
Jangan menyerah hanya karena satu bab buruk yang terjadi dalam hidupmu. Teruslah melangkah, kisahmu tidak berakhir di sini.
Hidup bukan untuk berhenti dalam meratapi kesedihan masa lalu, tapi untuk berjalan menuju kebahagiaan sesungguhnya di masa depan.
-anonim-
...****************...
"Bodo amat aku kesel sama Abah! " Eka tertawa melihat mimik wajah Juminten yang sedang merajuk, persis seperti Bumi saat tadi siang.
Eka menepuk kedua tangannya, terdengar lagu akustik Rizky Febrian - Kesempurnaan Cinta dari pemain Band yang sedang bermain di atas panggung kecil yang ada di depan mereka.
Juminten di buat kaget melihat lampu yang awalnya kuning, berubah menjadi putih benderang. Dan melihat Eka menyodorkan kotak cincin bertakhta berlian putih di depannya, sontak membuatnya menutup bibirnya yang sedang melongo.
"Lampu putih terang ini menunjukkan, kalau memang jalan baru yang akan kita lalui sudah terang. Alhamdulillah Bambang dan anak-anak sudah merestui kita."
Terlihat Juminten mulai berkaca-kaca, "Begitu juga masa depan kita, aku akan menerangkan kembali jalan gelapmu. Maafkan aku, bila masih banyak kekurangan untuk mengerti kamu, tapi aku mohon bantu aku untuk selalu mengerti mau kamu juga membaca isi hatimu. "
Juminten berusaha tak mengerjapkan indera penglihatannya yang sudah siap mengeluarkan tangisan bahagia, kedua kalinya Eka memberikan kejutan romantis kepadanya. Apakah memang sekarang waktunya dia di berikan kesempatan untuk bahagia?
Eka mengambil tangan Juminten, menautkan cincin yang sudah dia siapkan," Memang ini hanyalah simbolis, tapi aku harap cincin ini benar-benar mengikat rasa cintamu hanya untukku."
Juminten menutup kedua tangannya, tak kuasa menahan tangisnya, "Kenapa harus Jumi yang kamu pilih? Terlalu banyak aib Jumi bila di suruh jabarkan semua mungkin butuh waktu dua tahun." ucapnya sesegukan.
Eka segera memeluk erat Juminten, "Kamu lupa kalau aku mantan Kakak Iparmu? Ya jelas aku tau semua sifat jelek, kelakuan juga tingkah lakumu." Membuka tangan yang menutupi wajah cantik wanita di depannya, "Aku sayang kamu apa adanya."
__ADS_1
Juminten sontak memeluk erat Eka, "Jumi sayang Abah, Jumi mohon jangan sia-siakan lagi, karena jujur masih trauma di kecewakan lagi untuk kedua kalinya. Maafin juga, pas dulu nembak Jumi di mobil juga di WhatsApp nggak balas, karena Jumi sendiri masih ragu dengan perasaan ini. "
Eka kaget mendengar ucapan Juminten," Ja-jadi, kamu tahu pas aku nembak kamu dulu? Kenapa kamu diam saja? "
Juminten hanya tersenyum lalu mencium dengan gemas dada hangat Eka.
Terdengar suara tepuk tangan riuh semua tamu undangan Eka, sepertinya Juminten tidak mengetahui di sekeliling mereka sudah ada Bambang, Sinta, Eko, Candra, Resti dan Farid.
Sinta ikut memeluk Kakak Angkatnya," Aku doain Kakak mendapatkan jodoh yang baik dan ingat jangan menyia-nyiakannya kembali." Bambang tersenyum sambil mengusap rambut Adiknya.
"Yang sabar Bang," semua orang mengusap punggung Bambang, hari ini dia benar-benar membuktikan bahwa sudah bisa mengikhlaskan mantan istrinya dengan kakaknya.
"Permisi calon manten, mau ucapin selamat nih. Masih lama nggak pelukannya?" goda Resti.
"Ya Allah, jangan ngajak foto. Eyelinerku hancur nih, keliatan kayak Mbak Kunti." Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kan enak, jadi gue keliatan lebih cantik dari pada elu. Udah intinya selamat, nggak capek apa jalan cinta lu ribet." sindir Resti.
Juminten menepuk lengan sahabatnya dengan tertawa, mereka pun saling berpelukan melepas rasa rindu mereka.
Melihat yang lain masih asik dengan obrolan mereka masing-masing, Eka berjalan menghampiri Bambang yang sedang duduk sendiri menikmati kopinya.
"Sekali lagi makasih, ya. Hari ini Abang benar-benar bangga lihat kamu, menyaksikan semua dengan lapang dada. Abang doain kamu bahagia." Eka memeluk sebentar Adiknya.
"Aku juga makasih ya, kamu udah mengijinkan kami bersama dan menerima aku sebagai Kakak iparmu. Jadi, mulai sekarang panggil saya Kakak Juminten." ucapnya dengan suara berlebihan.
__ADS_1
Bambang merengut, "Kumat deh alaynya." Sontak mereka tertawa bersama, ternyata bersatu kembali dengan masa lalu tak seburuk dengan ekspektasi yang orang bicarakan. Juminten dan Bambang buktinya, mereka bisa menjalin kerja sama dengan baik untuk urusan si kembar
. Dan sekarang, Bambang merelakan Juminten menjadi calon Kakak Iparnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah semua sudah menghabiskan uang yang ada di dompet Eka. Mereka bersama-sama segera meninggalkan angkringan.
"Aku boleh nebeng kamu?" tanya Resti kepada Candra.
"Boleh, yuk naik! Apa nggak malu jalan bareng naik motor butut gini sama aku?" tanya Candra saat Resti sudah naik ke atas motornya.
"Lebih enak naik motor butut gini, dari pada sudah punya mobil, tapi nggak pernah ada waktu buat aku." Resti menyindir kekasihnya, yang mulai sukses dengan karirnya namun jarang memberikan waktu untuk mereka berdua.
Merasa Resti mulai tak terkontrol suasana hatinya, Candra segera menyalakan motor mesinnya." A-ku mohon, ka-sih kesem-patan buat aku Resti," ucap Farid dengan nada tersengal-sengal.
Merasa ada masalah besar yang menimpa mereka, Candra menepuk lutut Resti, "Saya sarankan mending Mbak turun aja, Mbak coba selesaikan dengan kepala dingin. Biar segera kelar masalahnya, kasian Mas Abut lari-lari demi mengejar Mbak Resti."
Farid dengan setia menunggu kekasihnya turun dari motor, mengabaikan rasa malunya yang sedang di lihat orang banyak.
" Pulang aja yuk, Mas Candra. Aku beneran lagi nggak enak suasana hatiku, apalagi ketemu dia, " sindirnya dengan melirik Farid.
Candra dengan segera turun dari motor, "Kunci mobil Mas mana?" Farid menunjukkan kunci yang dia pegang.
"Barter ya, Mas. Bawa aja motor bututku, aku yang bawa mobil Mas. Biar kalian ada waktu buat berdua."
Dengan senyum mengembang, Farid segera menaiki motor Candra walau Resti sedang memberontak menyuruhnya untuk turun.
__ADS_1