Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 62


__ADS_3

"Mohon maaf Pak, pasien membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Silahkan duduk di ruang tunggu di depan."


Eko pun keluar dari ruangan IGD, hatinya di buat tak karuan menunggu panggilan untuk dia bisa masuk kembali dalam.


Waktu semakin beranjak malam, suhu udara yang terasa dingin mulai menusuknya. Membuatnya memilih meringkuk di kursi tunggu, menggesek-gesekkan telapak tangannya untuk mengurangi rasa dinginnya.


Cklek!


Perawat mendekati Eko yang sedang duduk di depan pintu IGD, "Permisi keluarga Bu Mila, silahkan menemui Dokter."


Eko segera beranjak masuk ke dalam ruangan IGD. Entah mengapa, perasaannya tidak karuan. Berusaha mengatur deru jantungnya yang mulai tak terkontrol, tarikan nafas terasa sangat tercekat di setiap langkahnya.


Dokter yang sudah menunggunya, mempersilahkan duduk, " Silahkan duduk, Pak. "


Eko segera mendudukkan tubuhnya di kursi, "Sakit apa calon istri saya, Dok?" dari nada bicaranya, terdengar seperti orang yang sedang terburu-buru.


Dokter membuka hasil tes Sinta beberapa menit yang lalu di depannya. Eko di buat mengernyit karena tak paham akan tulisan yang ada di depannya.


"Mohon Bapak kuatkan hatinya dulu, sebelum saya membaca hasil pemeriksaannya."


Otot dan daging yang melekat dengan tulang rasanya seketika terlepas, ucapan peringatan dokter seakan bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya selama ini.


"Bu Mila terdiagno sariawan vagi** atau nama lainnya Candidiasis. Penyakit ini di sebabkan karena infeksi jamur yang menyerang di organ int*m wanita dengan luka yang terbuka."


"Apa bahaya, Dok?"


"Sebentar Bapak ya, saya jelaskan terlebih dahulu. Sariawan vagi** di sebabkan karena 2 faktor, untuk faktor pertama, karena kurang bersih merawat organ int*m dan faktor kedua karena hubungan sek*ual yang tidak sehat alias menular."


Duar!


Eko terasa tercekat mendengar semua ungkapan dokter, nyawanya melayang entah kemana. Mengumpulkan memori klise semua pernyataan Mila 'Please, cari wanita lain. Jangan, aku! Aku nggak baik buat kamu!'. Apakah benar, bawah perempuan yang ia kagumi selama ini pekerjaannya menjadi kupu-kupu malam?


" Mas.. Mas.. " Dokter membuyarkan semua lamunannya.


Eko menguatkan kembali punggungnya untuk bersandar, mendengarkan kembali semua ungkapan dokter.


"Baik, saya lanjutkan. Tim medis menemukan adanya sisa sp*rma di dalam vagi**, kami menanyakan riwayatnya dan ternyata pasien sering bergonta-ganti pasangan. Demam yang di alami pasien saat ini, di sebabkan nyeri dari luka sariawannya. Saya sarankan, Mbak Mila untuk sementara waktu tinggal disini terlebih dahulu, agar mempermudah kami memeriksa juga mengontrol keadaannya. Semoga semua hasil medis selanjutnya menyatakan baik-baik semua dan Mbak Mila bisa beraktivitas kembali. "

__ADS_1


" Baik, Dok. Terima kasih. "


" Silahkan menemui suster untuk mengisi formulir pernyataan bersedia di rawat di rumah sakit. "


Eko berputar arah, memilih menemui Mila terlebih dahulu, di sambut dengan senyuman yang manis dengan wajah yang nampak pucat.


"Kenapa kok lesu gitu, Mas?" Mila berusaha bersikap biasa, walau ia tahu Eko sudah mengetahui pekerjaan yang selama ini ia tutupi.


"Manja banget sih, kamu. Sakit sariawan kok di tempat yang aneh. Kayak gitu sembuhnya ya mesti lama, jadi kamu di rawat di rumah sakit dulu. " Jawabnya sambil mencubit manja pipi Mila.


"Mas-"


Eko segera beranjak keluar dari kamar rawat, untuk mengurus formulir di ruang perawat, Namun Mila justru memiliki pikiran buruk bahwa Eko meninggalkannya. Apalagi setelah ia mendengar penyakit yang telah dia derita.


Mila menangis tersedu-sedu, meratapi nasib yang ia rasakan sekarang. Inilah alasannya memilih menolak Eko dari awal, ia sadar akan pekerjaan kotornya. Pekerjaan menjijikkan dengan segudang penyakit kotor yang harus ia terima kapan saja. Dan sekarang, ia sudah menerima karma dari pekerjaan instan tanpa ijazah ini.


"Aku kotor, Mas! Aku bukan perempuan baik! Aku nggak pantas buat kamu! Aku buruk! " Suara teriakan Mila menggema hingga luar ruangan.


Eko dan para perawat segera berlari menuju kamarnya, rasa khawatir mereka menjadi lega melihat Mila masih meringkuk di atas kasurnya sambil meremat bantal yang ia pakai.


Mila berusaha menyingkirkan tangan Eko dan memilih memungginya, "Kamu pulang aja, ya. Aku udah nggak apa-apa," jawabnya dengan sesegukan.


"Kamu kok pinter, abis nguras dompetku terus ngusir aku! Mulai besok, aku makan numpang di rumahmu pokoknya," godanya.


Mila membalikkan kembali tubuhnya, memukul pelan lengan pria yang selalu bisa membuatnya tertawa. "Ih, sempet-sempetnya godain aku!" Sambil tersenyum dan menghapus air matanya.


"Duduk napa, nggak enak banget ngomong sambil kamu duduk. Masih perih ya sariawannya?"


Mila mengerucutkan bibirnya, "Aku sih maunya duduk, nggak enak tidur terus, tapi ini di bagian bawah perih banget buat gerak."


"Yaudah kamu tiduran aja, kalau butuh oles salep nanti bilang, ya. Aku panggilin perawat, biar orang-orang nggak ngirain aku lagi cari kesempatan di dalam kesempitan," godanya berbisik.


Sontak Mila menggigit gemas telapak tangan Eko. Pria di depannya, selalu membuatnya mati kutu tak bisa menjawab candaan garingnya.


" Kamu lapar? Apa mau berubah jadi drakula? Kok jam segini malah gigit tanganku. Nanti kalau darahku disini beku, terus kulitku jadi biru. Kamu orang pertama yang aku makan loh, ya."


Mila semakin keras mengigitnya, "Ah.. Ah.. Terus sayang!" goda Eko.

__ADS_1


Sontak Mila tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Eko.


Cklek!


" Gimana kondisi Kak Mila? Perih yang kemarin itu ya? " Mala menelisik keadaan kakaknya sambil memegang tubuhnya.


Mila menjawab dengan tersenyum, "Radit sama siapa di rumah?" mencoba mengalihkan perhatian adiknya.


"Ya Ampun, kakak.. Pikirin kondisi kakak! Fokus sehat! " pekiknya.


Eko meninggalkan kakak dan adik di dalam kamar berdua. Tangannya mengirim pesan pada teman-temannya untuk meminjam uang di WhatsAppgrup.


Eko : [Open Donasi utang sebanyak-banyaknya. Abis kena bencana yang tidak bisa di duga🤤]


Sinta : [Sedang bokek, okšŸ˜‹]


Candra : [done 100 ribu masuk rekening]


Juminten : [2 juta potong gaji tiap bulan šŸ‘‰šŸ‘ˆ]


Eko : [kamsahamnidašŸ˜]


Seenak itu ya, Eko bisa dapat utang cepet. Silahkan kalian coba di rumah. Tapi, jangan lupa bayar ya. Jangan kabur atau pura-pura lupa wkwk🤣🤣


Eko memesan makanan dari aplikasi online, perutnya yang lapar juga malas keluar rumah sakit membuatnya memilih cara instan.


"Weh, drivernya Bambang, " pekiknya.


Bambang membawa masuk makanannya sambil melebas atribut yang ia pakai. Pikirannya tak karuan, khawatir yang di tunggu Eko saat ini mantan istrinya yang sedang berjuang melahirkan duo gemoy. Bambang berlari mengitari Ruangan IGD mencari Eko.


" Oi, Mas! Disini!" teriaknya.


"Orderan lu, nih! Siapa yang sakit?"


Eko belum menjawab namun suara yang di kenalinya menyapa. "Abang Bambang! "


"Loh, Mala! Ngapain kamu di rumah sakit?"

__ADS_1


__ADS_2