
"Terima kasih sudah datang ke hidupku dan membuatku bahagia, terima kasih sudah mencintaiku dan menerima cintaku. Tapi yang terpenting, terima kasih sudah menyadarkanku bahwa ada waktu di mana akhirnya aku bisa merelakanmu pergi."
-Anonim-
...****************...
Juminten melupakan Bambang yang masih duduk menunggunya di depan. Memilih merebahkan tubuh sebentar, di kursi hamil miliknya yang berwarna hijau.
Tangannya terulur membuka pesan yang selalu dia sematkan, wajahnya kembali kecewa melihat centang 1 warna hitam di pesannya. Bahkan sudah 1 minggu ini, abangnya belum membaca ataupun membalasnya.
Juminten : [Abang kangen duo gemoy, nggak 👉👈]
Juminten : [Abang, disana gimana? Suara kodok nya sama kayak disini nggak🤔]
"Abang, Jumi kangen. Duo gemoy minta di elus, nih. Cewek kayaknya mereka, kok manja banget sama abang, " teriaknya pelan di dalam kamar.
Suara panggilan masuk di dalam ponselnya membuatnya segera bangun, membuatnya tersenyum kecut membaca nama kontak yang tertera di layarnya. Dengan lemasnya dia mengangkat panggilan tersebut.
" Halo, assalamualaikum. "
"Miss, lagi ngidam apa sekarang? Mumpung aku mau keluar nih."
Mendengar pertanyaan ngidam, membuat senyum kecutnya menjadi senyuman mengembang seketika.
"Kamu lagi di luar? Bawa motor nggak?"
Sinta pun berbisik menanyakan Bambang pertanyaan nona mudanya. Dan di jawab anggukan.
"Bawa miss." Jawabnya sambil menekan tombol loudspeaker di ponselnya.
"Tolong beliin bakso di jalan garuda, bakso spesial minta yang isi telur. Bilang aja buat Juminten pasti paham yang jualan."
Bambang yang mendengar permintaan istrinya menjadi semangat. Warung bakso kesukaan mereka berdua, menjadi sasaran ngidam istrinya kali ini.
Sinta segera mematikan ponselnya, melihat Bambang sudah membayar pesanan mereka.
" Makasih ya, udah bayarin," ucapnya.
"Hmm.. Gue duluan!"
Bambang segera meninggalkan perempuan tomboy, yang sudah membuat lengannya sakit selama mereka bicara.
"Eh, enak aja main tinggal. Gue ikut!" teriak Sinta.
Bambang segera menaiki motor yang dia bawa, dengan gerakan lincah Sinta naik keatasnya. Membuatnya menghela nafas, bisa dipastikan punggungnya akan menjadi sasaran perempuan ini.
"Kok enak di abang, abis gue bantu langsung ngacir aja. Belum kelar tau perjuangan lu, emang abis beli bakso abang mau langsung nyerahin tuh bakso? Bakal di jamin, miss nggak bakal mau nerimanya dengan mudah!"
__ADS_1
Bambang membenarkan ucapannya. Dan Segera menyalakan motornya dan melajukan ke tempat tujuan mereka.
🍓🍓🍓🍓
Setelah mereka mendapatkan pesanan ibu hamil. Bambang mengikuti saja strategi dari Sinta, tugasnya kali ini hanya menunggu pesan perintah dari Sinta. Bambang yang bingung akan kemana, memilih kembali ke warung kopi yang tadi.
Sinta pun mengetuk pintu kamar bosnya.
Tok!
Tok!
"Miss, ini baksonya datang!" teriaknya keras.
Cklek!
Juminten membuka pintu dengan wajah sumringahnya sambil menyodorkan uang berwarna merah 1 lembar.
"Nggak usah, Miss. Gratis katanya tadi."
"Loh, kok gratis? Emang si abang yang ngasi gratis? Kok tumben."
"Bukan,miss. Tadi abang ganteng yang bayar, dia pas kebetulan beli disana."
"Bambang bukan?" curiganya.
Juminten mengigit bibir bawahnya,merasa was-was akan sosok abang ganteng yang dimaksud adalah mantan suaminya sendiri.
"Miss, kalau miss takut terus dan nggak di hadapi masalahnya. Itu masalah bukannya berkurang, tapi malah nambah juga dan nggak akan pernah kelar. " Sinta mengelus lengan kiri Juminten.
Juminten pun menarik nafas panjang, membenarkan ucapan karyawannya. Bila masalahnya dia hindari terus, tak akan pernah ada titik terang antara keduanya.
Bahkan, ia akan selalu berjauhan dengan mantan suaminya. Sebagai seorang calon ibu, dia tak boleh egois. Anak mereka suatu saat nanti, juga akan menanyakan sosok siapa ayahnya.
"Ajak ke pantry aja, biar enak kalau ngobrol."
Sinta pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Dengan segera mengirim pesan kepada Bambang.
Sinta : [Ditunggu miss di pantry, kalau nggak tahu tempatnya tanya anak kasir depan 👌]
Juminten meninggalkan Sinta yang sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya tengah sibuk mengabari Bambang. Dia memilih masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintunya, meminum air putih sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan nervousnya.
"Miss, yuk!" suara Sinta membuyarkan lamunannya.
Juminten pun menganggukkan kepalanya, segera berjalan ke arah pantry tokonya. Ternyata Bambang sudah duduk dulu dan menunggunya disana. Juminten mendekatinya sambil meremat tangannya, yang sudah basah karena keringat.
Bambang yang mendengar suara langkah datang, seketika menoleh. Terkesima dengan wajah cantik tanpa polesan mantan istrinya, yang selalu dia rindukan.
__ADS_1
"Hai." seketika Juminten merasa canggung untuk menyapanya.
"Hai. A-ayo duduk." Bambang berdiri dari kursi duduknya, agar Juminten bisa duduk di tempatnya.
Juminten pun mendudukkan diri, di tempat yang sudah di siapkan mantan suaminya. Berusaha menetralkan detak jantungnya, dengan meremat bawah baju yang dia gunakan.
Sedangkan Bambang, di buat mati kutu di depannya. Hanya bisa menundukkan kepalanya, masih berusaha merangkai kata maafnya untuk mantan istrinya. Suasana masih hening, belum ada yang membuka percakapan antara mereka berdua.
Sinta yang dibuat gemas dengan tingkah mereka, akhirnya memberanikan diri masuk pantry. Membuka bungkusan bakso yang sudah mereka pesan, dan juga menyiapkan 2 gelas air putih.
"Silahkan dimakan, biar ada tenaga kalian buat berbicara. Maaf tadi aku sengaja nguping pembicaraan kalian berdua, jaga-jaga toko runtuh gegara kalian rame. Eh, dugaanku salah. Ternyata kalian masih diam belum ngobrol sama sekali, keburu jam istirahat saya habis ini." Sinta dengan santainya menyajikan makanan.
Juminten melototkan matanya kepada Sinta dan hanya di balas kedipan mata. Memang dari awal Udin memilihnya, agar bisa mengimbangi sifat juga tingkah laku anaknya yang hampir mirip dengannya.
"Aku tinggal ke depan ya, kok aura nya miss mau nuang bakso nya ke aku. Permisi! "
Mendengar ucapannya, Juminten segera mengangkat kepalan tangannya melayang ke atas seakan ingin mem-bogem nya.
"Kurang ajar!" gerutu Juminten.
"Ehem.."
Tanpa banyak bicara, Bambang langsung memegang tangan dingin Juminten yang ada di meja. Membuat si pemilik tangan, menundukkan kepalanya.
"Maafin aku, ya!" ucapnya pelan.
Juminten menarik pegangan tangan mereka, "Makan dulu, yuk. Aku laper, takut pingsan nanti."
Mereka pun segera segera memakan bakso, tanpa menikmatinya. Bagaimana bisa menikmati, semua terasa canggung saat ini.
"Aku mau pergi, Jum. Aku mau pindah ke luar kota. Niatku kesini ingin meminta maaf kepadamu, sebelum aku berpamitan dengan mama dan orang tuamu."
"Ngapain ke Jumi duluan?"
"Karena, tanpa maafmu aku nggak bisa berangkat dengan tenang Jum."
Juminten meletakkan sendoknya, selera makannya benar-benar hilang sekarang. Menyeka bibirnya dengan tisu di dekatnya.
"Jauh sebelum kamu meminta maaf kesini, Jumi sudah memafkanmu. Walau hubungan kita tak bisa baik seperti dulu."
"Jumi nggak bisa egois, suatu saat nanti duo gemoy pasti menanyakan siapa ayahnya."
Bambang di buat terharu mendengar jawaban mantan istrinya, tatapan matanya melihat perut yang mulai membesar.
"Boleh aku pegang mereka?"
Juminten mengangguk, dengan segera Bambang turun dari duduknya. Memegang pelan mereka yang masih ada di dalam perut. Tanpa sungkan, dia memberi banyak ciuman di perut Juminten dengan meneteskan air mata. Dirinya terasa sangat bahagia, bisa memegang anak yang sempat dia tolak hadirnya.
__ADS_1