Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 44


__ADS_3

"Dalam hidup, kamu harus berani mengambil keputusan tentang apa yang pantas diperjuangkan dan apa yang tak pantas diperbaiki."


-Anonim-


...****************...


Juminten memakai bedak taburnya, lalu mengoleskan lipcreamnya yang berwarna nude di bibirnya yang pucat. Akhir-akhir ini morning sicknessnya semakin parah, dan membuatnya lemas. Namun bisa reda dengan mencium bau minyak kayu putih dan usapan tangan seseorang. Untuk mengantisipasi agar tidak muntah, Juminten memakai minyak kayu putih hampir di sekujur tubuhnya untuk mengurangi rasa mualnya.


Hari ini, hari pertamanya masuk sekolah. Dengan semangat, Juminten segera memakai seragam putih abu-abu nya yang baru. Karena, seragamnya yang lama nampak mulai mengecil, padahal tubuhnya yang mulai melar dan perutnya membuncit karena nafsu makannya yang memuncak setiap sore.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Sebentar, bang!"


Rutinitas pertama Juminten hari ini, diantar mantan kakak iparnya yang sekarang berstatus menjadi kakak angkatnya. Karena, kedua orang tuanya yang menganggapnya seperti anaknya sendiri.


"Sarapan dulu, bang!" teriak Rohaya dari dalam rumah.


"Masak apa nih, mak? Kok baunya sedap banget. " Eka mendudukkan dirinya di meja makan.


"Noh..si semox! Dari kemarin ngidam minta di masakin balado terong teri sama telur puyuh." jawabnya sambil melirik anaknya yang sedang memakai sepatu.


"Giliran ada abang di tawarin makan, anak sendiri dari tadi nggak di tawarin loh, bang. Kan nyebelin!" lapor Juminten.


"Salah sendiri dari tadi rempong bolak-balik kamar mandi. Ampe pucet tuh bibir." jawab Rohaya sambil menyiapkan bekal untuk mereka berdua.


Juminten menggeser kursi yang ada di meja makan "Bawaan si utun, mak! Untung rempong ke kamar mandi, kalo rempong ke mall gimana? Emak siap bayarin jajannya? "


"Amit-amit, Jum. Nggak usah ngimpi ketinggian. Semoga cucuku jadi anak yang selalu rendah hati walau di dompetnya berjejer duit merah. Aamiin." Rohaya mengelus perut anaknya yang semakin membucit.


Eka mengingat hasil pemeriksaan kemarin. "Kata dokter kemarin kan 8 minggu ya, Jum?" Juminten menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "Tapi, pas di buka perutnya udah mulai buncit mak."


"Kembar mungkin!" jawab Rohaya.


"Kalau memang kembar bisa aja, mak. Kan mama juga kembar." Eka mengingat pada almarhumah tantenya.


"Eh, iya mamamu dulu kembar. Cuman, yang satunya meninggal pas masih sekolah ya, bang. Namanya kalau nggak salah Dena? Bener bukan, bang?" dijawab anggukan Eka.


"Yuk, berangkat bang! Bismillah, semoga hari ini lancar."Juminten yang sudah selesai sarapan memakai tas ransel yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Mereka segera berangkat dengan membawa mobil, karena takut resiko kehamilan yang masih trimester satu. Eka tak hentinya mengelus perut Juminten sambil menyetir mobil.


Kegiatan yang selalu dilakukan setiap mereka bertemu. Dan sukses mengurangi mual muntah Juminten.


"Oke, sampai." Eka menghentikan mobilnya di depan gerbang.


"Makasih, bang. Hati-hati ke bengkelnya." Juminten menengadahkan tangan ke abangnya.


Eka yang mengira Juminten meminta uang saku, mengambil uang pecahan merah 1 lembar dari salam sakunya. "Nih! Tau aja kalo di saku abang ada duitnya."


Juminten memperhatikan uang merah yang ada di tangannya, lalu menggelengkan kepalanya. "Ckck.. Salim, bang. Tapi, lumayan sih buat tambah nanti naik mobil ojol. Mana tangannya?" Eka langsung menyodorkan tangannya.


"Assalamualaikum!"


"Eh, jangan keluar dulu! Inget, jangan banyak tingkah!" Eka menarik pelan tangan Juminten.


"Iya, bang! Udah ah, Jumi takut telat nih. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Juminten masuk sekolah dengan cerianya. Tujuan pertama membaca penguman kelas di mading sekolah. "Alhamdulillah, sekelas sama Resti sama Mala." ucapnya setelah menemukan namanya.


Juminten clingak-clinguk mencari temannya. Hingga akhirnya bertemu mereka di kantin.


"Juminten!" Resti segera memeluk sahabatnya. Rasa rindu dengan sahabat nya menggebu, apalagi dia sudah mendengar kabar perpisahan rumah tangga temannya.


"Jangan kenceng-kenceng umi, lupa ya..!" Juminten berusaha melepas pelukan Resti.


"Astagfirullah iya, lupa. Hehe.. Maaf ya!"


"Gue nggak di peluk juga, Jum?" Farid ikut menghampirinya.


"Nih tonjok, mau? Macem-macem!" membuat Farid tertawa. Seketika mereka lupa keberadaan Mala yang juga ada disana.


"Aku duluan ke kelas, ya!" ucap Mala sambil membawa tasnya.


"Eh, mala apa kabar?" Juminten pun menyapa Mala.


"Hmm.. Baik! Bye semua!" Juminten mengernyitkan dahi melihat kepergian Mala. Namun, karena rasa bahagianya bisa berkumpul kembali dengan sahabatnya, mengacuhkan Mala yang seperti itu.

__ADS_1


Mala segera bergegas ke kelas, mencari tempat duduk di belakang sendiri." Dari awal aku masuk sekolah, semua teman-teman peduliin kamu Jum. Tapi, aku? Bahkan, nggak ada sama sekali! Kamu juga berhasil merebut perhatian abang sampai sekarang! Kenapa kamu selalu ada di sekitarku, Jum?" monolog Mala.


Bel masuk sekolah berbunyi. Juminten dan Resti segera masuk ke dalam kelas. Karena semua tempat duduk penuh, mereka memilih duduk di barisan depan pinggir jendela kelas.


" Selamat pagi, semua! " Seorang guru pria masuk ke dalam kelas. Sontak riuh seluruh murid perempuan, memiliki wali kelas yang tampan.



"Semuanya.. Bisa diam tidak? Kalian sudah ABG tapi kelakuan kayak bocah! " tatapan tajam guru baru membuat kelas menjadi senyap. Sepertinya, wali kelasnya salah satu guru killer mereka.


"Ehem..! Salam kenal, nama saya Dodit, Usia 28 tahun. Saya yang akan menjadi guru mandarin juga wali kelas kalian setahun yang akan datang! Silahkan ada yang mau bertanya?"


"Pak, nomer WhatsApp nya berapa?" tanya salah satu murid perempuan, sontak membuat kelas riuh.


"Buat bikin WhatsAppgrup elah.. Sekalian pdkt."


"Oke, pertanyaan yang lain?"


"Masih single nggak, pak?" tanya murid perempuan yang lain.


Sontak kelas menjadi riuh kembali.


"Semuanya bisa diam tidak?" teriak Dodit membuat kelas seketika senyap.


Namun, saat suara kelas senyap. Terdengar suara dengkuran halus dari salah satu muridnya, membuatnya memicingkan mata.


Resti berusaha membangunkan Juminten, namun sia-sia. Juminten yang lemas tubuhnya karena muntah-muntah tadi pagi, sukses tidur nyenyak di kelasnya.


Dodit segera mengambil penggaris kayu yang ada di sebelahnya. Resti seketika takut melihat tatapan tajam guru barunya.


Brak!


Brak!


Juminten segera bangun dari tidurnya. Dengan tampang santainya, Juminten mengangkat tinggi ketiaknya. "Hoam.. Selamat pagi, pak!"


"Maksud kamu apa? Hari pertama sekolah malah tiduran di kelas?" Juminten yang ditatap tajam gurunya hanya membalas dengan senyuman manis.


"Maksud Bapak juga apa? Hari pertama kita sekolah, sudah menunjukkan sikap galak bapak? Biar murid takut? Salah, pak! Justru semakin bapak galak, semakin banyak murid yang nggak akan nyaman di ajari sama bapak!"

__ADS_1


Dodit menatap tajam muridnya yang berani menantangnya. " Kamu --"


"Di hukum keluar kelas, pak? Siap! Alhamdulillah, kebetulan Jumi juga lapar. Makasih, pak! " dengan tampang polosnya Juminten keluar santai dari kelasnya.


__ADS_2