
Hari sudah semakin sore. Juminten yang sudah selesai menyuapi makan, membersihkan ruangan kamar juga membantu calon mertuanya untuk membersihkan diri segera berpamitan untuk pulang.
"Tante, Jumi sama resti pamit pulang dulu ya." Juminten mencium tangan Dian.
"Iya sayang makasih banyak ya. Udah bantuin bersihin kamar. Pasti Jumi capek Banget."
"Enggak kok Tante, Jumi cuman risih aja tadi. Jadi tangan Jumi gatel pengen bersihin. Jumi pulang Tante, Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam."
"Bang Eka, Bambang duluan ya! Kalo ada perlu apa-apa hubungi Jumi, aja!" teriak Juminten.
"Oh iya Jumi, siap! makasih ya! " Teriak Eka.
Sedangkan Bambang acuh saja mengetahui Juminten pulang.
Bagus lu pulang, jadi lega gue. Ada lu disini rasanya pengap nih, kamar!
Juminten yang sifatnya baik dan polos melihat Bambang cuek seperti itu, hanya menganggap Bambang marah karena Jumi tak mengabari nya dahulu.
Setelah Juminten keluar, Eka menghampiri Bambang.
"Dek,harusnya kamu nggak gitu. Kamu hargai perjuangan Juminten. Setidaknya jangan terlalu cuek seperti itu. Kamu nggak lihat, gimana perhatiannya dia sama Mama? Bahkan ruangan ini dibersihkan sendiri sama Juminten. Sampai dia juga perhatian sama noda baju yang dipakai Mama. Tolong dek, jangan gitu lagi!"
"Dia cuman cari muka, Abang. Ngapain juga Bambang harus peduli. Besok juga nggak bakal kesini lihat aja! "
"Walau pun dia kesini cuman cari muka, seenggaknya kamu ucapin makasih sama dia. Kamu nggak tau gimana tulusnya Juminten tadi. Kamu malah asik sama ponsel kamu dari tadi. Bahkan nyapa dia aja enggak! "
"Bodo amat, Bang! Aku emang nggak suka ma tuh cewek! " tegas Bambang pada Eka.
Dian yang mendengar perdebatan anaknya mencoba menjadi penengah.
"Bambang, sini nak!" Dian berusaha duduk dibantu Bambang.
Mendengar ucapan Sang Mama, Bambang segera mendekat ke arah brankar dan membantu Mamanya duduk.
"Bambang, maafkan sifat egois Mama ya, nak. Maafkan Mama, bila keputusan Mama menjodohkan kamu dengan Juminten hanya sepihak. Mama tidak menanyakan pendapatmu dulu, bahkan mendengar kalimat penolakanmu pun Mama tetap dengan keputusan Mama."
Buliran air mata mulai menetes di pipi Mamanya.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Bambang. Percayalah suatu hari nanti kamu akan berterima kasih sama Mama karena telah menjodohkan kamu dengan Juminten."
Dian menarik nafas panjangnya.
"Mama memilih Juminten karena sifat polos Emak nya ada di diri dia, jiwa perhatian dengan sekelilingnya, bahkan Juminten pasti masih perawan mengingat ketatnya penjagaan kedua orang tuanya. Juminten juga Belum pernah pacaran sama sekali. Hal ini juga menjadi nilai plus untuk dia."
"Nak, orang menikah saling melengkapi. Sifat dia memang berisik juga nyablak, akan melengkapi sifatmu yang lebih suka introvert bahkan susah terbuka dengan orang lain."
Bambang mengelus tangan Sang Mama, entah mengapa setiap ucapan dan kalimat dari mamanya seperti mengisyaratkan akan adanya perpisahan.
"Sudah.. Mama istirahat, ya. Mama jangan sampai drop lagi. Aku belum sanggup kehilangan Mama."
Mereka pun mencurahkan seluruh rasa kasih sayang anak dan Mamanya dalam sebuah pelukan yang sangat lama.
Eka yang mendengar juga melihat kejadian itu hanya bisa ikut terharu tanpa mengeluarkan air mata.
🍓🍓🍓
"Assalamualaikum!" teriak Juminten.
GEDEBUK!
GEDEBUK!
"Perawan kurang ajar!"
"Eh, kenapa mak. Juminten baru pulang mak!" Juminten berlari ke halaman belakang rumah, menghindar dari amukan Emaknya yang membawa penebah kasur.
"Itu hp lu banting aja kalo nggak guna!"
__ADS_1
"Hp bagus kenapa di banting,
mak? " Juminten masih dalam posisi berlari menghindari amukan Emaknya.
"Eh, bagus! lu udah bisa jawab sekarang! Nggak tau apa Emak khawatir nggak karuan anak perawan nggak ada kabar, yang di khawatirin malah enak-enakan diluar! "
"Maaf, mak. Jumi tadi dari rumah sakit!"
"Siapa yang sakit?" Rohaya menghentikan larinya.
"Tante Dian. Tadi tuh jumi kesana soalnya kepikiran Bambang ma Abang Eka udah makan siang apa belum."
"ya makanya Sms, Telpon. Biar Emak nggak khawatir juminten! "
"iya maafin Juminten, Mak. Juminten khilaf, beneran! Tadi tuh soalnya ruangan Tante kotor banget, jadi tangan Jumi gatel pengen bersihin."
"Gimana kabar Tante dian? Udah enakan?"
"Udah Mak, alhamdulillah. Tadi aja Jumi suapin makan. Malah abis sepiring! "
"Yaudah sono mandi, terus makan. Awas aja besok di ulangin lagi nggak ngasih kabar Emak!"
"Siap, mak!"
🍓🍓🍓
Habis isya memang biasanya waktu paling enak buat nonton sinetron. Kipas angin. dinyalakan nomer 1, kasur lipat di gelar depan tv, setoples krupuk udang sama es teh segelas jumbo di sampingnya, juga tak lupa remote tv stand by di genggam.
"Tuh Kan, Mak! Bener Jumi, tuh cewek ada niat jelek sama Abang Al." Teriak Juminten di telinga Emaknya.
"Astaghfirullah Jumi! Ngomongnya jangan dikuping, bikin Emak budeg aja!" Rohaya mengulis telinganya yang masih berdengung.
"Kerasin dikit Jum volumenya!"
"Iya, Mak. Ampun Emak, volumenya udah 12 nih."
"Sponsor Jum, ganti ke simpanan Jum, cepetan!" Rohaya menjawil paha Juminten.
Kring!
Kring!
.
"Mak, hpnya bunyi tuh!" Teriak Bapak yang sedang main catur di depan.
"Iya,Pak! Jum, buruan ambilin hp!" Rohaya masih fokus dengan sinetronnya.
"Mak kebiasaan, giliran lagi pewe di suruh-suruh."
"Mau Mak kutuk jadi sapu lidi? Cepetan!"
"Iya M. ak, otw nih! ". Juminten buru-buru mengambil ponsel Emaknya tertera nama Tante Dian.
Wah calon mertua Jumi yang nelpon. Pasti kangen nih ma jumi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Jumi. Emak kamu ada?" terdengar suara panik dari Eka.
"Ada bang, kenapa?" Juminten ikutan panik sambil mendekati Emaknya.
"Tolong buruan kasih ke Emak kamu telponnya. Abang ada perlu." terdengar suara Abang Eka yang panik, membuat Juminten melempar pelan ponselnya di atas kasur lipatnya.
"Aduh, Emak hpku! Mak, Bang Eka tuh nyariin! "
"Ada apa?" tanya Rohaya.
"Nggak tau, Abang panik nih."
__ADS_1
"Buruan mak, angkat!"
"Bismillahirrahmanirrahim, kecilin dulu tv nya! Emak panik nih"
"I-iya, mak."
"Assalamualaikum, Bang."
"Waalaikumsalam,maaf Mak kalo Abang ganggu. Abang bingung harus hubungin siapa lagi."
"Abang tarik nafas dulu, Abang jangan panik."
Terdengar suara tarik nafas panjang dari Eka.
"Mama masuk icu, Mak. Tolong Emak sama Bapak kesini. Abang bingung harus gimana ini, Bambang masih nganter penumpang. Tolong cepetan Mak!" Panik Eka.
"Astaghfirullah, iya Bang. Mak sama Bapak langsung otw. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Abang tunggu, Mak! "
"Pak! Panasin mobil! Mbak dian masuk ICU!" teriak Rohaya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Iya mak. Siap. Baju Bapak tolong siapin! " Teriak Udin.
"iya, Pak. Ayo buruan! " Rohaya tak melihat anaknya yang masih dalam mode bengong harus ngapain.
"Jumi ikut nggak Mak?" tanya Juminten.
"Astaghfirullah, Emak lupa sama kamu. Buruan ikut nggak usah dandan buruan! "
Juminten pun segera masuk ke kamar. Mencari baju tersimpel dan sopan. Tanpa make up, tapi nggak lupa pakai parfum. Rambut panjangnya di kuncir asal.
"Jumi, ayo buruan!" teriak Rohaya.
"Iya, Mak. Tinggal pakai tas doang! "
Mereka pun segera melajukan mobil ke rumah sakit.
"Pak, deg-degan Aku semoga mbak dian nggak apa-apa."
"Aamiin. Banyak doa mak."
"Mak, Tante Dian kenapa ya masuk icu? perasaan tadi nggak apa-apa deh."
"Udah di bahas entar aja, Jum."
"Iya,mak! "
"Jumi,tanyain Abang ruang icu sebelah mana biar kita nggak usah ke resepsionis!" ucap Udin.
"Sebentar pak, Jumi telpon dulu! "
Tut..!
Tut..!
"Assalamualaikum, sampai mana Jum?"
"Ini Bang, habis ini sampai kok. Ruang ICU di sebelah mana?"
"Lantai 3 Jum, sebelah ruang RR. Kelihatan ada tulisan merahnya depan ruangan."
"Oke Abang, jangan panik ya. Banyak doa ya Bang, Tante pasti gapapa. Kita udah mau sampai. "
"Iya, Jum. makasih banyak ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Juminten pun menutup ponselnya. Berharap calon mertuanya segera siuman.