
Bambang menatap perempuan yang meringkuk di pojokan siku-siku kamar, tepar di depan tembok. Jemarinya entah menuliskan sesuatu di tembok, layaknya oramg sedang menulis buku.
Bambang meraup oksigen sebanyak-banyaknya, mengetuk keras pintu kamar Mala yang bersekat besi, "Mala!" panggilnya pelan, namun tak ada sautan.
"Mala!" panggilnya lagi.
Melihat ada perawat melewatinya, ia mencoba mencari informasi tentang perempuan di depannya. "Maaf suster menggangu, itu teman saya di panggil kok nggak noleh ya? Apakah sedang terpengaruh obat? "
"Oh, Mbak Mala," Melirik penghuni yang ada di dalam kamar, "Masih gitu terus Mas dari kemarin, makanya kita tempatkan di sini. Khawatir sewaktu-waktu memberontak dan tak bisa terkendali."
"Ah, terima kasih." hancur sudah perasaannya mendengar dan melihat keadaan Mala saat ini, "Mala, maafkan Abang yang tak bisa memberi perhatian lebih kepadamu. Abang mohon, jangan salahkan Juminten! Salahkan saja Abang jadi laki-laki tak punya berpendirian ini! " ucapnya lemah.
Grep!
Bambang kaget melihat tangannya yang di cengkram erat Mala, "Abang jangan kemana-mana, aku cinta sama Abang." Terlihat wajah Mala yang tak terawat. "Abang mau kan nikahin aku? Aku cantik, baik juga suka nggak banyak tingkah seperti tipe Abang kan? Ayo kita nikah, Bang!" Mala semakin mengeratkan pelukannya.
Bambang mencoba menarik kembali tangannya, namun justru Mala menariknya erat hingga membuatnya kesakitan. Bahkan tampak bekas goresan kuku di punggung telapak tangannya.
" Mala, kita nggak bisa bersama. Abang bukan jodoh kamu. " seru Bambang dengan berusaha menarik tangannya yang mulai terasa panas.
Cuh!
Mala meludahi Bambang," RASAKAN ITU! KAU TAK MAU MENIKAHI AKU! LIHAT SAJA, AKU AKAN MENGGUGURKAN KANDUNHAN JUMINTEN! AKU AKAN MEMBUNUH DIA! AKU AKAN BUAT ANAKMU MAMPUS DI TANGANKU! " wajahnya memerah, terlihat tatapannya tajamnya siap menerkam Bambang. Sontak dia menarik keras tangannya mengacuhkan sakitnya benturan besi. Bahkan benturan tangannya terdengar keras.
Bambang segera berlari menjauh dari Mala yang berteriak keras dari dalam kamar, sambil berusaha menarik sekat besi yang menutupi kamarnya," Aaaarrgghhh......!!!!" teriaknya dengan membenturkan kepalanya di sekat besi, terlihar darah bercucuran keluar banyak dari kepalanya.
Bambang di buat lemas melihat penampakan Mala seperti itu, keringat dinginnya mengucur deras. Lehernya terasa tercekat, mencoba meneriakkan meminta pertolongan namun tak sanggup.
"Minum dulu, Mas." Bambang segera menghabiskan minuman yang di suguhkan perawat, berusaha mengatur nafas nya yang seperti sedang berlomba.
__ADS_1
Melihat Tim Medis sudah masuk ke dalam kamar rawat mala, ia memilih segera pergi dari rumah sakit jiwa untuk melanjutkan perjalanannya.
Brak!
Bambang terbangun di ranjang kecil, tubuhnya yang lemas karena belum makan membuatnya tak memiliki tenaga.
"Gila! Manja banget sih, lu! Kayak gini gue yang ribet! Udah tau capek, nggak usah sok kesini! Kalau kesini lagi, ngajak gue! Dasar cemen! " omel Sinta.
Bambang tersenyum, lagi-lagi perempuan ini menolongnya, "Thanks sobat, utang budi gue ke lu banyak nih! Lu kayak jelangkung aja, tiap gue butuh kapan aja selalu stand by! " Bambang beranjak bangun dari tidurnya.
Melihat Bambang sudah bisa bangun, Sinta segera meninggalkan Bambang ke pintu depan, "Tunggu napa woi, masih lier nih! Lemes gue belum makan!" teriaknya pelan.
Tak banyak bicara, Sinta menggandeng tangan Bambang menuju kantin rumah sakit. "Udah lu diem di sini, gue khawatir habis ini pingsan lagi. Di kira badan lu kurus apa, main pingsan nggak liat tempat!" Mala memukul lengan Bambang.
"Sakit Sin!" Bambang mengelus lengannya.
Bambang membuka galeri ponselnya, tak melihat Planet dan Bumi baru beberapa jam rasa rindunya sudah menggebu."Ayah rindu."
"Gila! Baru cerai sama Miss, kok lu udah punya cewek baru?" Bambang segera memperlihatkan ponselnya, "Woah.. si kembar, gila cakep banget mereka. Udah Ibunya punya kulit putih juga wajah cantik. Ayahnya juga kulit putih juga cakep. Jadi, mereka perpaduan yang--"
"Ayo,yang apa?" goda Bambang dengan mengangkat kedua alisnya. Menunggu ucapan lanjutan Sinta.
"Semoga Planet sama Bumi nggak niru sifat cemen Bapaknya. Aamiin." sindir Sinta.
"Aamiin." jawabnya.
Sontak Sinta tertawa terbahak-bahak, karena Bapak si kembar yang ada di depannya. "Gila lu! Di doain gitu malah di amin-in."
Bambang hanya tersenyum, sadar diri dengan minus sifatnya yang ia miliki dari dulu dan entah kapan hilang dari dirinya.
__ADS_1
"Udah ayo makan, gue laper nih. Dari tadi gendong anaknya gorila ampe lemes gue. Untung gue sayang sama anaknya." Sinta memakan mi instan yang sudah ia pesan untuk mereka.
"Hati-hati naksir sama Dodit! Kayak gue dulu, nelen ludah sendiri. Bilang nggak suka Juminten, eh malah suka sampe sekarang." sindir Bambang membuat Sinta mengerucutkan bibirnya.
Lu nggak tau aja, kalau si gorila nggak pernah anggep gue itu cewek!
🍓🍓🍓🍓
"Gimana Mas, Bambang sudah sadar belum?" Mila tampak ketakutan mendengar kabar dari Sinta.
"Alhamdulillah sudah. Abang ke kamar mandi sebentar, ya." Mila menganggukkan kepalanya, melanjutkan bermain dengan Radit yang duduk di sampingnya.
Eko segera membuka ponsel Mila, menonaktifkan pesan masuk dari rumah sakit dan mengalihkan semua panggilan masuk ke ponselnya. Salah satu cara agar Mila tak mendapatkan kabar buruk dari adiknya. "Maafin aku yank, ini demi kebaikan kamu."
"Mas tau ponselku nggak?" Eko yang baru keluar kamar mandi, menunjukkan ponsel yang ada di sakunya. "Ini tadi nggak sengaja terbawa masuk kamar mandi, maaf ya yank. Tenang nggak bau pup." Sinta tersenyum mendengar gurauan calon suaminya.
Eko mengambil tasnya, merogoh kantongnya dan memungut kotak bludru berwarna hijau tua yang ada di dalamnya.
"Keluar dari rumah sakit kita menikah, ya." Eko membuka kotak bludru yang ia pegang. Kalung berwarna kuning dengan liontin berbentuk mahkota.
"Sumpah kalung ini aku beli di pasar harga 50 ribu-an, bukan emas. Emang aku kere, cuman kerja jadi karyawan toko. Aku nggak mau janji bakal bisa bahagiain kamu dengan kekayaan, tapi aku janji punya rumah sama 2 empang kolam lele di belakang rumah."
Sinta menarik kalung yang ada di kotak bludru berusaha memakainya sendiri," Makasih kalung imitasinya, Mas. Baru kali ini aku dapat kalung imitasi dan aku bahagia dapetinnya. "
Eko segera membantu Mila memakai kalung di lehernya." Kayaknya aku ketagihan cium kamu." Sinta menutup Bibir Eko, yang akan menciumnya. Sepertinya dia tak sadar ada Radit yang sedang terbengong menatap obrolan mereka.
Sontak mereka tertawa terbahak melihat ekspresi si kecil, mereka mencium pipinya bersamaan.
Dear Readers: Adegan sedihnya kebanyakan nggak? 😋 makasih buat semua readers yang sudah mendukung novel ini hingga sekarang 😍
__ADS_1