Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 107


__ADS_3

Suara burung berkicau riang menyambut sinar mentari pagi. Kambing-kambing tak ingin ikut kalah dengan burung, mereka saling bersautan mendendangkan suara.


Eka menyibakkan rambut istrinya yang masih terlelap di dalam pelukannya. Semalam pertarungan mereka benar-benar hebat, walau dengan tekanan pelan khawatir kehamilannya yang masih muda. Juminten lihai membuatnya menjerit mengerang kenikmatan.


"Emm.. Aku masih ngantuk sayang." Juminten kembali memeluk dada hangat suaminya.


"Abah masuk pagi sayang, Ibu tidur sendiri ya," ucapnya pelan sambil berusaha melepas belitan tangan istrinya.


Cup!


Eka mencium kening istrinya yang tak mau melepas belitannya. "Maafkan Abah sayang, ini demi kita semua. Oke!"


"Abah! Kok di tinggal!"


Dia segera berlari ke kamar mandi, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 mengacuhkan jeritan istrinya yang sedang merajuk.


Mendengar suara teriakan Ibunya, Bumi segera masuk ke dalam kamar. Melihat buah mangga di pohon belakang, membuatnya ingin memanen hari ini.


"Ibu, Bumi ijin boleh?"


"Nggak sopan, masuk kamar nggak ketok pintu dulu." Juminten mencubit pelan pipi anaknya, beruntung dia sudah memakai daster sejak bangun tadi.


"Hehe.. Maaf. Bumi dengar Ibu teriak-teriak, ya udah masuk aja." Mengelus lengan Ibunya, sambil tersenyum.


Melihat gerak-gerik anaknya, Juminten melirik sesaat. Merasakan aura permintaan aneh yang susah untuk di kabulkan.


"Planet mana?" Juminten mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Planet lagi ikut bapak cari rumput, kalau Emak lagi masak di dapur. Ibu jangan coba-coba cuekin aku. Bumi tau kalau ibu mau hindarin kan."


Merasa alibinya gagal untuk mengalihkan atensi anaknya, dengan terpaksa dia mencoba pasang kuping permintaan anaknya.


Bumi bertepuk tangan, akhirnya unek-unek dia sejak kemarin di turutin." Bumi pengen makan buah mangga di pohon belakang, udah lebat banget buahnya."


Mendengar kata mangga, air liur Juminten rasanya ingin menetes. Sepertinya enak, menikmati di waktu Pagi Hari dengan memakannya langsung di atas pohonnya.


"Yuk, kita makan langsung di pohonnya!" Juminten menggandeng tangan anaknya menuju kebun belakang.

__ADS_1


🍓


🍓


Melihat menantunya sudah siap dengan kemeja putih, celana hitam dan jas hitam yang sudah tersampir di tangannya. Rohaya mengajaknya untuk sarapan.


"Sarapan dulu, nanti keburu telat." Rohaya menyajikan nasi uduk dengan lauk telur balado dan kering tempe.


Eka celingak-celinguk mencari keberadan istri tercintanya, "Juminten kemana ya, Mak?"


"Paling di kolam ikan sama bumi, tadi dia kesini juga comot gorengan katanya biar perutnya nggak perih. Alhamdulillah, morning sicknessnya berkurang ya?"


Eka mulai mengambil nasi dan lauk yang terhidang. "Tadi muntah-muntah pas dini hari, Mak. Sekitar jam 3 pagi, muntah sampai lemes dia. Ini tadi makanya malas bangun. "


"Astaghfirullahaladzim, Juminten turun!" pekik Udin, meliht anak dan cucunya sedang duduk di atas pohon mangga.


Rohaya saling bertatap dengan mantunya, lalu bergegas lari ke belakang rumah. Di kagetkan dengan pemandangan Juminten sudah di atas pohon mangga, duduk sambil memakan buah mangga dengan Bumi.


"Amit-amit jabang bayi, lu lagi hamil Jumi! Jangan petakilan! Turun!"


Eka menganga melihat kelihaian istrinya, bisa sampai diatas pohon mangga yang sangat tinggi tanpa bantuan tangga. Dia bergidik ngeri, membayangankan mereka turun dengan tidak hati-hati.


"Nanti, Bah. Ini dedek bayi ngidam makan mangga, langsung dari sumbernya!" jawab Juminten.


Bumi ikut menambahkan. "Abah, Planet ayo kesini! Rasanya manis."


Rohaya yang was-was dengan keselamatan mereka berdua, segera mengambil tangga yang ada di dekat dapur.


"Pak, bantuin!" teriaknya.


Udin bergegas mengambil tangga yang ada di tangan istrinya. "Ya Allah, anak sama cucumu ada-ada aja, Mak. Masih pagi, udah bikin orang jantungan."


Udin segera menaiki tangga dan mendekat ke arah anak dan cucunya. Eka memeluk mertuanya, yang khawatir menunggu mereka turun.


Terlihat muka sang tersangka sedang di tekuk, tanda belum puas menikmati buah mangga yang sudah mereka petik.


" Nggak usah cemberut, pagi-pagi jadi monyet itu ngapain? Orang pagi itu sarapan nasi, malah makan mangga," omel Rohaya bercampur lega melihat mereka turun dengan selamat.

__ADS_1


Juminten mengacuhkan omelan emaknya, memilih menarik suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


"Adek aneh-aneh aja, udah tau bahaya! Kalau tadi jatuh gimana," omel Planet kepada adiknya.


Bumi yang masih cemberut mengacuhkan ucapan kakaknya dan ikut menyusul ibunya masuk ke dalam rumah.


Melihat kelakuan mereka, Rohaya mencubit pangkal hidungnya. "Ya Allah Gusti! Emang nggak bisa di khawatirin. Di kira pohon mangga tingginya kayak pohon bonsai kali."


🍓


🍓


Tok!


Tok!


"Iya, ada yang bi-sa diban-tu?" Sinta di buat kaget melihat Candra datang membawa rombongan keluarganya.


Brak!


Dia menutup kembali pintu rumahnya. "Dafa, tolong bangunin Kak Bambang. Ada tamu!"


Sinta bergegas membersihkan ruang tamu mereka yang berantakan. Dia kira, ucapan Candra semalam hanyalah sekedar bualan.


Flashback


Sinta turun dari motor Candra. "Makasih banyak ya, sudah anter juga jemput kerja."


"Sama-sama, aku pulang dulu ya. Kamu langsung istirahat." Candra mengelus rambut Sinta.


"Hati-hati."


"Eh, Sin. Besok pagi, aku mau ajak keluargaku kesini ya," ucapnya serius.


"Hah, ngapain? Jangan ah, besok-besok aja. Aku masih bimbang, Can," jawabnya lesu.


Candra memegang erat tangan Sinta, "Nggak usah bimbang, aku berniat serius dengan kamu bukan untuk main-main. Kamu tunggu ya besok, selamat malam."

__ADS_1


Candra segera menyalakan motor mesinnya dan meninggalkan sahabatnya yang masih berdiri di pinggir jalan.


Nah, terus gimana tuh🤣


__ADS_2