
Juminten akhirnya pingsan di dalam mobil dengan posisi memegang telinga. Eka segera membopongnya masuk ke dalam kamar. Rohaya di buat bingung cemas dengan kondisi anaknya. Mengolesi seluruh tubuhnya dengan minyak kayu putih.
"Mak, Eka telpon psikolog dulu ya!" dibalas anggukan Rohaya.
Eka yang sedang dilanda bingung mencari nama kontak psikolog tidak segera di temukan, segera berlari menuju mobilnya untuk menjemput psikolog.
Rohaya yang mendengar mobil Eka menjauh, segera menangis meraung melihat kondisi anaknya. "Maafin emak ya, Jum! Maafin emak!"
Tak lama Udin datang dari pasar, kaget melihat istrinya menangis sambil mengoleskan minyak di tubuh anaknya. "Kenapa Juminten?" Rohaya berlari memeluk suaminya, Udin hanya bisa mengelus punggung istrinya "Nanti, kalau Jumi makin parah biar bapak hajar ba*ingan itu!"
Seketika Rohaya menggelengkan kepalanya. "Jangan pak, jangan buat Juminten stres lagi!"
Eka yang kalut di jalan, mengendarai mobilnya dengan cepat. Mengacuhkan suara klakson juga umpatan pengendara lainnya. Pikirannya hanya fokus pada Juminten. Menyalahkan ungkapan cintanya yang tak tepat waktu.
Eka segera berlari ke bagian informasi. "Maaf mbak, boleh minta nomer WhatsApp psikolog?"
"Apa sudah ada perjanjian sebelumnya dengan beliau? "
"Mbak! Saya butuh cepat! Kekasih saya pingsan di rumah karena frustasi! Apa masih butuh alasan lagi?" Eka di buat emosi mendengar resepsionis yang terlalu bertele-tele.
Dengan profesional, resepsionis melayaninya dengan baik. Segera menuliskan nomer psikolog.
Eka segera menarik kertas tersebut, meletakkan uang merah di atas meja resepsionis."BUAT JAJAN!" Eka segera berlari ke parkiran mobil.
Eka mengucek matanya, berusaha tak percaya keajaiban di depannya. Eka melihat sendiri pertolongan Allah itu nyata! Tanpa sengaja, mobilnya terparkir bersebelahan dengan milik psikolog Juminten.
Saat melihat orangnya akan keluar dari dalam mobil, dengan segera Eka bergegas menghampirinya. "Permisi, bapak psikolog."
"Iya, mas. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mohon ikut saya pulang ke rumah. Juminten frustasi lagi dan pingsan, pak!" Eka menelungkupkan tangannya di depan psikolog.
"Juminten?" Psikolog berusaha mengingat pasiennya.
"1 bulan yang lalu dia pernah di rawat disini dan menyayat pergelangan tangan kanannya."
Psikolog menepuk bahu Eka, "Ayo berangkat, mas!"
🍓🍓🍓🍓
Mereka segera masuk ke dalam kamar, terlihat Juminten sudah bangun dan menelungkupkan tubuhnya posisi memeluk lututnya bersandar di ranjang sambil menutup telinganya juga tubuhnya bergetar hebat.
"Permisi."
__ADS_1
"Silahkan, masuk pak" Rohaya segera masuk ke dalam kamar menemani psikolog.
"Bisa saya minta tolong, hanya satu orang saja yang menemani saya di dalam?" Udin dan Eka segera keluar dari kamar.
Eka yang menunggu Juminten, tak kuasa mendengar suara jeritan juga tangisannya. Dia bergegas berlari keluar rumah, melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat ke rumah Mala.
Eka tau hari-hari adiknya, akan mengantarkan Mala sepulang sekolah setiap harinya. Seperti kegiatan adiknya saat sebelum menikah.
"BAMBANG KELUAR KAMU!" teriak nya di depan pagar.
Brak!
Brak!
"BAMBANG!" teriaknya kembali.
"Hei, siapa kamu teriak-teriak di rumah saya!" Mila keluar dengan menggendong Radit keluar dari rumah. Mila kaget, melihat sosok pemilik bengkel di daerah tempat nya bekerja datang dengan marah-marah ke rumahnya.
Melihat Mila yang tak kunjung membuka pagar, dengan segera Eka langsung membuka pagar rumah Mala dan membukanya dengan keras.
BRAK!
"Maaf, ada apa ya, pak? Saya merasa tidak punya salah dengan anda!" Mila menatap tajam Eka yang masuk tanpa adab ke dalam rumahnya. Mila mengelus punggung anaknya karena menangis takut melihat amarah Eka.
"JANGAN KAU IKUT CAMPUR ATAU KU ROBOHKAN RUMAHMU!" Tunjuk telunjuk Eka dengan tatapan marah ke depan muka Mila.
Mala yang sedang menjemur baju di belakang, segera berlari kedepan mendengar suara tangisan kakak juga ponakannya.
"Hei, Bung! Apa maumu mengacaukan rumahku? " Mala yang tidak tahu siapa Eka memberanikan diri bertanya. Namun, diacuhkan oleh Eka.
Eka yang masih diliputi kemarahan mencengkram erat bibir Mila. Rahangnya semakin mengeras dengan mata nya yang menyala merah membuatnya takut. "DIMANA KAU SEMBUNYIKAN ADIKKU J*LANG!"
Plak!
Mala memberi tamparan keras pada pipi Eka. Tak terima dengan ucapan pria yang ada di hadapannya. "Apa maksud kau? Jangan kau menjelekkan kakakku sedikitpun! Asal kau tau, dia tulang punggung keluargaku! Kalau kau tak tau, jangan sok tau! "
Eka memegang pipi yang di tampar Mala, membuatnya tertawa.
"Haha..! Haha..!"
"Cuih, uang haram saja kau banggakan! Kau tanya pada j*lang ini, semua karyawan bengkelku sudah memakainya!" Ucapnya dengan menunjuk wajah Mila.
"Dan kau tahu, kakakmu juga sudah pernah menggodaku untuk ke ranjang! Se-bastard itu kakakmu, paham! "
__ADS_1
Mala seketika lemas mendengarkan ucapan Eka. Lututnya seketika bergetar mengetahui pekerjaan tiap sore yang di jalankan kakaknya. Mila hanya menangis meraung bersamaan dengan tangisan Radit tanpa membalas ucapan Eka. Membenarkan semua ucapan orang yang pernah menolaknya untuk di puaskan.
"Apa kau baru tahu kelakuan buruk kakakmu? Aku selama ini diam, membiarkan adikku mengetahui ini sendiri! Tapi, kau terlalu pintar menyembunyikannya! " tunjukknya pada Mila.
Eka mengatur emosinya. "Lama-kelamaan kalian semua keterlaluan! Urusan pekerjaan menjadikan adikku babu kalian hingga melupakan istrinya karena panggilan telpon kau!" Eka menatap wajah Mala. "Kau pikir kamu siapa? Sifat pendiammu membuatku ingin muntah melihatnya!"
Bambang yang baru datang setelah membelikan makanan mereka, di kagetkan melihat mobil Eka yang ada di depan. Bambang segera berlari masuk ke dalam.
"Ada masalah apa abang dengan mereka?" Bambang melihat semua barang berantakan, ruangan rumah terbuka juga tangisan pemilik rumah.
Eka yang melihat suara adiknya, tanpa basa-basi melayangkan bogeman mentah tangannya!
Buk!
"JUMINTEN FRUSTASI GARA-GARA KAMU!" Eka menyerang wajah adiknya.
Buk!
"INI BUAT AYAH PENGHIANAT SEPERTI DIRIMU" Eka menyerang daerah perut juga dada adiknya.
Buk!
"INI BUAT PENGECUT SEPERTIMU!"
Buk!
"INI BUAT RASA KECEWAKU"
Eka menghajarnya dengan membabi-buta, meluapkan kekecewaan seorang kakak memiliki adik seorang pengecut sepertinya.
"Abang, jangan sakitin Bambang!" Mala tiba-tiba berlari dan menjadi tameng Bambang.
"DIAM KAMU JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGAKU!" teriak nyalang Eka.
Eka masih mengatur nafasnya, melihat adiknya yang jatuh tersungkur dengan semua luka tak membuatnya lega. Eka bersiap menghajar kembali tubuh adiknya. Tak peduli dengan Mala yang sudah menutupinya. Karena mereka berdua, Juminten kalut seperti ini.
Namun, panggilan telpon menghentikan niatnya. Dilihatnya nama kontak Bapak Juminten membuatnya memilih menghentikan amarahnya.
"Aku ingatkan kalian semua! Aku bisa lebih kejam daripada ini! Apalagi kamu!" tangan nya menunjuk ke arah Mila. "dan kamu!" tangannya menunjuk ke Mala.
"Aku nggak segan-segan bisa mengeluarkan kalian dari sekolah!"
Bruak!
__ADS_1
Eka menutup pintu rumah mereka dengan keras, bahkan seperti merobohkan dinding mereka.
Mala menatap tajam kepergian Eka. Melihat kakak juga ponakannya menangis karena kejadian ini juga abang yang di cintainya babak belur, membuatnya semakin membenci Juminten.