Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 108


__ADS_3

Bambang yang baru bangun tidur berusaha membuka matanya, Dafa membantu kakak asuhnya memakai kemeja. Sedangkan Sinta sudah siap menggunakan dress berwarna merah muda yang di padukan hijab, membuatnya tampak makin cantik.


"Kenapa aku semakin cantik memakai hijab?" ucapnya sambil menatap cermin kakaknya.


"Aura ibu hamil kamu sudah kelihatan, Dek. Kakak nggak sangka, kamu akan menjadi seorang ibu. Mulai sekarang, belajar bertutur kata sopan juga bertingkah laku yang baik. Jangan tomboy lagi dan jangan mudah jatuh cinta." Bambang mengelus hijab adiknya.


Melihat kedua kakaknya sudah siap, Dafa berlari membuka pintu rumah. Tak enak dengan para tamu yang sudah menunggu lama.


" Silahkan masuk, mohon maaf menunggu lama. " Dia menyalimi tangan semua orang yang masuk ke dalam rumah, sambil menghitung jumlah orang yang hadir.


Candra mengelus rambut calon adik iparnya, "Mana kakak kamu?"


"Masih di dalam kamar, aku panggilkan ya, Kak."


Dafa berlari meninggalkan para tamu dan menuju kamar kakaknya, "Kak--" melihat pemandangan kedua kakaknya sedang menangis sambil berpelukan, membuat hatinya ikut teriris sakit.


Melihat adik asuhnya sudah kembali, mereka segera menghapus sisa-sisa air mata, "Ada apa, Dafa?"


"Para tamu sudah datang, Kakak segera keluar. Sini biar Dafa yang bagian beli kudapan buat hidangan mereka."


Sinta mengecup kening adiknya, "Terima kasih, Kakak sayang kamu selamanya."


🍓


🍓


Dodit di buat gelisah mendengar kabar dari Dafa, bahwa kakaknya sedang di lamar keluarga Candra. Dia hilir mudik, berusaha memikirkan cara menggagalkan acara mereka.


"Papa kenapa?" tanya Rena.

__ADS_1


"Ibu kamu hari ini di lamar sama Candra, Papa bingung harus apa."


Dodit seperti orang linglung, dia mengigit jari jempolnya sembari tetap berjalan kesana-kemari.


"Assalamualaikum, " suara kedatangan Neneng, mengalihkan atensi mereka.


"Waalaikumsalam," ucap mereka serentak.


Neneng mendudukkan tubuhnya di ruang tamu, bersama anak dan cucunya. Mengeluarkan semua unek-unek yang bersamayam di dalam hatinya.


"Sebenernya, kalian benar saling jatuh cinta atau tidak?" ungkapnya.


Melihat Mamanya sedang serius, Dodit yang masih berdiri, mencoba menarik nafas dan memilih duduk di dekatnya.


"Mama, kita saling mencintai. Kita melakukan kesalahan 1 malam saat itu, setelah aku menyatakan semua beban di hatiku. Aku berniat serius ingin menikahinya, karena aku sayang sama dia."


Dodit menarik rambutnya dengan frustasi, apakah mamanya tak melihat bagaimana keseriusan dia untuk meminang Sinta.


Neneng mengelus bahu anaknya, menyayangkan ucapan yang pernah di katakan anaknya, layaknya pria yang ingin lari dari tanggung jawab.


" Aku saat itu bingung, Mam. Dia tiba-tiba menangis dan menyesali dengan semua apa yang sudah kita lakukan. Padahal kita melakukannya dengan suka sama suka."


Plak!


Neneng memukul keras paha anaknya, amarahnya semakin mendidih mendengar ucapan bodoh Dodit.


"Sepertinya, kau berangkat ke Cina berkali-kali itu sia-sia, nak. Tak menumbuhkan sifat kepintaran di otakmu. Apa kau tak pernah berfikir, bagaimana hancurnya Rena saat perawannya lepas bukan dengan suaminya? Ingat, perawan adalah harkat dan martabat seorang perempuan! Tak mudah mereka melepaskan apa yang dia punya, kecuali dengan orang yang dia sayang atau lepas karena suatu kecelakaan. "


Dodit terdiam mendengar ungkapan Ibunya, berusaha memutar memorinya yang lalu bersama Sinta. Sungguh malam yang bahagia, setelah 13 tahun dia menduda. Dia jatuh dengan semua pesona yang ada pada diri gadis tomboy tersebut.

__ADS_1


" Sepertinya, Mama membiarkan Sinta menikah dengan Candra. Mama tak yakin dia bisa bahagia hidup denganmu."


Dodit terbelalak mendengar ungkapan ibu kandungnya. Dia segera meraih kunci mobil dan berlari meninggalkan rumah.


"Nenek, Papa pergi! " desak Rena.


"Biarkan saja Rena. Untuk cintanya kali ini, biarkan Papamu yang benar-benar mengejarnya. Cukup dulu Mamamu memberikan seluruh cintanya, namun tak sedikitpun dia membalasnya." Neneng tersenyum melihat bayangan anaknya semakin menjauh.


Rena di buat bingung dengan ungkapan neneknya.


"Kamu hadir di saat papamu masih suka dengan foya-foya, bermain perempuan juga gila pekerjaan. Setelah mengetahui kamu lahir dan di titipkan panti asuhan, itu adalah pertama kalinya papamu mencintai seseorang dengan serius dan cinta pertamanya adalah kamu. "


🍓


🍓


Dodit segera memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah Bambang, berlari masuk ke dalam rumah yang sudah terlihat sepi. Hanya terlihat pemilik rumah dan Candra sedang duduk di teras.


" A-acaranya apakah sudah selesai? " ungkapnya terbata.


" Sudah, Mas. Baru saja." Candra menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Ah, kalau gitu selamat." Dodit menjabat tangan lawannya yang sudah berhasil memenangkan hati Sinta.


Dodit hanya bisa merutuki dirinya dan memilih kembali pulang dengan tangan hampa. Dia harus menerima dengan legowo, rasa cinta yang dia miliki sudah bertepuk sebelah tangan.


Neneng melihat anaknya pulang dengan lemas, dia memeluk tubuh anaknya yang sedang rapuh."Menangislah,nak. Mama tahu, kamu butuh menangis."


Dodit segera menangis tersedu, menumpahkan seluruh air matanya yang telah ia tahan. "Mama, sesakit ini rasanya mencintai. Aku benar-benar payah, bisa mudah mendapatkan uang hanya dalam 1 genggaman. Namun gagal mendapatkan Sinta."

__ADS_1


Rena ikut menangis memeluk papanya, dia juga harus kehilangan kasih sayang seorang ibu yang dia inginkan sejak dulu." Tak apa, Papa. Kita bisa hidup bahagia walau hanya berdua. "


__ADS_2