
Hari ini, kali pertama Eka masuk ke dalam kamar Juminten bukan menjadi tamu atau teman untuk mengusir rasa kesedihan hati Juminten. Hari ini, dia menjadi seorang Raja di kamar ini. Ah, memikirkan hal itu membuatnya memikirkan malam pertama mereka nanti.
Juminten yang sudah terbiasa di temani suaminya di dalam kamar, tak terlihat takut ataupun gemetar sama sekali. Bahkan dengan seenaknya dia akan melepas dress yang dia pakai tadi pagi, di depan suaminya tanpa rasa canggung.
"Kamu kok nggak ada malunya sih?"
Membuat Juminten mengernyitkan dahi, "Ngapain malu? Bukannya biasanya juga kita berduaan di kamar ini?" ah, dia lupa istrinya salah satu jelmaan wanita polos yang di ciptakan Tuhan di dunia ini.
"Kalau nanti aku bergerilya di tub*h kamu gimana?" ucapnya berbisik dengan nada ******, spontan tangan Juminten menutup aset pribadinya.
"Jangan aneh-aneh, nanti malam kita ada resepsi. Di luar banyak orang, jangan sampai ya ada acara penting aku jalannya kayak kepiting, Bah."
Sayangnya Eka tak memperdulikan gerutuan istrinya, dengan tergesa dia membuka dress yang di kenakan Juminten. Hanya melihat tubuh istrinya yang masih memakai kemben putih di dalamnya. Sudah sukses membuatnya terbakar gejolak gai***.
Dor!
Dor!
" Abah, Ibu! " teriak Bumi dengan tak sabaran sambil berulang kali mengetok pintu kamar.
Eka mengacak frustasi rambutnya, gagal sudah rencana untuk menjahili istri cantiknya. Juminten dengan segera melepas tangan Eka dan mengambil daster rumahan yang biasa dia pakai.
"Hmm.. Sabar Bumi! Kalau masih nggak sabar, robohin aja sekalian kamar Ibu gimana? Krucil ganggu aja! Sana, Ibu mau tidur, " teriak Juminten.
"Kata Bapak sama Emak, kita di suruh tidur di sini. Biar Abah nggak ngajak nyanyi lagu selulosa siang-siang."
Maksudnya seriosa, maklum anak kecil 🤣
Rohaya tertawa di balik dinding, menguping semua pembicaraan Bumi. Memang dia sengaja menyuruh cucu perempuannya untuk menggagalkan acara anak dan menantunya siang-siang.
"Emang Bumi sudah pamitan sama Ayah? Kasian Ayah tungguin kamu di luar sendirian." Eka berusaha membujuk anaknya agar tak mengganggu kegiatannya.
__ADS_1
"Ayah tadi sudah pamitan sama Emak juga Bapak, malah tadi Bumi di kasi uang saku 3 lembar sama Ayah. Emang Bumi nggak boleh tidur siang sama Abah? "
Juminten tertawa melihat frustasinya Eka kehabisan ide untuk menjawab anaknya. "Sabar Abah, resiko punya istri mantan perawan ya begini."
"Bukan itu sayang, tapi biasanya mereka nggak pernah mau tidur sekamar sama kamu." Eka mengacak frustasi rambutnya.
Juminten hanya menanggapinya dengan tersenyum, tubuhnya yang lelah dan kurang istirahat karena rangkaian acara sejak kemarin. Membuatnya ikut terlelap dengan Bumi yang tidur di antara mereka. Sepertinya gadis ini benar-benar ingin menguasi Abahnya, terbukti dari pelukan posesifnya yang sangat erat.
Merasakan pelukannya terlepas dari anaknya, Eka membuka kemeja putih yang dia kenakan sejak tadi pagi. Terlihat benjolan otot kuat dan kekar, karena dia rajin olahraga gym.
Berpindah tidur dengan pelan-pelan di samping istrinya. Mengubah arah tidur Juminten agar menghadapanya, senyumnya terbit melihat wanita yang dia impikan sejak dulu akan benar-benar menyatu dengannya dan melebur dengan sebuah rasa bernama cinta.
Eka mengecup leher jenjang istrinya yang berbau wangi, dirinya di buat heran melihat istrinya masih berbau segar. Padahal dia sedikitpun belum menyentuh air, riasan tadi pagi saja masih menempel rapi di wajahnya.
"Ibu, Abah cium ya," pamitnya walau dia tahu istrinya masih menyelam di alam mimpi.
Dia mencium perlahan bibir merah itu, bibir yang sudah membuatnya candu. Eka menyesap juga memainkannya. Juminten kaget dengan spontan memukul suaminya.
Bruk!
Eka mendarat jatuh dari atas kasur karena ulah istrinya. Rasa kantuk Juminten menjadi hilang, melihat sosok pria yang sedang merasakan sakit di bawahnya.
"Aaaaah.. Abah ngapain kesini?" pekiknya. "Abah buruan keluar, nanti kalau ketahuan Emak sama Bapak kita di dalam satu kamar pasti langsung di nikahin."
Eka meringis mendengar ungkapan istrinya, jangankan hanya untuk satu kamar. Saat ini juga mereka sudah bebas untuk bisa melakukan semua apa yang dia tahan sejak tadi.
Brak!
Apalagi ini? Batin Eka.
Eka kembali mengusak kasar rambutnya dengan frustasi, melihat gerombolan keluarga dari pihak istrinya berbondong-bondong membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Masya Allah, ada bule nggak pakai baju."
"Ya Allah Gusti! Kulo nyebut! Itu otot punya mantu gede amat, di pegang keras nggak ya?"
Udin menggelengkan para wanita yang tak tergerak hatinya untuk menolong menantunya, malah sibuk mengagumi tubuhnya, "Ada apa ini tadi Juminten? Suami kamu salah apa?"
"Hah, suami?" dengan mengerjapkan kedua matanya, sambil mengumpulkan pundi-pundi kepintaran di otaknya.
"Kan tadi pagi kita akad nikah sayang, kok kamu udah amnesia."
Juminten segera turun dari atas ranjang ikut membantu Bapaknya, "Maafin Ibu ya, Bah. Ibu beneran lupa," ucapnya cengengesan.
Hu!
Semua orang akhirnya bubar dari dalam kamar, Eka segera menutup dan sekarang mengunci kamarnya.
"Abah marah sama Ibu? Maafin Ibu, ya sayang, " ucap manja Juminten sambil memeluk manja suaminya.
"Ah, nggak bersyukur banget aku. Udah di kasih suami yang sangat sayang aku selama ini. Perhatian, selalu peduli saat kapanpun, eh pas baru nikah udah di bikin emosi." Juminten memainkan jarinya tepat di atas dada Eka, dan sukses meningkatkan gai*** terpendam suaminya kembali.
Tanpa memberikan kesempatan untuk menolak, Eka ******* habis bibir istrinya. Juminten di buat larut dalam ciuman menuntut dari suaminya.
" Ah.." suara des*han keluar dari bibir Juminten. Meremat kepala suaminya yang sedang bermain di area lehernya tanpa meninggalkan jejak.
Deru nafas mereka terdengar berburu, bahkan Eka di buat melayang saat Istrinya menggigit ****** telinga.
"Ibu sama Abah ngapain kok nggak tidur?" ucap Bumi mengucek-ngucek matanya.
Eka meremat keras rambutnya sambil meringis, gagal total rencananya untuk mengajak istrinya ke atas ring tinju. Mereka melupakan sosok mungil yang masih tidur di atas kasur.
Mereka pun segera merapikan kembali baju yang sudah kusut, Juminten segera berbaring dan memeluk Bumi yang terlihat masih ngantuk.
__ADS_1
"Argh..! Yaudah kita tidur aja! Lupakan kejadian yang tadi," pekiknya.