Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 43


__ADS_3

"Mas mau mentalak Juminten? " tanya Juminten.


Dan pernyataan itu sukses membuat Bambang terdiam. Rasanya lidahnya kelu untuk menjawabnya.


"Mas!"


Juminten memegang wajah suaminya, menatap dalam bola matanya. Bambang yang ditatap istri yang mulai mengisi hatinya juga hari-hari nya menjadi salah tingkah.


"Kenapa hmm.. Kok diam?"


Wajah tampan suaminya terlihat kacau. Sepertinya, banyak masalah yang membebani nya tanpa sepengatahuan nya.


Juminten masih menatap suaminya dengan senyuman palsu, mencoba kuat menunggu jawaban dari suaminya.


Bambang melepaskan tangan istrinya. Ah, bukan istri lagi tapi calon mantan istrinya. "Juminten, aku mentalakmu! Aku mentalakmu! Aku mentalakmu!"


Jeduar..!


Rasanya petir menyambar pada tubuh Juminten. Tubuhnya seketika melemas tak kuat untuk di sokong. Air matanya turun deras tanpa di komando. Ucapan 3kali talak dari mantan suaminya, sudah cukup menjawab rasa gelisahnya dalam beberapa hari ini.


Sedangkan Bambang, langsung bangkit dan berlari keluar ruangan rawat inap mantan istrinya. Ucapan yang di tahan menguar sudah, batinnya pun ikut bergejolak mereka berperang untuk menyakiti tubuhnya.


Dan hasil sakit itu berupa air mata, Bambang yang tak kuasa menahannya secara tak sadar memilih duduk di depan ruang bayi.


Mendengar suara tangisan bayi, sukses membuatnya menangis deras. "Aku belum sanggup! Aku belum sanggup punya anak, Jum! Aku belum sanggup!" Bambang berteriak dengan tertahan sambil meremat keras rambutnya.


Orang tua Juminten melihat mantan menantunya keluar segera menghampiri anaknya.


"Astagfirullah, Juminten..!"


Darah mengucur deras di pergelangan tangan Juminten, ucapan talak suaminya seakan menyalahkan janin yang ia kandung. Dengan tekad membunuh dirinya, sepertinya cukup untuk menebus kesalahannya pada mantan suaminya.


"Jum..! Jum..!" Rohaya menangis tersedu melihat darah yang mengalir deras walau sudah di tutup selimut yang dipakai anaknya.


Tak lama, dokter dan perawat masuk ke dalam kamar rawat. Memberikan penanganan luka sayatan pada Juminten. Untungnya, sayatan tersebut tak cukup dalam. 4 jahitan sudah menutup kembali darahnya.

__ADS_1


Rohaya terpukul melihat nasib anak semata wayangnya seperti itu. Menyalahkan semua kejadian perjodohan yang mengedepankan egoisnya sebagai orang tua. Bukannya memang itu realita, penyesalan selalu ada di belakang?


Juminten masih di dalam pengaruh obat bius. Beberapa jam yang lalu setelah dia sadar, dia memberontak dengan memukul-mukul perutnya disertai jeritan. Rohaya menggenggam erat tangan anaknya, membacakan ayat kursi agar jiwa anaknya kembali tenang.


Cklek!


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Eh, abang masuk nak!" Eka menyalimi tangan Rohaya.


"Maaf, abang kesini nya telat, mak. Abang baru ketemu sama temen lama. Alhamdulillah, abang dapat kerjaan di luar kota. Mohon doanya, mak, pak. Semoga abang lancar kerjanya." Eka yang tak tahu kondisi yang telah terjadi bertingkah biasa saja.


"Berarti abang belum bertemu adik pengecutmu?"


"Maksud emak? Bambang? Apa dia tadi kesini?" Rohaya hanya menganggukkan kepalanya.


"Lalu? Bukannya itu bagus, mak?"


"ABANG LIHAT! LIHAT PERGELANGAN TANGAN JUMINTEN! SEMUA KARENA BAMBANG! "


Eka terkaget, bertanya-tanya kesalahan apa yang dilakukan adiknya. Dia hanya diam, menjauhi kedua orang tua Juminten dan mencoba menghubungi sang pembuat masalah namun tak ada jawaban.


Beberapa saat kemudian, Udin menghampiri Eka yang hanya menundukkan pandangannya.


"Bang, maafin emak ya!" Udin menepuk bahu kiri Eka.


"Abang yang harusnya minta maaf, pak. Abang datang disaat kondisi yang tidak kondusif." Eka menundukkan kepalanya kembali, merasa malu dengan keluarga Juminten karena kelakuan adik kandungnya.


"Kenapa kamu kok murung gitu? Tunggu Juminten siuman dulu, ya. Nanti kita atur kondisi selanjutnya gimana. Bapak mau sholat dulu." Udin pergi meninggalkan Eka yang masih termenung di sofa.


Tiba-tiba Rohaya berjalan menghampirinya dan duduk di sebrangnya. Eka di buat cemas, ia seperti merasa menjadi tersangka dari dalangnya masalah ini.


" Bang, emak minta tolong cariin psikolog. Tadi emak di suruh nemuin dokter, tapi emak sama bapak belum tega tinggalin Juminten." Eka menganggukkan kepalanya, hatinya lega mendengar ucapan emak kembali baik seperti biasanya.


"Bang, maafin Juminten ya. Kalau selama jadi menantu almarhumah mbak dina sering bikin kesalahan. Kayaknya, emak mau ngajak Juminten balik ke rumah aja." Eka menggelengkan matanya.

__ADS_1


Air mata Rohaya mulai kembali menetes. "Emak masih nggak percaya, niat emak ngelakuin perjodohan juga demi nama baik persahabatan. Nikahin Juminten di umur masih 17tahun, berharap adikmu bisa bahagiain dia. Ternyata emak salah besar."


Eka semakin menundukkan kepalanya. Rasa malu, sungkan dan takut menjadi satu. Tapi, mengingat rahasia almarhumah mamanya dengan Bambang sebelum menikahi Juminten sepertinya harus di buka.


" Mak, boleh Eka ngomong sesuatu? " Eka menegakkan duduknya. Rohaya yang melihat tatapan Eka menjadi ikut serius dalam pembicaraan tersebut.


"Abang, almarhumah mama maupun Bambang meminta maaf kepada emak sama bapak juga Juminten." Eka menjeda obrolannya sejenak.


"Kami memiliki rahasia sebelum perjodohan ini berlangsung." Eka menarik nafasnya "Mama memaksa kami berdua untuk melakukan perjodohan ini. Di saat kondisi mama yang baru sembuh dari rumah sakit."


"Mama yang sudah tau diagnosa kronisnya khawatir tidak ada yang bisa menggantikan posisi mama di rumah."


"Akhirnya kami terpaksa menyetujui perjodohan ini. Hingga akhirnya Bambang yang dipilih Juminten. Sepulang dari rumah emak, Bambang uring-uringan dengan mama. Dan berdampak ke kesahatan mama. Akhirnya, mama drop lagi." Eka mengahapus air matanya yang ikut mengalir.


" Kami sempat cekcok karena Bambang masih dengan pendiriannya tidak mau menikah dengan Juminten. Akhirnya, mama koma. Lalu saat mama sadar abang segera menghubungi emak untuk melanjutkan masalah perjodohan ini."


"Semua perhatian Juminten untuk mama dan kami selama di rumah sakit masih belum meluluhkan hatinya. Dan mama pun masuk icu kedua kalinya, itulah hari pertama Bambang menyatakan mau menerima perjodohan dengan menikahi Juminten."


Eka bersimpuh di kaki Rohaya, "Maafkan kami. Abang mohon maafkan mama juga, mak." Eka menangis tersedu-sedu sambil memeluk kaki Rohaya.


Rohaya hanya membalas dengan mengelus punggungnya, "Sudah abang, emak sudah maafin semua. Takdir sudah terjadi, kita harus tetap jalan ke depan. Ini juga pelajaran buat emak kedepannya, buat nggak maksain kehendak emak."


Mereka tak tau Juminten sudah sadar dari siumannya. Ikut mendengar semua cerita dari Eka. Tangannya terulur mengelus janin yang masih belum punya dosa, juga belum punya nyawa dalam perutnya.


Namun, kehadirannya dan janinnya tak disambut baik suaminya. Juminten menangis terisak, dan membuat Eka dan emak berlari menghampirinya sambil menghapus air mata.


"Eh, anak emak bangun. Alhamdulillah." Rohaya bersikap seperti biasanya.


"Mak, bang. Ju-minten su-dah di talak Bambang." ucap Juminten sambil menatap langit-langit kamar rawatnya.


"Udah, mungkin tadi Bambang lagi banyak pikiran. Nggak sengaja." Rohaya mengelus rambut anaknya.


"Sudah, talak 3 kali. Ju-minten resmi jan-da di umur 17 tahun." Juminten berbicara masih dengan tatapan matanya ke atas.


Rohaya terisak sambil memeluk anaknya, "Maafin emak, Jum!" Juminten diam tak membalas apapun sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2