Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 70


__ADS_3

"Planet Tata Surya!"


" Gaya Gravitasi Bumi!"


Sontak mereka menoleh pada Ibunya yang sedang membawa kemucing dari dalam rumah. Bukannya mereka takut, dengan cepat mereka membawa cacing tanah yang akan menjadi santapan ikan mereka.


Juminten segera berlari ke halaman rumah, "EMAK..! TOLONG! KRUCIL IBU GELI! KRUCIL JIJIK! " teriaknya.


Rohaya yang sedang asyik menyapu halaman rumah, karena sudah Sore Hari. Segera menghentikan kegiatannya saat mendengar jeritan anaknya.


"Ya Allah Gusti..! Nggak Ibu, Nggak Anak. Tiap hari mesti bikin rusuh." Juminten segera memilih bersembunyi di belakang Emaknya.


"Emak tiap mau nyebut nama kalian berdua rasanya mesti gatel mulu nih lidah. Untung muka kalian cakep! " gerutunya, "Planet Bumi taruh cacing di tanah! Kalau nggak, itu Ikan Gurami punya kalian, Emak jual ke pasar besok pagi!"


Juminten menjulurkan lidahnya kepada si kembar yang suka jail. Sontak mereka dengan lemas menaruh cacing yang sudah di bawa ke tanah. "Nggak seru, ah!" ucap Planet.


"Hu... Dasar! Ibu pengecut!" saur Bumi dengan segera berlari mengejar kakaknya yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Gue tau siapa biang keroknya!" Juminten segera berlari menemui trio cecunguk yang ada di ruang tamu.


Brak!


"Siapa yang nodai anak gue bisa dapat kosakata pengecut kayak gitu! Ngaku!" Juminten menggebrak meja di ruang tamu, wajahnya memerah di tambah emosi, membuat ketiga tersangka segera diam dan hanya mengerjakan tugas mereka.


Si kembar sudah berumur 5 tahun, sedangkan Ibunya berumur 23 tahun. 5 tahun sudah, Juminten menjalani hari-harinya menjadi single parent sukses. Memilih melanjutkan bisnis online kedua orangtuanya di rumah, agar tak tertinggal tumbuh kembang si kembar sedetikpun.


"Bukan gue, Miss. Berani sumpah! Noh, Eko yang kemarin ngucapin pengecut!" Tunjuk Candra pada temannya.


Eka menggerakkan tubuhnya, tanda menolak tuduhan yang Candra berikan, "Enak aja gue, noh calon bojo gorila kemarin yang bilangin gitu!" mata nya melirik Sinta yang ada di sebrangnya.


Plak!


Sinta segera melempar botol minuman kosong yang ia bawa, "Enak aja! Gue kan keceplosan ngomong kenyataan. Pas kalian bahas pas Miss masih merem dulu, kan emang tuh cowok nyatain cinta sehari bisa 100 kali. Eh, pas Miss sadar dia diem aja ngebisu, jadi ya nggak salah dong gue langsung cap pengecut. " ucapnya dengan mengibaskan rambutnya yang menghalangi pandangan.

__ADS_1


Juminten menjambak rambut Sinta yang sudah tumbuh panjang," Gedek gue, liat lu sok kecentilan pakai wig kayak gini. Lepas nggak!" goda Juminten.


" Astaghfirullah! Miss sakit! " teriak Sinta sambil memegang rambut aslinya.


"Haha.. Sokor!" Eko dan Candra serentak menertawakan penampilan Sinta saat ini.


"Kan gue harus cantik juga totalitas, Miss. Alhamdulillah, pekerjaan tambahan gue sekarang, bisa buat nambah pemasukan Panti. Kan lumayan."


Saat mereka asik mengobrol, ada seorang pria masuk dengan diam-diam dan ikut duduk di belakang Juminten. Pria pengecut yang sedang mereka bahas, karena selama 5 tahun dia mencintai Juminten dalam diam.


Trio cecunguk selalu mendukungnya untuk menyatakan cinta, namun kembali lagi prinsip pria ini membiarkan Juminten merasakan cintanya dengan caranya.


"Ayo sinta kita berangkat. Habis ini udah mulai eventnya. " mereka terkejut ada sosok Eka yang duduk di belakang Juminten, sedang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Ehem.. Awas ada yang cemburu, Mas." sindir Candra, melihat Juminten masih cengo menatap pria yang ada di belakangnya.


"Eh, Mas udah dateng, yuk. Duluan semua." Sinta segera berdiri dengan menggandeng tangan Eka.


Akhir-akhir ini, mereka sering jalan berdua bersama, karena mereka satu pekerjaan.


Juminten hanya mengangkat bahunya, masih sulit membuka hatinya untuk yang lain. Fokusnya saat ini hanya membahagiakan si kembar bersama kedua orang tuanya.


"Abah ikut!" teriak Bumi melihat Abahnya yang akan pergi.


Mendengar suara anaknya, Juminten segera berlari ke depan rumah.


"Dasar cewek, bilangnya nggak naksir. Tuh liat, langsung adem panas liat cowok yang dia taksir jalan sama Sinta. Apalagi anaknya dekat sama cowoknya. Emang--" Eko memegang bibir Candra agar tak bisa berbicara.


"Berisik! Lu sendiri liat Resti temennya Miss juga adem panas. Mentang-mentang dia gagal nikah sama orang Arab. Tiap di tawarin Miss buat deketin dia, mesti alesan mulu. Padahal mah aslinya nggak nolak!" sindir Eko.


"Berisik lu! Eh, gimana kabar Mila? Udah ada kemajuan belum?" Eko hanya bisa tersenyum, pasrah dengan rumah tangganya yang dia jalani.


Candra kembali diam, virus yang menyerang istri temannya membuat dia belum bisa berjalan dengan baik hingga saat ini. Eko menjadi seorang Ayah juga Ibu untuk anaknya Radit, karena Mila yang kadang temperamental stres menghadapi penyakitnya.

__ADS_1


" Udah, jalani aja. Gue aja semangat!" Eko kembali meneruskan pekerjaan mereka yang masih menumpuk.


Rohaya berlari ke depan melihat kedua cucunya yang ingin ikut Abahnya keluar. Terlihat Juminten menghalangi jalan si kembar agar tak bisa keluar dari rumah.


" Udah, lu ikutan aja. Sekalian ganti baju sono" perintah Rohaya.


"Ndak Mak, tadi Juminten udah terlajur janji sama Mas Dodit buat ngajak mereka jalan-jalan." ucapnya dengan masih menahan tubuhnya. "Di rumah aja krucil, habis ini kita sama Kak Rena jalan-jalan sayang."


"Emang Dodit udah pulang dari Cina?" tanya Sinta, yang di jawab anggukan kepala.


"Ogah kita jalan sama titisan gorila!" jawab Planet.


"Heh, astagfirullah krucil. Itu bibir kalian Ibu laminating loh, ya! Ya Allah.. anak siapa ini?" sontak Juminten.


"Anak Ibu!" jawab mereka serentak.


"Aku hamil lupa amit-amit kali, ya. Kok bisa mereka punya sifat kayak Emak." sontak Rohaya menjewer telinga anaknya yang terlalu jujur dan membuat tertawa semua orang.


Eka pun segera menggendong kedua anaknya, memberi kecupan di kedua pipinya. Sejak Bambang memilih pergi menjauh dari kehidupan si kembar, otomatis dia yang selalu menemani mereka juga ibunya.


"Abah kerja nak, Abah cari uang buat susu kalian. Kalau Abah libur kerja, Abah janji ajak kalian jalan-jalan sama Ibu. Oke!"


"Kalau Bumi minta Abah bobok sama kita tiap hari bisa?" dengan centilnya Bumi menatap Abahnya dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Itu mata kelilipan ya, sini Ibu tiup. Biar kabur virus centilnya." sindir Juminten.


Sinta tertawa cekikikan mendengar ungkapan si kembar, yang mempraktekkan semua ucapan yang sudah dia ajari tadi pagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab mereka serempak.


Dodit membuka kaca mata hitamnya yang bertengger di matanya, tatapan mata pertamanya menatap Sinta yang berdiri di depannya. Menjadi sosok yang cantik dengan rambut hitam panjangnya yang terurai, menambah kesan manis penampilannya.

__ADS_1


"Ha-Hai." gagapnya menyapa Sinta.


Sinta mengacuhkannya dan memilih memeluk adik asuhnya yang ada di sebelah Dodit. "Rena..Ibu rindu!"


__ADS_2