Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 54


__ADS_3

Bambang pun bersiap meninggalkan toko toserba Juminten. Beribu nasihat juga ultimatum dia berikan, membuat Juminten tersenyum lebar. Melihat perubahan sikap ayah duo gemoy.


"Aku pamit balik, ya. Kamu baik-baik disini. Sekali lagi maafin aku, ya! " Bambang mengusap rambut Juminten, yang di balas anggukan. Menundukkan kembali tubuhnya, mencium dan mengelus kembali duo gemoy yang ada di dalam perut Juminten.


"Hati-hati disana, semoga sukses!" jawabnya pelan, namun sepertinya tak di dengarnya.


Juminten pun mengulang kembali perkataannya, "Hati-hati, ya!" dijawab anggukan kepala Bambang.


Mereka pun saling melambaikan tangan, Juminten memilih tak beranjak dari tempatnya hingga bayangan Bambang benar-benar menghilang dari pandangannya.


Juminten kembali ke dalam toko, hatinya terasa lega. Semua beban di dadanya menguar sudah. Dengan mendengar, melihat juga merasakan mantan suaminya mau mengakui duo gemoy sebagai anaknya.


" Alhamdulillah." Ucapnya sambil mengelus duo gemoy. "Yok sayang, kita semakin semangat. Jangan rewel ya di perut ibu."


Juminten pun kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Wah, aroma-aroma nya ada yang sedang kasmaran dengan mantan suaminya. Em.. Baunya semerbak dari arah sini." Sindir Candra sambil melirik nona mudanya.


"Heleh, bilang aja minta traktiran!" jawab Sinta.


Eko yang menjadi pendengar ucapan mereka tak hentinya tertawa.


"Oke beli boba, ya. Jangan es permen karet mulu, gue bosen." Juminten menyodorkan uang biru 1 lembar ke Eko.


"Iya juga ya, kenapa lu mesti beli es itu mulu. Padahal deket toko kita, banyak yang jual minuman." Candra pun ikut di buat penasaran.


Sinta pun melirik Eko. "Mau gue bantu beberin nggak?" Dan di jawab dengan tatapan tajamnya.


"Oh, oke deh. Asal ada sogokan tutup mulut santai." Sinta pun kembali ke pekerjaannya.


"Kok gue jadi curiga si oke lagi naksir cewek daerah sana, ya. " Juminten menatap Eko dan sontak membuatnya bungkam.


Sinta pun tertawa terbahak-bahak, seakan mengamini jawaban bosnya. "Gue nggak ngomong apa-apa, ya oke. Miss yang bilang sendiri."


Eko yang sudah terlanjur basah, akhirnya memilih pasrah menjawab semua pertanyaan teman-temannya.


"Lu naksir sama siapa?" tanya Candra.


Mereka pun menghentikan serentak pekerjaan mereka dan menatap Eko. "Sebenernya, udah dari lama ada perasaan sama dia. Tapi, gue nggak berani. Soalnya,udah beberapa kali lihat dia di jemput cowok lain." Jawabnya pelan.

__ADS_1


"Terus kenapa lu nggak gentle buat deketin?" tanya Juminten.


Eko menarik nafasnya. "kalau author berkehendak mau jodohin gue ma dia. Ya, Gue mau banget."


Akhirnya, ada yang butuh pertolongan ajaib tulisan author😎


"Sabar, author lagi nyari jalan cerita biar lu sama si doi bisa jadian terus nikah dan hidup bahagia." Candra mengelus bahu temannya.


Lu kok pinter, sih. Jadi makin sayang deh 😚 sini mau request nasib indah apa besok 😍


"Alah, jangan terlalu di puji authornya. Dia aja bikin nasib gue tragis. Udah nikah muda, eh di tinggalin pas lagi hamil gede pula. " sindir Juminten.


Hmm..nggak usah crigizz πŸ™„


"Awas aja nasib gue nggak baik. Inget, doa tokoh novel yang terdzolimi selalu di kabulkan." jawab santai Sinta.


Kenapa bab ini pada doyan dzolimi gue, ya. Kembali ke naskah, oi 😏


"Udah buruan, beli. Gue haus banget, nih. Gue doain, lu sukses. Dan semoga cewek yang lu taksir hari ini peka."


"Aamiin. Siap, miss!"


Eko segera berangkat membeli pesanan Miss Juminten. Matanya melirik rumah coklat dari kejauhan, berharap wanita idamannya keluar dari rumah.


Ckiit..!


Brak!


Eko mendekap erat, wajah yang sudah berlumuran darah di tangannya. Padahal tubuhnya sendiri, menjadi sasaran empuk kendaran yang menabraknya.


Dengan sisa kekuatannya, Eko berusaha mengangkat tubuh mereka agar bisa bangun. Namun, seketika tubuhnya di buat lemas dan semua yang ada di sekitarnya seketika menjadi gelap.


Eko berusaha membuka matanya dengan perlahan, bau semerbak obat di indra penciumannya turut menyambutnya. Matanya melihat dinding langit yang berwarna biru dan kelambu tinggi berwarna biru gelap di sisi kirinya.


"Em.. Gue dimana?" tanya Eko melihat di sisi kanannya, ada Sinta yang sedang duduk.


" Welcome to the paradise. " suara Sinta menyapanya.


" Eh, gue masuk surga Sin? Alhamdulillah, nggak sia-sia gue semalem sholat isya di musholah. Lu kapan matinya sin? Kok gue nggak tahu? "

__ADS_1


Sinta menabok keras lengan yang ada di dekatnya. Pertanyaan macam apa itu. Untungnya, tangan itu tak terpasang infus. Dia melupakan nasib temannya, yang baru bisa siuman setelah tertidur selama 3 hari.


" Lu di surga kok masih suka nabokin orang, sih! " Eko masih dibuat bingung dengan keberadaannya.


"Gue sebenernya lagi jaga image sama malaikat. Biar di deketin sama sugar dadanya ala surga. Tapi, semua gagal total kayaknya. Gara-gara lu nanyain kabar gue mati. " cibir Sinta.


"Syukur deh,mungkin jatah stok sugar dada nya habis kali. Makanya gue ditarik dari dunia terus disuruh mati. Kalau mau daftar dimana, ya?"


"Gampang, isi formulir di malaikat ridwan. Tadi gue liat orangnya masih ngabsen di pintu surga nomer 3."


Cklek!


"Alhamdulillah, kamu sudah siuman. Gimana kabar kamu?" Wanita yang ditaksir Eko masuk ke dalam ruangan.


Eko pun terperangah, "Bener kata temen gue. Kalau ada pemuda mati khusnul khotimah, di surga bakal ketemu jodoh seperti cewek yang ditaksirnya pas di dunia. Gue makin kesengsem nih."


Membuat Mila mengernyitkan dahi, tak paham apa yang dibahas pria yang sudah membantu anaknya selamat dari kecelakaan. Walau, Radit harus mendapatkan beberapa jahitan di dahinya.


Sinta yang gemas dengan sifat oon temannya, mencubit keras kulit tangan temannya."Au.. Au.. sakit bego!" Eko mengelus tangannya yang menjadi sasaran temannya.


"Maafin teman saya ya mbak, kayaknya yang terluka bukan hanya kakinya. Tapi otaknya juga ikut terkilir." Sinta menganggukkan kepalanya pada Mila.


Mila ikut tertawa melihat tingkah lucu pasien yang baru siuman dengan teman perempuannya. "Saya yang makasih sama Mas eko, mbak. Sudah menolong anak saya. Kalau nggak ada Mas Eko, saya nggak tau harus bagaimana hari-hari saya tanpa anak saya." Mila segera menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.


Eko dengan segera membangunkan tubuhnya, menarik tubuh Mila lalu memeluknya." Kamu itu butuh suami. Kamu nggak bisa besarin anak kamu sendirian. Sudah cukup kamu bekerja keras selama ini. Kalau kamu mau, menikahlah denganku. " Eko mengelus punggung Mila.


Mila di buat bengong dengan pria yang menolong anaknya. Mereka baru pertama kali bertemu, bahkan Mila sendiri tak mengenalnya. Namun, ucapan pria di depan ini seakan menjadi angin segar di kehidupannya.


" Ehem. "


Sinta yang merasa menjadi obat nyamuk di ruangan tersebut, menyindir halus pasangan yang ada di depannya. Mereka melupakan, bahwa di ruangan ini tak hanya mereka berdua saja.


Bukannya Eko meminta maaf, malah menatap tajam temannya yang tak bisa diajak kerja sama untuk kali ini. Sinta yang di tatap, membalas melotokan matanya dan menjulurkan lidahnya.


"Kamu laper?" Mila mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Iya, aku laper. Tadi pagi aku cuman sarapan nasi pecel lauk tempe doang." jawabnya dengan malu-malu.


"Tadi pagi kapan? Lu udah tidur selama 3 hari bego! Bikin dokter bingung aja, padahal cuman bius separuh badan efeknya 12jam doang katanya. Eh, lu malah 3 hari!"

__ADS_1


Eko di buat kaget mendengar ucapan Sinta. Mila yang melihat orang di depannya bingung, membantu jawaban Sinta untuk meyakinkannya.


"Iya, Mas Eko sudah disini 3 hari. Maaf ya, kaki Mas Eko ada 8 jahitan. Sama di perut juga ada luka goresan karena kena aspal." Mila menundukkan kepalanya.


__ADS_2