Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 66


__ADS_3

Mila merenung memikirkan nasib Adiknya yang tertangkap polisi. Masih tidak percaya dengan berita Adiknya yang menjadi seorang psychopat. Ia tak menyangka jiwa dendam Adiknya yang membara, menyebabkan dia menjadi seperti itu.


Karakter sifat Adiknya yang pendiam dan sering tertutup membuatnya susah untuk membuka semua masalah yang dia pendam. Terkadang membutuhkan beberapa waktu untuk bisa mengajaknya berbicara.


Melihat Mila melamun, Eko segera mendekatinya, "Ingat kata Dokter, kamu jangan banyak pikiran. Harus sehat, demi Radit juga aku. Biarkan Mila menjadi urusan polisi, kita serahkan semua yang terbaik pada mereka." Mila menoleh, menatap suara lelaki yang sedang menggendong anaknya.


"Kamu nggak pengen nganter Radit sekolah? Terus tiap sore, nyambut aku pulang kerja."


Mila menggeleng, "Aku mohon tinggalkan kami, sebelum aku makin jatuh cinta terlalu dalam dengan perhatianmu. Masa depanmu dengan kami tak akan bahagia," air matanya mulai jatuh kembali, "Kamu juga pasti malu punya istri mantan perempuan liar."


Eko meletakkan Radit di atas play kit nya, membiarkan bocah itu bermain sendirian.


"Kamu yakin mau aku pergi?" tanya Eko.


Mila menganggukkan kepalanya mantap, walau batinnya berkata tidak. "Asal kamu tau, orang tuaku bercerai saat aku berumur 8 tahun, karena dulu mereka sama-sama selingkuh. Tak lama, aku mendengar kabar mereka yang akan menikah dengan pasangan selingkuhannya. Aku kira dengan menyetujui mereka menikah lagi, mereka akan tetap menomer satukan kami. Ternyata tidak, mereka melupakan kami. Mereka hanya rutin mengirim uang dan menganggap semua uang yang selalu masuk ke rekening kami cukup untuk membeli kebahagiaan kami!"


Eko memegang tangan wanita yang ia cintai, menatap dalam bola matanya. "Kalau kamu nggak kuat nggak usah di ceritain. Lebih baik, ayo kita membuat cerita kita bertiga, bersamaku saat bahagia maupun sedih. Maaf, aku bukan anak orang kaya. Tapi, aku janji akan melakukan apapun untuk bisa membahagiakan kalian. " ucapnya serius.


Mila berusaha tak terpancing dengan rayuan pria di depannya," Ada satu hal lagi yang masih aku rahasiakan kepada semua orang hingga saat ini. Aku yakin setelah kamu mendengarnya, kamu semakin jijik denganku. "


Dia menarik nafas dalam, "Sampai sekarang, aku tak tahu siapa Ayah Radit!" ucapnya serius.


Eko berusaha mencari kebohongan di dalam matanya, "Apa dia anak hasil dari pekerjaanmu tiap malam?" ucapnya pelan.


Mila menggeleng ribut, "Bukan, Mas. Pekerjaan ini aku lakukan sejak aku habis melahirkan." jawabnya dengan memejamkan mata, " Aku sendiri tak tahu bagaimana kejadiannya saat itu. Yang aku ingat, dia menolongku saat aku kabur dari pacarku, karena hujan akhirnya kami memilih teduh di rumah entah milik siapa. Aku yang terpengaruh alkohol dan obat perangsang dari pacarku, memberikan virginku secara sukarela untukโ€”."


"Ssst.." Eko mengode Mila agar diam, "Siapapun kamu, apapun masalah kamu dan kekurangan kamu. Aku menerimanya," Matanya berbinar mendengar ungkapan serius lelaki ini.

__ADS_1


Eko mencium telapak tangan Mila, "Aku mohon, menikahlah denganku. Dan aku menerima penolakan!"


Sontak Mila tersenyum kecut, "Ih, gila! Gagal romantis Mas, masa nyatain cinta kayak maksa gitu. "


"Iya, Aku gila karena cintamu." Eko mencium dalam-dalam bibir manis Mila, mengacuhkan bau tak sedap, karena tak sikat gigi beberapa hari. Ia yang memang sudah lihai melakukannya, sangat mudah membuat kekasih barunya ah bukan kekasih tapi calon suaminya mabuk kepayang.


Sinta yang baru masuk ke kamar, segera menutup matanya. "Ehem.. Maaf ijin mengganggu sebentar waktu kalian ciuman. "


Eko segera melepaskan ciuman mereka, lagi-lagi si pengganggu merusak momen mereka.


Mila membuka sedikiti matanya, melihat mereka sudah selesai adegan ciumannya. Ia pun membuka kembali matanya, "Sorry elah, langsung cemberut gitu. Mila siap nggak ketemu Bos sekarang? Mereka pengen ngobrol sama lu bahas masalah Mala."


Mila meminta persetujuan Eko dengan menatapnya tanpa suara, dan di jawab anggukan. "Aku temenin sayang."


"Iya, Mila siap Sin. Eh, gimana kabar Miss udah sadar?" tanya Eko.


"Nothing!" jawabnya lesu. "Udah ayo, buruan di kelarin. Gue habis ini balik ke panti nih, udah malem."


"Permisi, Mbak Mila. Salam kenal saya Udin, Bapak Juminten. Ini istri saya Rohaya."


"Oh...iโ€”iya,pak."


Sinta segera mengajak Radit keluar dari ruangan, agar obrolan mereka bisa serius,"Keluar jalan-jalan sama Tante, yuk!"


"Saโ€”ya Mila, saya kembarannya Mala." ucapnya gagap.


Eko yang melihat Mila berusaha duduk melarangnya. "Udah nggak apa-apa, beliau sudah tau sakit kamu kok, yang."

__ADS_1


Udin menarik nafasnya, "Maaf Mbak Mila, saya mohon izin ingin menaikkan pidana yang sudah di lakukan Mala kepada anak saya ke ranah polisi, karena mengingat perlakuan Mala kepada anak saya sudah sangat keterlaluan. Dan saya sebagai orang tua Juminten memohon maaf, bila anak saya memiliki banyak salah kepada Mala. "


Rohaya mengelus bahu Mila, " Nak, Ibu mohon keikhlasanmu mewakili Mala, memaafkan kesalahan Juminten. Karena, anak Ibu saat ini sedang koma!" Rohaya tak kuasa menahan tangisannya.


Melihat Rohaya menangis, Milapun ikut menangis "Tolong maafkan Adik saya, Bu. Mala haus akan perhatian semua orang karena lingkungan kami tak ada yang memberinya."


Mila menarik tangan Rohaya yang di dekatnya, "Saya juga mohon maafkan adik saya Mala atas semua yang selama ini terjadi. Saya kakak yang tak berguna, bisa lepas kontrol dan tak mengetahui keinginan adik saya."


๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“


"Dari mana saja kamu?" Dodit menatap tajam Sinta yang baru turun dari motor maticnya.


"Apa urusannya sama kamu?"


Terlihat mata nyalang Dodit mendengar ucapan gadis di depannya, "Kamu bilang apa? Kamu bilang bukan urusanku? Seharian Rena menangis mencari kamu! Nyatanya kamu malah keluyuran hingga dini hari, Gaโ€”"


"Ibu!" Rena segera berlari memeluk Ibunya sambil mengucek mata.


"Eh, anak Ibu bangun, bubuk yuk. Kita tinggal papa kamu, yang bisanya cuman marah-marah."


Badannya yang lelah membuatnya memilih segera menjauh dari Dodit dengan menggendong Rena. Mengacuhkan semua teriakan juga bualan lelaki tersebut.


" Dari mana kok malem, hmm.. " Tanya Mama Neneng, melihat calon mantunya baru datang.


Sinta memeluk mamanya, "Maaf, temenku ngamar Mama. Jadi, aku tadi temenin dulu sampai masalah clear."


"Yaudah, kamu mandi sana."

__ADS_1


Sinta segera meletakkan anaknya di kamar, dan memilih mandi di dekat dapur. "Mampus, gue lupa nggak bawa baju! " Melihat kondisi dapur yang sepi, dia segera berlari dengan hanya memakai handuk.


"Aaa..." Sinta yang akan terjatuh karena terpeleser tiba-tiba ada tangan yang menangkapnya. Sejenak mata mereka saling berpandangan, namun suara rengekan Rena menyadarkan mereka. Ia segera berlari masuk ke dalam kamar, mengacuhkan lelaki yang sedang panas dingin melihat penampilannya.


__ADS_2