
Dengan senyum cerah, Eka berangkat mengendarai mobilnya ke rumah Juminten. Rasanya semakin tak sabar, menunggu hari mereka bisa bersatu dalam ikatan suci.
"Assalamualaikum." ucap Eka.
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
Eka mencium tangan kedua orang tua Juminten dan akan masuk ke dalam rumah ikut membangunkan anak-anak, namun tiba-tiba Udin menghalanginya masuk ke dalam rumah dan membuatnya kaget.
"Udah, mulai sekarang duduk di depan aja. Baru boleh masuk ke dalam rumah kalau udah halal."
Rohaya ikut memanasi Eka, "Emak ambilkan kudapan dulu ya, baik-baik duduk sama calon mertua," ucapnya memanasi calon menantunya.
Eka meremat rambut belakangnya, ekspektasi sejak dari rumah ingin membangunkan Juminten yang masih tidur. Faktanya sudah di gagalkan terlebih dahulu sama kedua orang tua Juminten yang sudah tau kebiasaannya.
Eka pun ikut duduk di gazebo luas yang ada di sebelah parkiran mobil bersama Udin. Tak lama Rohaya menghampiri dengan membawa teh.
"Kasian calon mantu nggak di izinin masuk ke dalam, harap sabar ya. Emak sama Bapak takut, tiba-tiba ada setan lewat eh ngajak nambah cucu. Aduh, urus Planet sama Bumi aja rempong. " sontak Eka cengengesan dengan ucapan Rohaya.
"Pak, teh nya jangan di minum dulu sekarang, ya. Takutnya nanti calon mantu bikin masalah, Bapak nyembur ke muka. Panas deh." membuatnya semakin gelagapan mendengarnya. Rohaya pun meninggalkan mereka berdua.
"Bapak tanya kamu jujur, sejak kapan kamu suka Juminten?" Udin menatap serius.
Eka duduk dengan tegak, menunjukkan keseriusan untuk menjawab, "Sejak jadi Adik Ipar saya, Pak." seperti dugaan Rohaya, Udin pun yang akan meminum tehnya menyembur keras wajah Eka.
Sontak Udin gelagapan dan mengelap wajah Eka yang nampak memerah karena teh yang panas. "Jawaban lu beneran bikin gue kaget."
Eka hanya tersenyum kecut merasakan nikmatnya Pagi ini, dari gagal membangunkan Juminten dan sekarang mendapatkan semburan teh panas dari calon mertuanya.
🍓
🍓
Bumi yang selalu bangun pagi, menarik Boy dan membawanya pulang ke rumah, " Abah! "teriak Bumi sambil menarik Boy dengan tali yang dia bawa.
Eka segera memeluk anak perempuannya yang baru masuk halaman rumah, " Em.. Bau kambing! Belum mandi, ya? "
Bumi menggelengkan kepalanya, "Belum, Bah."
__ADS_1
"Yaudah, Bumi cepetan mandi, Abah yang anterin sekolah hari ini."
"Yeay! Bumi mandi sama Boy dulu ya, Abah tunggu dulu, " teriak Bumi, terlihat binar bahagia sambil berlari ke halaman belakang rumah.
Selagi menunggu calon istri juga anak-anaknya bersiap, Eka menikmati teh yang di sajikan sebelumnya tanpa Udin, Entah kemana Bapaknya saat ini.
Baru 1 tegukan ia di kagetkan suara lengkingan Juminten.
"Ya Allah, Bumi! Ulah apalagi ini? "
Eka segera berlari ke halaman belakang, melupakan aturan yang tadi sudah di berlakukan. Terlihat Bumi sedang mandi di kandang kambing dengan Boy.
"Hai semua!" ucap Bumi santai masih melanjutkan acara mandi pagi dengan hewan kesayangannya.
"Bumi mandi di kamar mandi, sayang. Kalau mandi, jangan di kandang kambing nanti bau, " ucap Eka pelan sambil mengambil peralatan mandi yang sudah berserakan.
Bumi membela, "Bau kandang itu gara-gara Boy jarang mandi, makanya Bumi ajak mandi bareng. Biar nanti Sore, Boy bisa praktekin mandi sendiri." jawabnya santai masih menyikat gigi kambingnya dengan sikat gigi yang dia pakai.
"Pengen nangis liat anakku lebih gila daripada aku!" ucap Juminten lemah.
Melihat jam sudah pukul 6 pagi, namun Planet belum bangun dari tidurnya. Juminten segera berlari meninggalkan Bumi untuk segera mengurus Planet.
"Bangun! Bangun! Nggak bangun, Ibu bakal ciumin kamu. Bangun!" Juminten menggoyangkan tubuh anaknya.
Melihat tak ada pergerakan, Juminten segera mencium berkali-kali ketiak anaknya yang bau asam segar. "Ibu, jangan cium Planet terus, geli nih." teriak Planet frustasi.
"Ih, lucu sampai merinding!" ucap Juminten sambil memegang tangan Planet.
"Ibu cium lagi ya." pintanya.
Planet segera berlari ke dalam kamar mandi, menghindari serangan dari Ibunya kembali.
Juminten tertawa melihat anaknya yang cuek memiliki sisi pemalu dan jaim. Sambil menunggu anaknya, Juminten segera menyiapkan bekal anak-anak juga sarapan untuk mereka berempat, karena bisa di pastikan Eka ikut makan di dalam rumah.
"Iya, Mak! Ampun!" Rohaya menjewer telinga calon mantunya yang nakal, saat melihat Eka sedang menyisir rambut Bumi di dalam kamar.
Bumi yang tak tau permasalahan mereka, menatap cengo Abah nya yang kesakitan memegang telinganya, "Emak kenapa pagi-pagi marah sama Abah?"
__ADS_1
"Iya, karena Abah kamu nakal. Minta di sentil sama Emak an*nya! Biar nggak kapok lewatin batas garis masuk rumah. Udah di bilangin nggak boleh masuk ke dalam, tetep aja masuk,"ucapnya menggebu.
Bumi segera keluar dari dalam kamar, membuat Rohaya menghentikan jeweran telinganya dan mengikuti arah cucunya pergi." Cari apa dia? "
Rohaya dan Eka melihat Bumi sedang mencari sesuatu di pintu Ruang Tamu." Nyari apa Bumi? "tanya Rohaya penasaran.
" Kata Emak tadi, Abah nggak boleh masuk rumah mewati garis batas. Nah, Bumi sekarang cari garis batasnya di taruh di mana? "
" Sudah Emak duga kamu bakal cari, garis batasnya. Emang punya anak umur 5 tahun kudu serba kuat jawab pertanyaan. Ya kayak gini nih akhirnya. "
Rohaya di buat pusing tiap menjawab tingkah bumi yang sudah banyak bertanya.
🍓
🍓
" Oke udah ganteng sama cantik, yuk pamit dulu sama Abah juga Emak." ajak Juminten.
Setelah mereka berpamitan, Eka segera melajukan mobilnya ke TK yang ada di dekat rumah Juminten." Kita pamit berangkat dulu, Assalamualaikum, " ucap Planet dan Bumi menyalimi tangan mereka berdua.
Setelah mereka turun, Eka segera mengajak Juminten pulang, namun tidak kembali ke arah rumah. Membuat Juminten mengernyitkan dahi.
" Mau kemana, Mas?" tanya Juminten.
"Mau ngajak kamu sarapan, kamu pasti belum sarapan." jawabnya.
Bau amis ikan yang sedang di jemur juga di asap, menyapa perjalanan mereka. Juminten segera merangkul tangan Eka, pria ini tau kalau dia sedang membutuhkan waktu untuk berpikir. Dan itu untuk masa depan mereka berdua.
Juminten segera berlari ke arah pantai, keadaan masih sangat sepi membuatnya puas berlari-lari sambil teriak.
Eka memilih mendudukkan tubuhnya di depan mobil, menikmati es degan yang dia pesan.
Tiba-tiba sebuah pelukan hangat datang dari belakang, membuat kaget. "Aku kirain siapa, udah capek lari-larinya?" Eka menyingkirkan rambut yang menghalangi pemandangannya untuk menatap perempuan cantik juga dewasa yang ada di depannya.
"Kenapa kok ngelihatinnya intens gitu?" tanya Juminten di buat salah tingkah.
"Boleh aku cium kamu?"
__ADS_1