Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 91


__ADS_3

Warning !!


Adegan 21+ !!


...****************...


"Selamat pagi, sayang!" Juminten mengecup manja, suaminya.


Eka mengerjapkan matanya, ini adalah pagi kesekian yang terindah untuknya. Bangun dengan posisi di cium Juminten adalah salah satu hal yang sederhana, namun berkesan untuknya.


"Sayang mau sarapan, apa?" bisiknya dengan nada ****** di telinga suaminya.


Membuat pria itu kelimpungan, pagi hari adalah massa nya menjadi pria kuat. Namun kali ini dia berusaha menahan goda** istrinya.


"Aku tak akan tertipu rayuanmu, sayang. Tak lucu saat aku melakukan yang pertama kali, dan anak-anak mengganggu kegiatan kita."


"Sayang lupa? Anak-anak lagi ikut Emak sama Bapak berkunjung ke rumah buyut? Padahal cuaca dingin, rumah sepi memang paling man-"


Dengan cepat, Eka membungkam bibir istrinya. Mel**** dalam-dalam bibir yang tak hanya bisa mengeluarkan desa***, namun juga bisa membuatnya gemas. Bibir ini adalah bibir wanita cerewet yang dia cintai dan sejak itu dia suka dengan setiap kata suara bising yang keluar.


Eka melepas ciuman mereka, menghapus bekas salivanya yang masih menempel di bibir Juminten.


"Nanti malam ya, sayang. Abah hari ini ada meeting." Eka mencium dahi istrinya, lalu memilih masuk ke dalam kamar mandi.


Juminten bergerak kelimpungan di atas kasur. Balas dendam yang indah dari suaminya, bahkan dia menunggu momen ini semenjak semalam. Namun berakhir gagal. Terlintas ide jailnya, dengan segera Juminten membuka koleksi baju menggoda miliknya. Mengoleskan body lotion di seluruh tubuhnya dan menyeprotkan parfum segar.


Cklek!


Eka di sajikan pemandangan wanita cantik yang memakai baju transparan berwarna hitam sedang duduk manis di atas ranjang.


Oh, sial!


Apa dia harus menjeda meetingnya beberapa jam dan memilih melanjutkan acara olahraga di depannya. Melihat suaminya masih bengong menatapnya, Juminten berjalan dengan berlenggak-lenggok sambil membawa handuk.

__ADS_1


Dia mengelap rambut basah suaminya dengan pelan-pelan, mata dia ikut memancing menurunkan iman pria di depannya. Tangan Juminten menjulur ke badan suaminya, dada yang berbenjol kotak-kotak dia eksplor satu persatu tanpa terkecuali.


Eka mengejamkan matanya, ketika Juminten melepas handuk yang menutup aset bawahnya. Juminten tersenyum melihat sinyal tegak yang ada di depan wajahnya.


Mari kita lihat suamiku, siapa yang paling kuat menahan ini. Aku atau dirimu!


Dia masih melanjutkan mengelap tubuh bagian bawah suaminya, mengacuhkan perubahan yang menjadi pusat perhatiannya.


Eka segera menarik Juminten agar berdiri, "Kamu nakal sayang!"


Juminten hanya menjulurkan lidahnya, tanda dia berhasil merobohkan iman suaminya. "Eits!" Tangannya menutup bibir yang akan menciumnya.


"Kenapa lagi?" terdengar suara geraman suaminya, menahan gejolak gai*** yang siap untuk memuncak.


"Meetingnya Abah nanti gimana?" ucapnya dengan memainkan jari di atas dada Eka.


"Persetan dengan meeting! Urusan ini lebih penting!"


Juminten tersenyum dan menyambut ciuman menuntut suaminya. Membalas suara de*ahan indah, setiap merasakan perlakuan yang dia rasakan. Eka membaringkan dengan pelan istrinya ke atas kasur, lalu mengungkungnya.


Eka yang tak kuasa menahan bir*hinya segera melepas pakaian lucknut yang sudah berhasil memancing bir****nya pagi ini.


Lekukan tubuh istrinya terpampang di depannya, tak ada secuil pun bekas luka di tubuh istrinya. Eka menelan ludah secara kasar sambil menatap pemandangan **** di depannya.


Juminten tak ingin tinggal diam, dia mendudukkan tubuhnya. Namun Eka mencekal tubuhnya, "Biarkan aku yang memimpin sekarang, tugasmu hanya menikmati."


Tangan Eka turun di aset gunung yang tak tertutupi kain, menantang dan terasa kenyal. Juminten di buat merem melek merasakan setiap sentuhannya.


Lidah Eka tak diam, dia bergerak menaik turunkannya di gunung tersebut tanpa lelah. Juminten meremat rambut suaminya, merasakan rasa geli yang sudah lama tak dia rasakan.


Eka menatap dalam-dalam mata istrinya, "Terima kasih sayang sudah menerima cintaku. Hari ini aku akan melepas perjakaku untukmu, maafkan aku bila nanti jalan yang aku lalui salah."


Juminten mengecup bibir suaminya, "Harusnya aku yang bicara seperti itu." Tangannya mengusap wajah suaminya, "Aku sudah jelas tak rapet lagi, semoga kamu merasakan puas dengan milikku."

__ADS_1


"Not yours. But, its mine! " Eka mencium menuntut kembali istrinya, dia membuat Juminten memejamkan matanya. Membiarkan suaminya mulai mengeksp*** tubuh bagian bawahnya.


Juminten hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya di eksplor suaminya. "Mmm.. Ahhh.." hanya membalas dengan rintihan suaranya.


Eka yang sudah tak tahan, memposisikan sesuatu ke tubuh Juminten. "Jangan dulu sayang, aku tak mau hanya kamu yang memanjakan aku. Biarkan aku juga membalasnya."


Eka meremat rambut Juminten, giginya menggretak merasakan sensasi nikmat yang di buat istrinya. Apalagi saat istriya menaik turunkan kepalanya, dia di buat semakin menikmatinya.


" Sayang, boleh minta agak dalam? "


Juminten mengangguk, dia menurut apa perintah suaminya, "Ah. Ka-mu be-nar-be-nar hebat sayang!"


Juminten segera melepaskan aktivitasnya dia membaringkan kembali tubuhnya. Eka yang paham apa maksud istrinya, mengukung tubuh istrinya.


"Sshhh... EKA!"


Pertama kali istrinya menyebut namanya, bahkan panggilan itu seperti nyanyian termerdu selama dia hidup. Eka menggeram kuat, ternyata milik istrinya sangat rapat.


"Sayang!" serunya tertahan.


Dan akhirnya berhasil, Juminten segera mengangkat kedua kakinya di atas punggung suaminya. Membiarkan suaminya menikmati aktivitas barunya.


Dalam hatinya, Eka mengucapkan banyak terima kasih kepada adiknya yang sudah menyia-nyiakan Juminten. Dan sekarang dia memiliki paket spesial memiliki istri yang cantik, pintar masak, tidak manja, sayang anak juga suami dan sekarang pintar di atas ranjang.


Eka di buat heran dengan tenaga mereka, matahari sudah bersinar terang. Namun, mereka tak nampak lemas sekalipun.


"Ahhh... Ahh.."


Eka mempercepat gerakannya, saat merasakan benih calon anaknya akan keluar. Posisi mereka yang miring, segera ia pindah dengan mengukung kembali istrinya.


"I LOVE YOU JUMINTEN!"


Eka memuntahkan semuanya tanpa meninggalkan bekas seditpun. Dia tatap wajah istrinya, yang sedang mencoba mencari nafas.

__ADS_1


"Terima kasih, istriku."


__ADS_2