
Sinta versi halunya author 😍
"Kalau ngajak ribut, jangan di dalam!" ucap Eka menyalang. Tubuhnya yang lelah, di tambah Adiknya yang tak kenal tempat membuatnya semakin emosi.
Bambang memberanikan diri menarik kaos Abangnya, "Maksud Abang apa bilang gitu? Jangan bilang Abang selama ini suka sama Juminten!" Teriaknya nyalang, terlihat urat lehernya seperti akan mencuat keluar dengan tatapan tajamnya.
"Kalau memang iya kenapa?" tantang balik Eka. "Ingat! Kau sudah mengucapkan talak 3 pada Juminten yang sedang hamil. Pernikahan kalian sudah selesai dan Juminten sudah menggelar status janda setelah melahirkan anakmu!" Eka menarik keras tangan Adiknya yang mulai lemas.
"Agama tak melarang turun ranjang! Camkan itu!" Eka meninggalkan Bambang yang masih terbengong di luar, namun tiba-tiba Adiknya menariknya dan menyerang wajahnya tanpa ampun.
"Abang kurang ajar! Penghianat!"
"Kau yang penghianat!" Eka sontak membalik Bambang di bawahnya, menghajar dengan membabi buta.
Terlihat kerumunan di depan ruang rawat Juminten, pengunjung seakan ikut menghakimi tindakan mereka yang tidak tahu tempat.
"Hei, BERHENTI! KALIAN BERTENGKAR TAK AKAN BISA MEMBUAT JUMINTEN SADAR!" Dodit segera melerai pertengakaran antara Kakak dan Adik. Beruntung satpam segera datang membantu.
Penampilan Bambang dan Eka nampak acak-acakan, wajah mereka juga penuh luka kecil juga bengkak, bahkan deru nafas mereka masih terdengar menggebu. Untungnya pertengkaran mereka saat Siang Hari.
"Terima kasih untuk bantuannya, Pak."Satpam segera beranjak setelah semua kembali damai, begitu juga pengunjung yang lain.
" Cih.. Memalukan kalian! Asal kalian tau, saya juga memperebutkan Juminten, jadi kalian jangan sok jagoan! Belum tentu Juminten memilih kalian berdua dan memilih menjadi istri saya. "
Sontak mereka berdua menatap Dodit yang sedang tersenyum remeh," Kenapa? Kaget? Tidak ada yang bisa menolak kecantikannya, hanya pria bodoh yang pernah menyia-nyiakannya." Bambang meremat keras tangannya, mendengar ucapan guru sekaligus menjadi rivalnya saat ini. Sedangkan Eka hanya mengganggap sebagai bualan, karena dia tahu Juminten tak akan mudah membuka hatinya.
__ADS_1
" Permisi, sepertinya urusan kita selesai sampai disini. Selamat tinggal." Dodit meninggalkan mereka di ruang tunggu.
Eka mengelus bahu Adiknya, "Abang mohon, kali ini biarkan Abang yang membahagiakan dia. Apa kau tak kasihan dengan penderitaan yang dia alami selama ini, karena kamu?"
Bambang menundukkan kepalanya, "Aku sendiri sudah berniat move on Bang, tapi rasa bersalahku dengannya menggunung. Kenapa susah melupakan dia? "Bambang merembat keras rambutnya.
" Menurut Abang rasa itu bukan cinta, tapi penyesalan dan kamu bingung bagaimana caranya untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Kamu terpuruk dengan keadaanmu sekarang, tapi belum tentu kamu bisa kembalikan semua masalah itu. Jadilah orang yang dewasa! Ingat, kau sudah jadi Bapak!" Eka menepuk bahu Adik semata wayangnya.
Bambang masih diam mendengarkan semua ungkapan Abangnya, diam-diam dia pun membenarkan. Mengingat kembali ucapan Sinta untuknya 'Inget woi! Titik tertinggi orang mencintai itu mengikhlaskan!' dan terbukti dia masih belum bisa mengikhlaskan perpisahan ini.
"Bukan Abang nggak izinin kamu nemenin Juminten, tapi ingat prioritas kamu sekarang adalah anak kamu." Eka menepuk pelan bahu Bambang. "Mulai sekarang dan detik ini, utamakan mereka. Fokus utama kamu sama mereka, Abang mohon izin sama kamu, biarkan Abang yang bahagiakan Juminten."
"Sinta.. di luar gimana keadaannya sekarang?" tanya Rohaya berbisik, karena tangannya mulai kebas menutup telinganya Juminten sejak perkelahian mereka.
"Aman, nyonya." jawab Sinta yang mengintip keaadan di luar.
Suara Rohaya mulai parau, "Kadang gue gemes yang jadi Emaknya, gue juga yang ngelahirin tapi kadang geger sendiri nggak bisa balas nih omongan dia. " Rohaya menarik bibir anaknya sambil tersenyum kecut.
Sinta mengelus bahu Rohaya, hanya memberikan kesabaran dan semangat juga doa yang bisa dia panjatkan. Bos rasa keluarga untuknya, selalu menolong juga memberikan nasihat untuknya.
"Ibu.. Ibu.." Rena mengetuk pintu luar ruang. Sinta segera berpamitan kepada bosnya dan berlari menemui anaknya.
"Ibu kok lama.." Rena memeluk erat Ibunya.
Sinta tersenyum melihat manja anaknya, "Kita pulang sekarang ya, sayang."
Sinta menyapa dua orang yang sedang duduk diam di depan ruang bayi, mereka tampaknya tak menghiraukan sapaannya.
__ADS_1
"Pak, saya pamit dulu." Ucapa Sinta menyadarkan mereka berdua. "Eh iya hati-hati, terima kasih. Besok masuk kerja ya. Toko kita buka, banyak orderan masuk juga. Tolong kamu handle dulu ya, Bapak cek kalau ada waktu senggang."
"Siap Pak, nanti saya umumkan ke anak-anak mari saya duluan."
Udin menepuk bahu Bambang, "Ayo semangat! Jangan lemas! Sana mandi sama makan, mukamu kusut. Nanti malah perawat nggak izinin kamu gendong anak kamu."
"Maafkan saya, Pak. Saya banyak salah dengan keluarga Bapak." Bambang menatap kedua anaknya yang ada di dalam Ruang Neonatus.
"Bapak sudah pernah ucapkan ini dulu, dan nyatanya kamu masih saja ada di sekitar Juminten." Bambang menundukkan kepalanya, "Tolong jauhi kami, lihat bagaimana resikonya saat kamu ada di sekitar kami. Apakah kamu tak merasa menyesal?"
"Bapak mohon, ini juga untuk kebaikan kita semua. Selain menjaga perasaan Juminten juga untuk keselamatan anakmu. Bapak yakin, kamu pasti bahagia tapi tidak di kota ini."
Bambang segera ke kamar madi, keputusannya kali ini harus dilakukan. Meninggalkan Juminten dengan kedua anaknya dan merelakan bahagia dengan Abangnya.
Bambang mengambil semua barang yang ia bawa ke rumah sakit, menemui Abangnya juga mantan istrinya. "Bang, aku pamit pulang."
"Pulang kemana, hah?" Eka kaget melihat Adiknya sudah berdandan rapi dan bersiap pergi.
Bambang hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya, "Titip planet bumi, mereka tempatnya aku berporos dan berpijak. Untuk nama selanjutnya aku serahkan ke Kakak." Bambang menepuk punggung Abangnya.
Dia berjalan mendekati Juminten. "Aku pamit pergi, ya. Maafkan aku." Bambang segera beranjak saat air matanya akan menetes. Memilih mendekati Rohaya, dan hanya di balas pelukan mantan mertuanya.
"Pak, Bambang pamit. Sekali lagi maafkan saya," Udin yang ada di dalam Ruangan juga ikut memeluk mantan menantunya, Hati Bambang terasa tersayat merasakan tangisan dua kali dari Rohaya juga Udin.
Bambang segera melepas pelukannya dan melanjutkan langkahnya ke Ruang anaknya, menatap mereka dari luar kaca, " Planet dan Bumi, Ayah pamit sayang. Kalian berdua selalu ada di hati, tempat Ayah pulang, kasih sayang Ayah untuk kalian semua. Tunggu Ayah pulang, ya."
Bambang memulai perjalanannya ke kantor polisi menemui Mala." Selamat siang Bapak, saya mau menemui Mala. " Ucapnya saat di bagian depan.
__ADS_1
" Mala? Yang gangguan jiwa? "