.

__ADS_1


"Untuk biaya sakit yang beliau derita, juga untuk konsumsi anak-anak setiap harinya, Karena 5 tahun terakhir keuangan panti menipis. Begitu cerita beliau kepada saya."


Melihat lawan bicaranya, masih meragukannya. Dia pun menambahi, "Apakah anda tidak tahu tentang layanan online sedekah untuk anak panti? 60 persen donatur sudah pindah ke layanan tersebut. Sehingga pemasukan Panti berkurang drastis. "


"Assalamualaikum. Eh, ada Bu wahyu." Sinta menyalimi tangan salah satu donatur Panti.


"Waalaikumsalam. Dari mana Sin?" tanya Wahyu.


"Cari pekerjaan bu, soalnya uang anak-anak sudah tinggal dikit. Makanya Sinta harus ekstra bekerja," jawabnya.


Wahyu merasa kurang nyaman menagih hutang disaat keuangan Panti benar-benar menipis. Namun apalah daya, dia juga membutuhkan uang tersebut untuk memperluas usahanya.


" Mama kenapa kok kayak bimbang gitu?" Sinta mengelus lengan Mamanya.


"Sin, sini duduk dulu. Mama bingung mau bantuin kamu dengan cara apa, karena surat tanah Panti asuhan sudah di gadai sama Ibu Asuh kamu,"ucapnya pelan.


"Sin, jangan lemas. Ayo semangat!" Neneng menepuk pelan lengan Sinta.


Sinta segera mengerjapkan matanya agar bisa terbuka. Melihat Adiknya yang bingung, Bambang yang hanya mendengar obrolan mereka mencoba ikut duduk dengan mereka.


"Nggak usah bimbang semua, kalau memang Bu Wahyu butuh cepat uang untuk membayar dan kita tidak bisa membayarnya. Biar anak-anak pindah ke rumah saya saja, karena setelah ini Kakak saya juga akan menikah dan tinggal di rumah mertua. "


"Anak-anak Panti seperti belahan jiwa saya, biarkan saya yang melanjutkan untuk mengurus mereka. Sebagai bukti bakti saya juga, dengan semua kebaikan Bu Ana," tambahnya.


Gadis cantik di pojokan tersenyum mendengar kebaikan hati Bambang, menambah semakin besar rasa cintanya untuk Bambang, " Ah, calon jodoh Rena udah ganteng, baik hati pula. Semakin besar rasa sayang ini untuk kamu jodohku," pekiknya pelan.


__ADS_1


Cerita selengkapnya Rena dan Bambang Author pisah ya, biar nggak campur aduk disini hihi. Pecinta Bambang yang kapan hari sakit hati karena gak berjodoh dengan Juminten tenang saja. Author sudah siapin jodoh untuk dia, insya Allah coming soon Januari bila tak ada halangan. Juga semoga lolos review covernya.


Oke lanjut ke cerita...


Sinta menatap binar Bambang, ingin dia meraih memeluk Kakaknya yang duduk di sampingnya. Ucapan terima kasih baginya kurang cukup untuk kebaikan Bambang selama dia di panti. Terlalu banyak uluran tangannya untuk membantu anak-anak Panti.


"Aku titip anak-anak ya," ucap pelan Sinta dan di jawab senyuman manis Bambang.


"Maaf, Bu wahyu mau minta rumah ini kapan?" tanya Bambang.


"Segera saja, Mbak. Maaf, saya benar-benar sedang membutuhkan uang untuk membesarkan usaha saya," ucapnya tak enak hati.


Setelah Bu Wahyu berpamitan pulang, tangan terampil Sinta segera mulai membereskan barang-barang anak-anak di dalam kamar.


" Beberes nanti kan bisa Sin, sini duduk sama Mama. Mama punya ide. " Neneng menepuk kasur yang dia duduki


"Ide apa mama? " ucapnya penasaran.


" Bagaimana kalau kamu bekerja sampingannya di rumah baru Rena? Rena keberatan nggak kalau Ibu kamu yang bekerja jadi chef di rumah kalian? Dari pada papamu bingung, cari-cari chef dari kemarin."


"Ah ide cerdik. Nenek, Rena setuju banget. Kan Ibu pintar masak, jadi kebutuhan gizi Rena sama Papa ada yang benar-benar mengurus," ucapnya senang.


Sinta menggeleng ribut, "Tidak Mama, saya tidak bisa?"


"Udah kalau gitu. Aku cabut aja fasilitas kamu yang dari Mama, termasuk motor sport kamu!"


Sinta di buat kelabakan dengan peringatan Neneng, motor sportnya adalah nyawa untuknya. Dan dia tak mau kehilangannya, "Oke, Sinta kerja mulai besok."

__ADS_1


__ADS_2