Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 80


__ADS_3

"Pokoknya Bumi bakal mogok bicara sama Ibu, kalau Ibu nggak cepetan kasih Adik buat kita!" gerutu Bumi.


Bambang menyisir rambut panjang anak perempuannya, "Bumi pernah bersyukur nggak punya Planet?" membuat Planet yang ada di sebrang ikut menatap serius Adiknya.


"Ya sayang Planet, sayang Ibu, Ayah, Abah, Emak, Bapak." jawab polos Bumi.


"Kalau memang Bumi bersyukur punya Planet, berati Bumi harus bersyukur punya Kakak sejak lahir. Kalian di takdirkan kembar, karena Allah percaya kalian bisa saling berbagi. Punya mainan saling berbagi, punya makanan juga saling berbagi. Apalagi kadang kalian juga sakit bareng. Coba Bumi bayangin di rumah nggak ada Planet seru nggak?" di jawab gelengan kepala Bumi.


Bambang berganti menatap anak laki-lakinya, "Kalau Planet, kira-kira rumah rame kalau nggak ada Bumi? " juga di jawab dengan gelengan kepala.


"Nah, Jadi kalian kira-kira sudah tahu jawabannya?" mereka serempak menggelengkan kepala.


"Kenapa kok Ibu nggak ngasih Adik sekarang? Karena Ibu masih ingin mencurahkan kasih sayangnya hanya untuk kalian. Ibu juga pengen fokus waktunya hanya menemani Planet dan Bumi." terangnya dengan hati-hati.


Dan juga Ibu kalian nggak ada lawannya di ranjang. Batin Bambang.


"Jadi Ibu nggak ngasih kita Adik, karena sayang kita? " pertanyaan polos dari Bumi.


" Sayang dong, ingat nggak Abah dulu pernah cerita perjuangan Ibu saat melahirkan kalian? Ibu koma 7 hari dan kalian baru boleh pulang dari rumah sakit umur 30 hari. Inget nggak? " ucapnya sambil mencium kedua anaknya.


Bambang tersenyum dengan kedatangan Kakaknya, sebelumnya memang mereka sudah membuat janji bertemu di Mall untuk mengajak jalan si kembar bersama-sama.


"Iya inget Bah, kata Emak kita lahir panjangnya segini." sambil menunjukkan telapak tangannya.


"Abah sama Ibu dulu menemani kalian berdua sampai sore. Kalian bayangin kita berangkat jam 7 pagi biar bisa nyusuin, siang Ibu pompa Asi buat stok kalian malam, sore setelah menyeka tubuh kalian kitq baru pulang. Dan itu selama 30 hari."


"Emang kita sakit, Bah?"


Bambang menundukkan kepalanya mengingat kejadian 5 tahun silam. Eka menepuk punggung Adiknya agar tak larut kembali dengan masa lalu.


"Iya kalian nggak betah di perut Ibu pengen cepetan keluar ke dunia, Makanya Ayah kasih nama Planet dan Bumi."


Melihat kedua anaknya sudah menerima pendapat mereka, Eka mulai membuka pembicaraan serius.


"Em.. Mumpung kalian ada di sini semua, Abah mau ngomong sesuatu," ucapnya serius, "Apa Abah boleh jadi suami Ibu kalian?" Eka menatap satu per satu mata Planet dan Bumi.

__ADS_1


"Bukannya Abah sudah jadi suami Ibu?"


"Belum, wah." Planet mencubit pipi Adiknya yang chubby dengan gemas.


"Planet kok nyubit, kan Bumi nggak tahu! Sini aku cubit balik,biar tau rasanya sakit! " Bumi memilih turun dari kursinya.


Bambang segera memisah kedua anaknya yang sudah mulai bertengkar.


"Eh dengerin dulu Abahnya ngomong, malah berantem."


Melihat situasi kondusif kembali, Eka melanjutkan obrolannya.


"Abah minta ijin sama kalian terutama Ayah kalian, Abah ingin menjadi suami Ibu. Biar bisa temenin kalian main, biar bisa awasin kalian 24 jam, bantuin Ibu juga kalau ada perlu."


"Bumi nggak paham."


"Sama Planet juga."


Eka menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Intinya Abah minta restu kalian, buat nikahin Ibu. Boleh?"


Sedangkan Bambang masih diam mendengarkan interaksi mereka, jujur masih sulit untuknya membuka suara untuk mengatakan iya maupun tidak.


Melihat Adiknya diam, Eka menyenggol lengan Bambang, "Tinggal kamu yang belum jawab. Abang harap kamu memberikan izin untuk Abang bisa bahagiakan Juminten juga si kembar."


"Umur Abang sudah tua ini, kasihanila Abangmu" goda Eka.


"Haha..Bambang sadar diri Bang, nggak bisa bahagiain mereka. Nggak pernah ada disaat Juminten butuh."


Bambang menatap serius Abangnya, "Aku cuma ingin Abang beneran serius, aku titip anak-anak ya. Bahagiain mereka ya, Bang. Rasanya berat mau ngucap ikhlas, tapi aku juga harus ikhlas lepasin mereka juga demi kebaikan mereka. Karena kita tak mungkin bersatu lagi."


Eka memeluk adiknya, menepuk punggungnya," Makasih ya, dek. Abang janji nggak akan kecewain semua termasuk Ibunya. "


🍓


🍓

__ADS_1


🍓


Mendengar suara mobil terparkir di depan rumahnya, Juminten bergegas berlari ke depan." Bukannya tadi mereka sama Ayahnya? Kok pulang sama Abah?"


Melihat kedua anaknya yang tertidur di mobil, Eka menggendong Planet dan Juminten menggendong Bumi, "Iya tadi kita janjian ketemu di Mall."


Setelah meletakkan kedua anaknya di dalam kamar, Juminten menghampiri calon suaminya yang sedang duduk di kursi depan rumah.


"Ada masalah apa lagi kalian? Aku kok takut ya. " ucapnya gusar.


"Izin Bapak sama Emak dulu sayang, aku mau ngajak kamu kencan. Sekalian ceritain yang tadi."


Juminten segera berpamitan kedua orang tuanya dengan beribu nasehat.


🍓


🍓


Kerlip bintang dan angin sepoi-sepoi, menemani suasana kencan malam mereka di salah satu angkringan.


"Sebenernya ada apa? Pikiran Jumi udah nggak enak banget semua ini." terlihat Juminten tidak sabaran mendengar kabar dari Eka.


"Nggak tunggu makanannya dulu?" Eka sengaja menggoda dengan mengulur waktu.


Sontak Juminten mencubit pinggang Eka, "Au.. Ampun sakit sayang, " terlihat wajah yang sedang marah dengan calon suaminya.


Eka tertawa sambil mengelus bekas cubitan Juminten, "Ya Allah, ini belum halal aja udah main cubit. Apalagi kalau udah halal, udah main yang lain ya neng," godanya.


"Jumi pulang aja ya, kesel liat muka Abang sok polosan gini." Juminten mengerucutkan bibirnya dan dengan gemas di tarik Eka.


"Itu bibir jangan di tunjukan ke orang lain ya, takutnya ada yang khilaf. Aku aja khilaf loh."


"Jadi apa nggak sih ceritanya? Aku udah lelah menunggu loh. Menunggu sesuatu yang sangat memberatkan bagiku, saat ku harus bersabar dan terus bersabar menantikan kehadiran dirimu entah sampai kapan aku."


"Malah nyanyi. Jadi penasaran nggak?" godanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2