Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 47


__ADS_3

Rohaya masih mengingat bagaimana tingkah anaknya saat di berikan terapi. Teriakan, tangisan bahkan tak segan-segan dia akan menyakiti janin yang ada dalam kandungannya. Psikolog memberikannya obat penenang, dan tak lama Juminten pun terlelap.


Tak henti nya Udin mengusap bahu istrinya, memberikan kesabaran dengan cobaan yang mereka hadapi saat ini.


Eka yang sudah memarkirkan mobilnya, segera masuk ke dalam rumah. Hatinya terenyuh, melihat orang tua Juminten tampak sedang kalut memikirkan anak semata wayangnya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Dari mana, bang? Ayo duduk sana! " mereka mengajak Eka duduk di ruang tamu.


"Habis ada urusan sebentar, mak?" jawab Eka sambil mencium tangan keduanya.


Mata Rohaya memicingkan darah di baju yang di kenakannya. "Ini darah apa, bang? Jangan simpan rahasia sama emak! " Rohaya menatap tajam Eka.


Eka pun ikut mendudukkan dirinya di sebelah mereka. Berusaha membuat kalimat yang pas untuk di ungkapkan. "Abang habis hajar adek juga calon selingkuhannya." ucapnya pelan.


"Apa?"


"Abang kalut mak, pak! Abang nggak bisa cuman diam aja! Rasanya separuh hati ini ikut tersayat melihat Juminten frustasi kayak tadi!" Eka menatap langit-langit, menyugar rambutnya kebelakang sambil menariknya.


"Abang malu punya adik kayak gitu!"


Udin yang ada di sebelahnya, mengelus bahunya. "Sudah, bang! Biarkan dia berjalan dengan pilihannya sendiri! Bapak capek urusin ba*ingan seperti dia!"


"Ayo kita mulai sekarang melupakan keberadaannya. Kita mulai fokus dengan kesehatan Juminten juga janinnya."


🍓🍓🍓🍓


Eka benar-benar menepati janjinya, setiap hari dia bertugas menemani Juminten untuk pergi terapi. Dan selalu memberikan nasihat juga perhatian untuk kesehatan Juminten dan janinnya.


Begitu juga dengan Udin dan Rohaya. Mereka hanya memfokuskan dirinya dengan kesehatan Juminten. Mereka sepakat untuk tak pernah membahas Bambang di depan Juminten.


Juminten dinyatakan sembuh setelah menjalani terapi selama 2 bulan, untuk merayakan keberhasilannya Eka mengajaknya jalan-jalan ke danau yang ada di kota mereka.


Senyuman tak pudar sama sekali dari bibir Juminten, malam ini dirinya merasa bahagia bisa merasakan dinginnya udara malam. Melihat lampu lampion yang indah berjejeran di jalan yang mereka lewati membuatnya kagum.


"Sini, deketan! Udah tau hawanya dingin malah jalan nya jauh dari abang." Eka menggenggam erat tangan Juminten.

__ADS_1


"Wah, ternyata Lumayan, bang. Ngurangin dingin malam!"


"Sebenernya aku tadi udah di ultimatum Emak sebelum kesini, nggak boleh ngajak lama-lama. Angin malam nggak baik buat ibu hamil." Tangan Eka menyampirkan jaket yang di gunakan ke tubuh Juminten. "Kamu kenapa kok bahagia banget?"


"Hehe.. Bersyukur punya abang yang selalu dukung semua kegiatan Juminten. Makasih abang!" Eka mengangguk lalu mencium kening Juminten.


Mereka pun berjalan menyusuri danau, suasana yang ramai karena hari minggu membuat mereka kesusahan mencari tempat duduk yang kosong.


Hingga mereka menemukan tempat duduk kosong di bawah pohon maja. "Alhamdulillah, Jumi sekarang harus banyak bersyukur bang?"


"Lah dari kemarin nggak bersyukur?" Juminten menggelengkan kepalanya.


"Bersyukur masih di kasih kesempatan sehat juga memiliki duo gemoy di dalam perut." Ucapnya sambil mengelus perut yang sudah mulai membesar sambil menyenderkan punggung nya di tempat duduk.


Eka pun tersenyum lalu ikut duduk dan mengelus perutnya "Nggak kerasa, loh. Setiap hari abang elus udah segede ini aja! Abang pasti bakal kangen suatu saat nanti. "


"Ciyee.. Yang doyan elus-elus." goda Juminten. "Ngomong apa sih, abang. Abang juga kan tiap hari ke rumah."


Boleh nggak sih, Jum. Gue nembak lu sekali lagi di sisa waktu beberapa hari ini? Gue mau pindah kerjaan di luar kota, Jum. Tapi, rasanya berat mau ungkapin lagi.


"Siap, tuan putri!" Eka menggandeng kembali tangan Juminten.


Mereka berjalan bersama ke gerai jagung rebus, karena antri Juminten memilih melihat aneka permainan anak-anak yang ada disana.


Juminten pun berkeliling sendiri sambil mengelus perutnya. Membayangkan dia dan si kembar akan bermain disana. Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.


Juminten tak sadar, di dekatnya ada orang yang selama ini ia hindari dan ia benci sedang menunggu Radit yang sedang bermain bersama Mala.


Mala yang melihat Juminten di dekatnya, meninggalkan ponakannya di tempat bermain sendirian.


"Hai, Jum!" sapa Mala.


"Eh, Mala! Apa kabar?" Juminten ingin memeluk sahabatnya. Namun, Mala menghindarinya membuatnya mengernyitkan dahi.


"Kenapa? Kaget?" Juminten kaget melihat ketusnya mala dengannya. Membuatnya hampir tak mengenali sosok yang berbicara dengannya.


Juminten memilih diam tanpa membalasnya, membiarkan Mala mengungkapkan semua unek-unek dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa kamu kurang puas mendapatkan semua perhatian dari orang sekitarmu? Bahkan kamu tega merebut perhatian semua sahabatku Farid dan resti juga abangku Bambang!"


"Aku heran, kenapa kamu selalu ada di sekelilingku! Aku bosan lihat kamu! Malah aku bersyukur, keluarnya kamu dari sekolah membuat oksigen di kelas stocknya melimpah!" ucapnya sambil melirik respon Juminten.


"Bahkan hasil di perut kamu." Mala melirik perut Juminten dengan senyum smirk. "Juga tak lepas dari tanganku!So,Nggak usah terlalu bangga kamu! Bambang mau sumbangin spe*manya ke kamu juga karena aku!"


"Kenapa? Kaget? Kaget dengan semua ucapanku?"


"Asal kamu tahu, mantan suamimu tinggalin kamu karena masa depannya denganmu sudah terlihat suram!" Mala semakin menertawakan nasib Juminten.


Dan Juminten hanya menanggapinya dengan senyuman manis. Ternyata selama ini Mala menyimpan dendam dengan nya.


"Maaf bude, sepertinya perlu kita luruskan semuanya!" Juminten menepuk pelan bahu Mala. "Siap-siap sakit kuping, ya! Anda salah cari musuh! " Juminten mengelus perutnya sambil membatin amit-amit.


Menghirup udara segara di danau, lalu menatap orang iri di sebelahnya. "Mendengar semua ungkapan bude membuatku memiliki rasa bersyukur, sudah ditunjukkan sahabat berkedok pelakor seperti kamu!" Juminten melirik sambil senyuman mencibir. "Ah, bukan pelakor calon pelakor kali, ya! Pakai kacamata jangan di matanya doang yang di tempel, tapi nuraninya juga." Juminten menunjuk tubuh Mala tepat di jantungnya.


"Miris sungguh miris, sangat dramastis! Nurani nya menjerit mengemis rasa perhatian juga mengemis pertemanan. Senyuman palsumu menguar dengan berkedok sifat pendiam. "


"Aku banyak teman? Jelas! Karena aku tak menipu mereka dengan mimik wajah!" senyuman


"Jadilah diri sendiri, bude. Ih, boro-boro mikir buat diri sendiri. Sendirinya aja nggak ada habisnya lihat kesempurnaan orang lain!"


"Mau ambil Resti dan Farid silahkan, dengan tangan terbuka saya memberikannya padamu hai pengemis!"


"Dan satu lagi, Bambang masih belum menjadi mantan suami saya! Karena, haram hukumnya menggugat cerai saat hamil!"


"Permisi, Putri kaya perhatian lewat!"


Ungkapan skakmatt Juminten membuat Mala semakin membencinya, bahkan tangannya mengepal ingin rasanya mencakar juga menjambak rambut ibu hamil tersebuy kalau tak mengingat tempatnya ramai orang.


Bahkan orang yang ada di sekitar Mala melirik Mala dengan tidak suka, sepertinya mereka mendengarkan obrolannya dengan Juminten.


Bambang yang melihat Juminten dengan perut besarnya lewat di depannya, merasa ingin berlari mengejar lalu memeluknya. Rasa rindu pada istrinya menggebu. Tapi, mengingat ungkapan talaknya membuatnya urung mendekatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan remehkan orang pendiam, ingat satu hal, pemangsa berbahaya itu tidak menggonggong.

__ADS_1


__ADS_2