
"Calon nyonya Dodit Hermawan, mulai sekarang anda harus terbiasa dengan semua sapaan orang seperti ini. Ingat, pria yang dulu akan membeli perawanmu bukan pria sembarangan," jawabnya berbisik.
Sinta menghentakkan kakinya, ingin dia meremat kulit pria asia di depannya. Hentakan kakinya sengaja dia bunyikan dengan keras, mengabaikan bunyi bising yang di hasilkan.
"Kadang lu sok ganteng, kadang lu ngangenin, kadang lu pengertian dan kadang--"
"Bikin aku deg-degan," bisiknya.
Dodit kembali berjalan meninggalkan Sinta dengan tersenyum. Ternyata ada kesenangan sendiri menggoda mantan musuhnya. Mengingat semua pertikaian dulu, membuatnya tak menyangka bisa jatuh cinta dengan wanita yang sekarang sudah berjalan di sampingnya sambil cemberut.
Tubuhnya yang tetap pendek, dengan rambut yang dulunya di potong oval dan sekarang menjadi panjang. Wajahnya juga semakin cantik, dengan makeup flawlessnya menjadi daya tarik sendiri saat menatapnya.
Entah sejak kapan rasa cinta kepada wanita ini berubah. Apakah saat pertama kali dia mengetahui lekuk tubuhnya, atau saat rasa cemburu mulai hadir di benaknya.
"Aku cinta kamu," Dodit mengungkapkan dengan mantap sambil memegang wajah Sinta. "Ayo kita masuk, aku ingin melihat keadaan anak kita."
"Selamat siang pemilik rumah sakit. Sebuah kehormatan saya melayani bapak dengan calon istri."
Dokter menyambut kedatang mereka berdua.
"Pe-pemilik rumah sakit?"
"Benar, calon suami anda adalah pemilik rumah sakit ini, nona."
Sinta menutup bibirnya, ternyata pria ini menyombongkan sesuatu sesuai dengan yang dia punya.
"Ehem. Kapan kita mulai pemeriksaannya?" ucapnya mengalihkan atensi mereka.
"Ah, iya benar. Maaf saya terlalu bahagia hari ini, sampai lupa dengan niat awal anda kesini. Permisi, nona..."
"Sinta Hermawan," jawab Dodit.
__ADS_1
Sinta melototkan mata, namun hanya pasrah dengan jawaban pemilik rumah sakit.
"Kapan terakhir kali anda menstruasi?"
"Sepertinya saat saya dulu pingsan, karena stres. Saya mengeluarkan darah deras hanya 1 hari saja. Tanggal 10 dan itu 2 bulan yang lalu. "
"Mari saya periksa keadaan kandungan nona. Silahkan anda berbaring di sana."
Dokter meletakkan transducer yang sudah di oleskan gel sebelumnya. Dodit menggenggam tangan Sinta, dia tahu wanitanya sedang ketakutan dengan apa yang di lihat.
"Wah, kandungannya sudah sebesar jeruk bali. Sudah berusia kurang lebih 10 minggu. Apa yang anda rasakan selama trimester pertama ini?" mereka tercengang mendengar umur anak mereka.
"Saya hanya suka mencium semua aroma yang tajam, khususnya buah durian. Saya suka pusing saat bangun tidur, akan berangsur hilang saat sore hari. Sekarang saya tidak pusing, dok. Padahal tadi saya sempat pusing gara-gara bau ac di tempat kerja."
"Ah, mungkin itu karena ayahnya ada di sekitar anda. Baik pemeriksaan selesai, silahkan anda turun."
🍓
🍓
"Ada yang kamu pengen nggak kira-kira?"
Mereka memilih duduk di food court sambil menunggu pesanan makanan yang sudah di pesan Dodit sebelumnya.
"Boleh aku besarkan anak ini sendiri?" tanya Sinta.
"Kenapa?" ucapnya melemah.
"Bukannya kamu yang tak mau dengan kehadiran anak ini? Kau bahkan berani membeli perawanku, itu berarti kau tak mau denganku."
"Aku sadar, aku nggak pantas buat kamu, strata kita tak sama. Kamu adalah bosku dan aku bawahanmu. Apa yang akan orang-orang katakan kepada kita?"
__ADS_1
"Aku mohon, jangan terlalu mencintaiku. Aku takut semakin susah untuk melupakan dirimu. Apa kau tau bagaimana hancurnya diriku?"
Dodit memegang erat tangan pucat yang ada di hadapannya, dia cium dan meletakkan di pipinya. Seakan mentransfer rasa yang dia miliki kepada Sinta.
"Maafkan aku, saat itu aku takut melihatmu terpuruk. Dari awal kehadiran anak ini aku sangat bahagia, tak ada sedikitpun menolak kehadirannya. Bila aku menolak, kenapa aku tak suruh saja dokter tadi menggugurkannya."
Sinta menangis meraung merasakan beban dadanya yang terhimpit. Mencintai pria yang salah dan sekarang harus menanggung kesalahan satu malam yang mereka lakukan.
" Aku mohon, jangan suruh aku untuk pergi jauh darimu. Aku janji akan menjadi suami yang seperti kau mau." Sinta melepaskan belitan tangannya, dia memilih pergi meninggalkan pria tersebut sendirian.
Kenapa sesakit ini rasa mencintai, Tuhan. Aku ingin di cintai dengan sepenuh hati, bukan karena kehadiran anak ini. Tapi juga cinta dengan diriku. Maafkan aku, jika aku egois. Aku semakin takut mencintainya terlalu dalam.
Sinta memilih kembali ke tempat kerja dengan naik angkutan umum. Mengacuhkan suara ponselnya yang selalu berbunyi, karena suara panggilan masuk dari Dodit.
🍓
🍓
Hujan deras kembali menguyur di rumah, Candra yang khawatir dengan keadaan Sinta mencoba bertanya kepada bosnya.
"Sinta kok belum balik, nyonya?" tanya Candra sambil celingukan mencari Sinta.
"Lagi periksa kandungan sama calon suaminya, udah kelarin aja pekerjaannya," jawab santai Rohaya yang sedang menghitung laba toko.
Candra yang mendengar kata calon suami, entah mengapa di buat murka. Dia segera mengambil kunci motor yang tergeletak di samping kursinya dengan segera.
"Assalamualaikum," suara lemah Sinta mengalihkan pikiran Candra.
Melihat Sinta datang dengan basah kuyup, dia segera mengambilkan handuk yang ada di dalam tasnya. Dia membantu mengeringkan tubuhnya
Sinta yang melihat perlakuan baik Candra kepadanya, mencoba mengajak bicara, "Kalau kamu tau aku hamil, apa kamu tetap mau nikahin aku?"
__ADS_1
Candra memegang wajah Sinta, "Aku mau nikahin kamu. Aku menerima kamu dan siapapun kamu. Juga bagaimanapun keadaan kamu."
Sinta memeluk erat sahabatnya yang begitu baik kepadanya. Bahkan dia rela menjadi ayah dari anak yang bukan dari darah dagingnya.